
Perjalanan yang menghabiskan waktu 30 menit, akhirnya mereka sampai di panti asuhan.
"Ayo kita turun." ajak Angga melepaskan sabuk pengaman.
Mereka semua turun dari dalam mobil.
Laura melihat Ibu Aminah dan anak-anak lainnya sudah menunggu di depan rumah, mereka sudah mengetahui hari ini Renggra akan melamar Laura.
Ibu Aminah sudah tau siapa Renggra, karena Renggra sering ke panti asuhan menyamar menjadi orang biasa tanpa sepengetahuan Laura.
Laura langsung berjalan menghampiri Ibu Aminah.
"Bu, kenapa jadi banyak hiasan begini seperti ada acara aja?" Laura pura-pura tidak tau.
"Masa Nak Renggra nggak ngasih tau kamu kalau hari ini acara lamaran?" tanya Bu Aminah.
"Ibu kenal dengan Mas Renggra?" tanya Laura tanpa menjawab pertanyaan bu Aminah.
Ibu Aminah hanya diam saja tanpa menjelaskan.
"Ayo Bu Ani, Nak Angga dan Nak Renggra masuk dan silahkan duduk." Bu Aminah mengalihkan ke pembahasan lainnya.
"Iya Bu." jawab Bu Ani dengan tersenyum.
Mereka semua masuk dan duduk di ruang yang telah di sediakan, dengan alas karpet berwarna merah.
"Saya sebagai juru bicara dari Renggra, datang ingin melamar putri anda bernama Laura." ucap Angga. "Sekiranya apa Ibu, dan semua yang ada di sini menerima lamaran dari kami?"
Senyum Bu Aminah. "Kami semua, menerima lamaran dari Nak Renggra untuk menikahi Laura." setujunya langsung.
"Alhamdulillah," ucap Angga. "Kalau begitu, terimalah mahar dan mas kawin yang kami bawa." Angga melihat scurity di depan pintu. "Pak, bawa masuk ke sini."
"Iya, Tuan." jawab scurity.
Mereka saling bergotong royong membawakan semua yang telah siapkan di tengah-tengah mereka.
Laura yang melihat banyaknya bawaan, mulai dari emas, tas, pakaian, sepatu, dan lain-lain.
"Banyak banget." ucap batin Laura.
"Ini sebenarnya terlalu banyak, nak Angga." ucap Bu Aminah.
"Sekali seumur hidup Bu, lagian ini tidaklah berat bagi kami." jawab Angga.
"Kalau memang begitu terimakasih, atas pemberian dari pihak keluarga Nak Renggra." ucap Bu Aminah. "Nanti ini semua saya kirim ke rumah Nak Renggra sehari sebelum ijab kabul." jelas Bu Aminah, mengatakan itu semua hak Laura.
"Iya Bu, nanti kabari saja. Kami akan bantu." jawab Angga.
Angga melihat Renggra. "Ayo Reng, pasangkan cincinnya."
Senyum Renggra, mendekati Laura yang duduk di hadapannya.
Mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dan membukanya.
"Mana tangan kamu, Ra?" tanya Renggra.
"Ah iya." Laura mengangkat tangannya ke arah Renggra.
"Kamu mau nggak, menikah dengan, Mamas?" sebelum Renggra memasangkan cincin di jari manis Laura.
Deg!
Laura merasa jantungnya mengadakan tumpengan, secepat ini dirinya menikah dengan laki-laki yang asing baginya.
__ADS_1
"Kenapa melamun?" tanya Renggra kembali.
Laura tersadar dari lamunannya. "Ah i-iya aku mau, Mas." senyumnya terpaksa.
Renggra tersenyum, mulainya memegang tangan Laura dan memasukkan cincin di jari manis Laura. Kameramen sibuk memfoto dan membuat video.
"Sekarang Laura yang memasangkan cincin di jari Renggra." ucap Angga.
Laura mengikuti arahan, dirinya mengambil cincin yang terletak di kotak yang di buka Renggra tadi.
Renggra mengangkat tanganya, Laura langsung memegang tangan Renggra dan memasangkan cincin di jari manis Renggra.
"Alhamdulillah." semua orang berucap.
"Baiklah acara lamaran kita berjalan dengan lancar, semoga sampai hari yang kita tunggu-tunggu, berjalan dengan semestinya." ucap Angga. "Kami semua pamit pada Ibu dan Bapak, karena sebentar lagi Renggra akan mengadakan rapat, harap maklum kami tidak bisa berlama-lama." sambung Angga.
"Iya Nak Angga. Ibu berterimakasih atas niat baik dari nak Renggra dan keluarga." ucap Bu Aminah yang menjadi juru bicara dari pihak Laura.
"Iya Bu, sama-sama." ucap Bu Ani.
Semuanya berdiri, sedangkan Laura hanya diam masihnya duduk. Laura pikir setelah acara selesai, dirinya sudah kembali ke panti asuhan.
"Nak, kenapa kamu diam saja?" tanya Bu Aminah.
"Emang mau kemana, Bu?" Laura bingung.
"Ya kamu ikut Nak Renggra pulang." jawab Bu Aminah.
"Nggaklah Bu, acara lamaran udah selesai. Berarti Laura tinggal di panti sampai akad nikah." jawab Laura santai.
"Nak, acara di langsungkan di rumah Renggra, bukan di sini. kamu tetap ikut dia." ucap Bu Aminah.
"Berarti Laura nggak bisa bertemu Ibu lagi?" merasa terkejut.
"Kenapa acara ijabnya nggak di sini?" Laura masih bingung, biasanya kalau ijab kabul di rumah mempelai wanita, lihatnya pada teman-teman yang telah mendahuluinya.
"Nak Renggra yang minta." jawab Bu Aminah.
"Ehem!" suara Renggra memberi kode pada Laura.
Laura yang mendengar, mengerti maksudnya.
"Baiklah Bu kalau begitu. Laura sekarang tinggal di rumah Mas Renggra, nggak di panti asuhan bersama kalian lagi. Ibu jaga kesehatan, jangan sampai sakit. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku ya, Bu." Laura melihat anak-anak panti. "Nanti kalian semua datang ya di acara pernikahanku?" mata Laura sekilas membendung.
Semua orang yang berada di panti asuhan tersenyum dan menganggukkan kepala, melihat Laura.
"Assalamu'alaikum." ucap serentak Laura, Angga, Bu Ani, dan Renggra.
"Waalaikumussalam." jawab serentak semua orang yang berada di panti asuhan.
Jalan ke arah mobil.
Ceklek!
Bu Ani dan Laura duduk di belakang, sedangkan Renggra di samping Angga yang membawa mobil.
Dup!
Mobil melaju perlahan, pergi meninggalkan lingkungan panti.
"Bu, hari sudah siang. Aku juga sudah memesan tempat. Kita makan dulu." ucap Angga.
"Dimana?" tanya Renggra.
__ADS_1
"Bentar lagi sampai, enak rendang di sana." jelas Angga.
"Bebek ada nggak?" tanya Renggra.
"Lengkap." jawab Angga tersenyum.
"Wah kalau lengkap ke sana aja," sambung Bu Ani.
"Siap, Bu." jawab Angga.
Laura hanya diam, masihnya meratapi nasib.
10 menit mobil berenti di depan restoran.
Ceklek!
Mereka semua turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam restoran yang di sambut oleh beberapa pelayan dan manager di sana. "Mari bapak dan ibu saya tunjukkan tempatnya."
"Iya, Pak." jawab Angga.
Mereka berempat sempatnya menjadi tontonan para warga yang sedang makan, berjalan ke ruang VVIP yang telah di siapkan.
"Silahkan menikmati." ucap managernya langsung.
"Iya, Pak." jawab Angga.
"Ayo duduk." ajak Renggra pada Angga, Laura, dan bu Ani.
Laura melihat makanan lezat di hadapannya, membuat salivanya hampir menetes.
"Ayo Ra makan, jangan di lihatin aja." perintah bu Ani.
Laura tersadar. "Ah iya, Bu." mulainya memegang sendok mengambil makanan.
"Hmmm, enaknya ya Tuhan. Nikmat mana lagi yang ku dustakan." ucap batin Laura saat memasukkan makanan mahal itu ke dalam mulutnya.
"Ra, Bu. Malam ini aku dan Angga nggak pulang. Kami berdua akan berangkat ke Amerika, ada urusan pekerjaan yang harus kami selesaikan sebelum acara resepsi." ucap Renggra, dirinya melihat Laura. "Ra, soal acara pernikahan semua telah di siapkan, kamu tunggu aja di rumah, nanti pulang bersama Bu Ani, sedangkan aku dan Angga akan menggunakan mobil yang lain." sambung Renggra.
"Iya, Mas." jawab Laura.
"Jangan ada lagi niat untuk kabur." pesan Renggra.
"Kalau masih, Mas?"
"Mamas gantung kamu di atap rumah." canda Renggra.
"Nggak sekalian buat pajangan, Mas?" tanya Laura.
"Hmmm, boleh juga."
Uhuk uhuk uhuk.
Angga terbatuk melihat Renggra yang sudah akrab dengan Laura.
"Aduh Ga, hati-hati makannya. Nih minum dulu." Bu Ani khawatir melihat Angga, dirinya langsung menyerahkan cangkir berisi air putih.
Angga langsung mengambil dan meminumnya.
"Elu kenapa, Ga?" Renggra merasa aneh dengan Angga yang tiba-tiba batuk akibat makanan.
"Khem!" Angga mencoba melegahkan tenggorokannya. "Nggak apa-apa." jawab Angga.
Bersambung...
__ADS_1