Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 38 Impoten


__ADS_3

Sore hari Renggra dan Laura baru pulang kerumah, di akibatkan Laura masih sakit tadinya, saat minum obat pereda nyeri Renggra yang membelikan, Laura cepat pulih. "Assalamualaikum." ucap kedua pasutri yang baru pulang, masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumussalam." ucap serentak yang duduk berkumpul di ruang tengah.


"Gimana Reng, hadian semalam?" Bu Ani segera mengakui perbuatannya.


Renggra dan Laura langsung berhenti, di dekat Bu Ani.


"Jadi ini ulah Ibu, yang melakukannya?" Renggra sudah tau, ingin marah tapi tidak bisa.


"Hmmm, itu kado kami untukmu. Selepas pulang dari luar kota." meletakkan majalah ke atas meja. "Duduklah di sini." perintah Bu Ani.


Renggra dan Laura mengikuti perinta Bu Ani. "Gimana kalau wanita itu, bukan Laura Bu?" Renggra menghembuskan nafas, mengatur emosi.


Senyum Bu Ani dan lainnya merasa berhasil. "Tenang Reng, sudah di atur dengan ketat." Bu Ani menaikkan alis sesekali.


Renggra merasa keluarganya, kurang kerjaan mengurusi hubungan rumah tangganya. "Kalian nggak kasian apa?" Renggra melihat Laura. "Laura semalaman mengipasi Aku."


Bu Ani menyipitkan ke dua mata, kurang percaya. "Yakin, Reng?" terus memojokkan kedua pasutri.


Angguk Renggra, yang ingin membalas kejahilan mereka. "Hmmm, tanya aja sama Laura." Renggra melihat ke Laura mengedipkan matanya memberi kode.


Bu Ani menaikkan alis. "Iya apa, Ra?" taunya Laura tak pernah berbohong.


Laura bingung ingin berkata bohong takut dosa, nggak di turuti takut Renggra marah. Ia terpaksa menganggukkan, mengatakan bahwa ucapan Renggra benar.


Bu Ani menarik nafas, memegangi kepalanya. "Percuma, ngasih hadiah kalau memang yang salah ada pada anakku." merasa semua di lakukannya sia-sia.


Angga dan Amel hanya bisa tersenyum-senyum tidak ikut campur, nanti salah plus tambah imbasnya.


Diam dan tersenyum lebih baik.


Renggra menarik tangan Laura. "Emang salah di Renggra Bu, hari ini jangan ganggu Laura, dia butuh istirahat. Sudah bantu ngipasi semalaman dan nggak tidur." cukup memberi kode.


Bu Ani tersenyum-senyum, entah itu kodenya berhasil atau tidak. Namun, ia merasa sepertinya berhasil. "Semoga anakku dan istrinya cepat di karuniai cucuku, Aamiin." ucap batin.


"Ayo Yang."


"Tapi Mas-"


"Ikut."

__ADS_1


"Ah iya Mas." Laura melihat Bu Ani. "Aku ikut raja hutan dulu Bu." sempatnya bercanda.


"Hahahaha...." Amel tertawa puasa, mendengar Laura menyebut Mamasnya raja hutan.


"Yang." kesal Renggra.


"Iya raja hatiku." jawab Laura gombal.


"Uwek..." Amel terlihat mual mendengar Laura gombal.


"Ayo permaisuriku," Renggra ikut memanasi Bu Ani, Angga dan Amel dengan berdiri.


"Ayo kandaku." Laura semakin bahagia menyeimbangkan permainan Renggra.


"Nggak yakin gue, semalam hanya ngipasi aja." ucap Amel.


"Sama Ibu juga." sambung Bu Ani.


"Sepertinya mereka berdua lupa ada kita di sini." Angga ikut berkomentar.


"Udah Yang, jangan dengarin netizen berbicara." Renggra menarik tangan Laura.


"Iya Mas." Laura tersenyum-senyum melihat Bu Ani, Amel, dan Angga.


"Terserah," jawab Renggra.


Bu Ani, Angga, dan Amel tersenyum-senyum.


"Banyak banget perubahan Renggra semenjak nikah dengan Laura ya Bu." ucap Angga melihat Renggra dan Laura naik ke lantai atas.


"Hmmm, semoga Renggra melupakan masa lalunya." sambung Bu Ani.


"Dan semoga Mamas ku tidak jadi raja iblis lagi, pusing aku." ucap Amel.


"Sama, Mamas juga begitu. Apalagi melihat Renggra mengeluarkan taringnya kalau salah kerja, hmmm, seram." ucap Angga.


"Emang di kantor gitu ya Mas?" tanya Amel pada Angga.


"Jangankan gue, Nova ketua Mafia aja bisa tunduk sama Renggra. Auranya itu seram." ucap Angga menakuti.


"Tapi kenapa Mas Renggra lembut pada Mbak Laura, sampai tunduk gitu?"

__ADS_1


"Itulah namanya cinta." sambung Bu Ani.


"Aku takut aja, kelemahan Renggra di ketahui musuh di luar sana." Angga merasa was-was.


"Emang siapa musuh Mas Renggra?"


"Paman lu yang gila harta itu," jelas Angga.


"Si tua bangka itu." ucap Amel kesal, membahas pamannya adik tiri Ayahnya.


"Siapa lagi?"


"Intinya kalian berdua harus menjaga kelemahan Renggra." perintah Bu Ani. "Jangan sampai Renggra trauma lagi di sentuh siapa pun. Pusing Ibu menutupi gosip Renggra yang membahas segala macam isu." sambung Bu Ani memegangi kepalanya.


"Iya yah, Mas Renggra nih aneh. Masa lihat almarhum Ayah dan Bunda bertengkar begitu langsung trauma."


"Iya kamu nggak lihat keadaannya Mel." ucap Bu Ani. "Kalau lihat juga gitu, yang Renggra nggak mau di sentuh wanita, yang kamu nggak mau sama laki-laki. Jangan-jangan sampai sekarang kami belum nikah, gara-gara hal itu, hanya saja di tutupi dari Ibu dan Angga."


"Ih Ibu fitnah Amel." Amel melihat Angga. "Mas Angga nih, kapan juga nikahi Amel?" sindirnya.


"Besok!" jawab Angga.


Amel tersenyum. "Serius Mas?"


"Besok, besok, besok, besok, terus sampai kiamat." Angga berdiri malasnya berdebat dengan Amel, dirinya pergi ke arah kamar.


"Dasar Impoten." teriak Amel.


"Apa?" Angga yang mendengar perkataan Amel merasa tersinggung kembali dirinya mendekati Amel.


"Emang iya." Amel berdiri menantang Angga.


"Elu tuh yang Impoten." Angga kembali mengatai Amel.


"Mamas tuh,"


"Udah-udah, pusing Ibu lihat kalian berantem gini. Lama-lama tak nikahi juga kalian berdua." kesal Bu Ani.


"Apa?" Angga terkejut.


"Bawalah Bu, biar Amel kasih pelajaran sudah nikah. Biar nggak Impoten." Amel semakin bahagia, Bu Ani mau menikahinya dengan Angga.

__ADS_1


"Ih," Angga terlihat kesal, dirinya langsung meninggalkan Bu Ani dan Amel di ruang tengah.


Bersambung...


__ADS_2