
"Akhirnya selesai juga," rebahan Laura di atas ranjang, sehabis mandi. "Mata ku ngantuk banget, jam berapa sih?" lihatnya pukul 9 malam, pada jam di dinding. "Guekan habis mandi, belum juga pakai pakaian." matanya terlelap tak tertahankan menahan kantuk seharian tidak istirahat.
Ceklek!
Renggra baru selesai merevisi pekerjaan. Lihat Laura yang masih menggunakan handuk tidur terlelap.
Seperti sedang menarik singa untuk menerkamnya.
Melihat wajah letih sang istri, membuat Renggra merasa kasian. Di sisi lain dirinya harus menahan lagi, melihat posisi Laura masih dalam masa periodenya.
Jantungnya berdegup lebih cepat, ingin melahap sekarang juga, Renggra menutupi Laura dengan selimut putih tebal, agar dirinya tidak larut dalam pikiran mesum.
"Yang." bisik Renggra, membangunkan Laura. Pacuan adrenalin harus di tahan, rasanya ini cobaan terberat bagi Renggra.
"Hmmm," Laura yang mudah terbangun itu, membuka mata secara perlahan melihat Renggra berada di sampingnya. "Mas, udah selesai?"
Angguk Renggra.
"Mas, kenapa?" Laura melihat Renggra menggigit bibir bawahnya.
"Lihat kondisimu, Ay?"
Laura sadar, dirinya belum memakai pakaian sehabis mandi. Namun, tubuhnya di tutup selimut.
"Jangan seperti ini, Yang. Bisa khilaf Mamas."
"Akukan belum selesai Mas." peringatan Laura pada Renggra.
"Makanya jangan mancing Mamas."
"Aku nggak mancing, hanya kecapean Mas, serius nggak bohong."
"Iya sudah pakailah dulu, pakaianmu. Nanti Mamas semakin khilaf." perintah Renggra.
"Hmmm, iya Mas." Laura terbangun merapikan handuknya, turun dari ranjang merasa malu kebiasaannya lupa diri. Biasa di panti asuhan, para wanita biasa-biasa saja terbuka sesama wanita. Tapi Laura benar-benar lupa akibat capek, untung dirinya memakai pakaian dalam dan kaca mata.
5 menit Laura keluar dari dalam ruang pakaian, duduk kembali di atas ranjang. "Yang, besok Mamas keluar kota selama 1 minggu." ucap Renggra sambil memainkan tabletnya.
"Ngapain, Mas?" Laura terkejut pertama kali harus berjauhan dengan Renggra dalam waktu yang cukup lama, walau hanya 1 minggu.
__ADS_1
"Mamas, mau lihat langsung proyek di kota Semarang. Kita boleh percaya dengan pegawai, tapi kitakan perlu bukti." jelasnya.
"Iya, Mas. Kamu hati-hati di sana. Paling utama jaga mata jaga hati." takut Laura Renggra jajan di luar.
"Tergantung, Yang." canda Renggra.
"Oh jadi mau cari istri baru, yang bisa memuaskan hasrat." sindir Laura merasa kesal.
"Habis lama nunggu, istri." sindir Renggra.
"Oh, silahkan Mas, dengan senang hati, aku menerima istri ke-duamu." ucap Laura langsung tidur memunggungin Renggra masuk ke dalam selimut.
Renggra tersenyum, meletakkan tablet di atas meja, dirinya juga tidur melingkari tangannya di perut Laura, merapatkan tubuh dengan meletakkan dagunya di atas kepala Laura, sedangkan Laura telah terbiasa di peluk Renggra. "Yang, Mamas hanya bercanda."
"Canda Mamas nggak lucu."
"Jangan marah."
"Nggak."
"Serius?"
"Yang, jangan di bahas Mamas hanya bercanda."
"Terserah Mamaslah."
"Yang..."
"Hmmm,"
"Pulang nanti di kasih ya?" Renggra ingin jawaban Laura, agar dirinya semangat berjauhan dari sang istri.
"Kasih apa?" pura Laura tidak tau, maksud Renggra.
"Kasih yang paling berharga bagi hidup kamu, Yang."
"Nyawa aku maksud Mamas?"
"Bukan itu, Yang."
__ADS_1
"Terus?"
"Kamu pura-pura nggak tau, atau emang nggak tau sih Yang?"
"Nggak tau Mas." canda Laura.
"Hmmm, hakku Yang."
"Hak yang mana?" Laura semakin menjahili Renggra.
"Udahlah, bicara sama kamu nggak bakal nyambung." Renggra merasa kesal.
"Jaga dulu diri Mamas, jangan nanti pulang bawa istri ke dua. Jika itu terjadi, kita pisah, Mas." ancam Laura.
"Yang," Renggra memaksa Laura untuk menghadapnya, Laura mengikuti. "Jangan bicara begitu, Yang."
"Aku serius Mas."
"Berarti kalau Mamas pulang dengan keadaan tidak membawa istri ke-dua, kamu-."
"Dengan ikhlas, aku kasih."
"Serius?"
"Hmmm, serius. Kapan Mamas siap?"
"Sekarang?"
"Nggak bisalah."
Renggra memeluk Laura dalam dekapannya. "Mamas akan tepati janji Mamas, sebaliknya kamu juga."
"Hmmm, iya Mas."
Mudah bagi Renggra menjaga dirinya selama ini, dia juga memang tidak menyukai wanita lain kecuali Laura.
Renggra merasa semangat, tadinya Renggra ingin membawa Laura, mendengar haknya akan terpenuhi, lebih baik dirinya fokus menyelesaikan pekerjaan dan pulang lebih cepat
Bersambung...
__ADS_1