Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 50 Siomay


__ADS_3

Bersandar di kursi sofa ruang tengah, menarik nafas legah. Dengan wajah yang tersenyum akhirnya Renggra bisa tidur dengan Laura malam ini.


Angga melihat wajah Renggra sedang tersenyum-senyum sendiri, melihat televisi yang tidak menyala, membuatnya merasa aneh. "Apa sih yang di pikirkan Renggra?" ucap batin Angga.


Sadar Renggra yang di perhatikan Angga. "Kenapa elu, lihat-lihat gue?"


"Aneh lihat elu, senyum-senyum nggak jelas." jawab Angga sambil mengambil koran di atas meja.


"Biarin, yang penting gue bahagia." bela Renggra


"Assalamualaikum." serentak Amel, Bu Ani dan Laura ucapkan saat masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumussalam." jawab Renggra dan Angga dengan tersenyum.


Laura melihat Renggra merasa ilfeel itu muncul, dirinya langsung melihat Bu Ani dan Amel. "Aku ke kamar dulu ya Bu, Mel. Mau istirahat."


Angguk, Bu Ani dan Amel.


Laura berjalan cepat ke kamar.


Renggra yang melihat Laura telah pulang hatinya merasa bahagia, tiba dirinya bingung Laura tidak lagi menyapanya. Berjalan cepat masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu, membuat Renggra semakin kebingungan.


Angga menahan tawa. "Kasian deh, nggak di hiraukan lagi" mata yang fokus di selembaran koran.


Bu Ani menepuk bahu Renggra, sambil berjalan. "Sabar, ya Reng." lanjutnya masuk ke arah kamar.


Amel tersenyum-senyum, juga kembali ke dalam kamar.


Setiap hari Laura selalu di jauhi oleh Renggra. Dirinya benar-benar sudah pasrah dan kesal, melihat respon Renggra yang di dekati marah di dekati lagi menjauh.


Sekarang giliran Laura yang benar-benar menjauh.


Renggra berdiri, mendekati kamar Laura.


Membuka pintu kamar Laura, ternyata di kunci dari dalam. Renggra merasa kesal sendiri melihat Laura mengunci pintu, agar tidak ada yang masuk ke dalam kamarnya.


"Bi Siska, Bi..." pekik Renggra.


"Iya, Tuan. Ada apa?" Bi Siska berlarian mendekati Renggra.


"Tolong, carikan kunci kamar Laura." pinta Renggra.


"Bukannya, kunci kamar Nona Laura di bawa semua ke dalam."


Renggra menarik nafas panjang, memejamkan mata. Memegangi kening, dirinya bagaikan terkena karma, di dekati Laura yang susah payah mendekatinya, sekarang di jauhi Laura saat ingin mendekat ke arahnya.


Malam menunjukkan pukul 9:30, perut Laura keroncongan. Cacingnya seperti sedang menari-nari meminta makan, lidahnya juga ingin sekali makan yang manis, kejal, ada sayur, dan kacang.


Semakin hari mulut Laura tidak ingin makan masakan rumah, inginnya membeli makanan di luar.


Ceklek!

__ADS_1


Membuka pintu, melihat semua ruangan, tidak menemukan siapa pun.


Laura pelan melangkah mencari Bi Siska atau scurity meminta bantuan membelikan sebungkus siomay.


Bu Ani keluar dari kamar, ingin mengambil minum. Melihat Laura seperti orang yang kebingungan, ia pun merasa aneh. "Cari siapa, Ra?" mendekati Laura.


Laura melihat Bu Ani, hentinya melangkah. "Hmmm, cari Pak Manto, Bu." senyumnya ragu.


"Kenapa dengan Pak Manto, Ra?" tanya Bu Ani penasaran.


"Itu, Bu." takut Laura Bu Ani marah. "Itu, minta beliin siomay." mengaku paksa, dengan tersenyum.


"Kirain kenapa? Cari aja Bi Siska, Ra. Biar di masakin." dari pada makan beli yang tidak sehat, lebih baik di masak sendiri, pikir Bu Ani.


"Nggak mau Bu, dikit juga." tolak Laura.


"Iya udah, cari aja di luar, mungkin masih kumpul sama scurity," perintah Bu Ani.


"Iya Bu" Laura berjalan cepat ke luar mencari Pak Manto.


Renggra keluar dari kamar, ingin ke ruang kerja mengambil berkas. Lihat Laura keluar rumah, sedangkan Bu Ani tersenyum-senyum melihat Laura dengan berdiri.


Renggra penasaran, mendekati Bu Ani. "Ada apa, Bu?" melihat Laura sudah keluar. "Itu mau kemana Laura?" tunjuknya.


"Mau temuin Pak Manto, minta beliin siomay."


Lihat Renggra ke arah jam di dinding. "Ini udah mau hampir jam 10 Bu, emang masih jualan?" tanya Renggra penasaran.


"Entah, akhir-akhir ini Laura suka makan diluar terus, Reng." Bu Ani menghembuskan nafas panjang. "Sepertinya, dia tress. Dulu Ibu juga gitu, kalau stres maunya aneh-aneh, agar bisa menghibur diri." menyindir Renggra agar lebih memperhatikan Laura.


Senyum Bu Ani dengan mengangguk.


Renggra jalan ke arah pintu, melihat Laura yang duduk menunggu seseorang.


Renggra duduk di samping Laura. "Kenapa masih di sini?"


Laura melihat Renggra dengan wajah yang tidak begitu menyenangkan, apalagi mencium bau Renggra.


Tibanya Pak Manto datang, Laura langsung tersenyum tidak menghiraukan Renggra.


"Ini Nyonya," Pak Manto memberikan plastik hitam.


Laura berdiri mengambilnya. "Makasih, ya Pak?"


"Sama-sama, Nyonya."


Laura masuk dengan cepat, Renggra mengerutkan alis. Kenapa Laura tidak menghiraukannya?


Renggra ikut masuk, sabarnya mengikuti Laura dari belakang,


Laura tersenyum-senyum melihat bungkusan siomay, meletakkan di atas piring.

__ADS_1


Renggra tanpa sadar, meneguk saliva melihat siomay itu seperti sedang memanggil, dirinya duduk di samping Laura.


Laura melihat Renggra masih duduk di sampingnya. "Ngapain kesini, lihat-lihat makanan ku?" Laura menjauhi piring dari Renggra.


"Boleh minta sedikit, nggak Yang?" bujuk Renggra.


Deg!


Laura merasa Renggra berubah, tapi hati Laura masih kesal.


"Enak aja, beli sendiri."


"Minta, sedikit aja kok, Yang." rayu Renggra.


Laura merasa kasihan. "Ambil piring sendiri." perintahnya.


"Pakai sendok sayang aja." Renggra berucap manis agar mau memberikannya.


"Nggak mau, bekas kamu Mas." duduk menjauhi Renggra. "Kalau nggak mau ambil piring, beli sendiri." Laura memakan siomay.


Renggra dengan terpaksa berdiri mengambil piring kecil dan sendok, meletakkan di dekat Laura.


Laura memberikan dua sendok ke piring Renggra.


"Sedikit banget, Yang?" canda Renggra.


"Mau banyak Mamas minta Bi Siska buatin." Laura merasa kesal.


"Nggak jadi, Yang." Renggra langsung makan siomay yang enak di mulutnya.


Entah kenapa malam ini pertama kali Renggra makan Siomay, rasanya benar-benar aneh, begitu nikmat di lidah.


Selesai Laura makan, ia meletakkan piring di cucian piring kotor. Lalu berjalan meninggalkan Renggra.


Renggra langsung berdiri melihat Laura yang main pergi begitu saja.


Renggra langsung memegang tangan Laura. "Yang, nggak ngajak Mamas?"


Laura melepaskan tangan Renggra. "Untuk malam ini, jangan dulu Mas. Aku lagi ilfeel lihat kamu." jujur Laura, yang benar-benar tidak mau di dekati Renggra.


Hati Renggra merasa sedih, mungkin benar semua yang di lakukan pada Laura kemarin-kemarin, telah berbalik arah ke dirinya.


"Hmmm." jawab Renggra apa adanya.


Laura langsung jalan ke arah kamar.


Ceklek!


Dup!


Huuuf!

__ADS_1


Laura membuang nafas panjang, menjauh dari Renggra begitu nyaman. Entah kenapa bau tubuh Renggra membuat Laura mual.


Bersambung...


__ADS_2