Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 11 Mencoba Kabur


__ADS_3

Turun ke lantai bawah, Laura mengikuti jalan Renggra yang menuju ruang makan.


Di sana ada Angga dan Ibu Ani yang masih menunggu untuk makan malam bersama. Setelah sampai di meja makan. "Duduklah," perintah Renggra pada Laura.


"Iya, Pak!" jawab Laura yang duduk berhadapan dengan Angga.


Laura melihat Angga sekilas. "Ganteng banget ya Allah, siapa dia? Kenapa gue sekarang di kelilingi malaikat begini?" ucap batin.


"Kenapa kalian belum juga makan?" ucap Renggra melihat ke Angga dan Ibu Ani.


"Kami hanya ingin makan bersama dengan kalian berdua." jawab Bu Ani.


"Nanti ibu lapar, lama menunggu kami." ucap Renggra.


"Enggak Reng, Ibu tadi makan buah dulu, biasa agar pencernaan lancar." alasannya.


"Hmmm iya sudah, mari kita makan." melihat Laura yang berada di sampingnya. "Makan yang banyak Ra, kamu itu butuh energi."


Renggra berbicara seperti itu, membuat Laura, Bu Ani dan Angga salah paham.


Bu Ani yang melihat Angga memberi kode dengan menaiki kedua alis, bertanya maksud Renggra mengumpulkan energi itu apa? Angga yang peka kode bu Ani hanya menggelengkan kepala, tandanya tidak tau.


"Reng, Ibu harap, kamu tidak melakukan zina sebelum menikah." tegur Bu Ani.


Renggra merasa terkejut, hampir makan dirinya berhenti. "Maksud Ibu, apa?"


"Kamu bilang Laura butuh energi, jadi itu apa? Kalau buka mainnya kesana?" Bu Ani terlihat kesal.


Renggra tersenyum-senyum mengerti maksud Bu Ani yang salah paham atas ucapannya. "Maksudnya agar Laura tidak sakit dan pingsan kembali seperti tadi siang, Bu." jelasnya


"Oh gitu, kamu jangan buat kami semua salah paham." jelas Bu Ani.


"Hmmm maaf, Bu." jawab Renggra dengan kembali menyuapkan sesendok nasi.


"Makan yang banyak, Ra." perintah Bu Ani, melihat Laura makan sangat pelan.


"Iya, Bu." jawab Laura, merasa malu.


15 menit mereka semua telah selesai makan.


"Kamu kembalilah ke kamar duluan, saya masih banyak kerjaan" perintah Renggra pada Laura.


Laura menganggukkan kepala. "Iya, Pak."


Angga dan Bu Ani tersenyum menahan tawa mendengar Laura yang memanggil Renggra dengan sebutan pak terus menerus.


"Ekhem! Panggil saja saya, Mas. Itu sudah cukup." pekanya Renggra melihat reaksi bu Ani dan Angga, dirinya langsung berdiri dan berjalan ke ruang kerja di bagian atas.


"Laura, Ibu tadi sudah bilang panggil Mas aja, jangan Bapak." nasehat Bu Ani.


"Maaf, Bu. Laura lupa." bohongnya, padahal dirinya belum bisa menerima Renggra.


"Saya duluan ya Bu, Laura." Angga berdiri.


"Hmmm." jawab Bu Ani, sedangkan Laura hanya tersenyum.


"Siapa laki-laki ini? Apa adiknya Pak Renggra?" ucap batin Laura, melihat Angga yang berjalan ke ruang lain.


"Ibu juga ya Laura duluan, maklum banyak yang di urus." berdirinya.


"Hmmm, Iya Bu." jawab Laura melihat Bu Ani masuk ke dalam kamarnya.


Laura berdiri, membereskan alat makan yang habis di gunakan. Bi Siska yang melihat berlarian menghampiri.


"Duh, Non. Nggak usah. Biar Bibi aja yang bersihin." cegahnya. "Lebih baik Nona kembali ke kamar aja, nanti saya di marah lagi sama Tuan muda." jelasnya ketakutan.


"Hmmm Bi, boleh ya aku bantuin?" rayu Laura. "Aku bosen di kamar, duduk, guling, berdiri, sana sini. Nggak ada kerjaan lainnya." curhat Laura pada Bi Siska.


"Lebih baik Nona coba izin dengan Tuan muda dulu. Bibi mah, nggak bisa ikut campur."

__ADS_1


"Ah, sudahlah." pura Laura merajuk.


"Yang sabar ya, Non." hanya itu yang Bi Siska ucapkan.


Huuuf!


Laura membuang nafas kasar. "Hmmm, ya sudahlah aku kemar aja." mau minta tolong sama Bi Siska sama aja bohong pikir Laura.


Jalannya perlahan melihat sekeliling rumah yang terbilang mewah. "Ada berapa kamar ya di rumah ini dan siapa aja penghuninya? Masa hanya lima orang beserta gue." ucap batin.


Laura melihat Bi Siska, sedang fokus membersihkan meja makan. Di sekitar ruangan juga sepi.


Laura berpikir ini adalah waktu yang tepat untuk dirinya kabur. Jalan perlahan keruang lain terlihat ruang tamu, dirinya mencari pintu masuk.


"Itu dia." ucap batin melihat pintu depan terbuka.


Laura lari sekuat mungkin dengan hati-hati, melihat luar juga sepi. Perlahan tapi pasti, dirinya tidak menggunakan sendal berjalan keluar rumah.


"Itu dia pagar." ucap batin.


Scurity yang berjaga melihat Laura. "Nyonya... Jangan pergi." pekiknya mengejar.


Laura yang mendengar langsung berlarian semakin cepat. "Tutup pagar..." pekik scurity kembali.


"Ah gawat." melihat pagar sudah ditutup oleh scurity lainnya.


Laura berlarian ke sembarangan arah.


Dirinya di kejar-kejar scurity, di tanah yang luas.


"Hah capek, bukannya bisa kabur, malahan olahraga malam gue, padahal habis makan." ucap batin.


Laura bingung mau larinya kemana, melihat pohon tinggi dirinya langsung naik secepat mungkin.


"Hah hah hah, kemana kita mencari, Nyonya." nafas yang tidak beraturan 4 scurity berbicara di bawah pohon.


"Cepat banget hilangnya, ayo cari sebelum tuan Renggra marah."


Huuuuf!


Laura membuang nafas panjang. "Aman!" melihat di bawah pohon sepi.


"Mau lari kemana?" Renggra ternyata di samping Laura duduk santai di atas pohon.


"Aaaaa..." pekik Laura terkejut, melihat Renggra berada di sampingnya. "Elu hantu ya?" tunjuk Laura ke arah Renggra. "Elu juga nyamar jadi Pak Renggra ya? Tolong banget gue mohon, ini keadaan sangatlah kritis, elu jangan muncul di sini nggak lucu, pakai acara wajahnya sama lagi."


"Awas! Pak Renggra itu bahaya." Renggra menjahili Laura.


Flashback


Tok tok tok.


Tok tok tok.


tok tok tok.


Ceklek!


Renggra terlihat kesal dengan suara ketukan pintu yang mengganggunya.


Mata yang melihat ke sana kemarin, Angga tidak sadar bahwa Renggra telah membuka pintu, hampir tangan Angga memukul kepala Renggra.


"Etsss, berhenti!" ucap Renggra memegang tangan Angga.


"Ah, maaf Reng." sadar Angga.


"Elu kenapa sih?" melepaskan tangan Angga.


"Gawat, Laura mau kabur. Sekarang lagi di kejar-kejaran scurity di luar." Angga terlihat cemas.

__ADS_1


"Apa?" Renggra langsung berlarian, melihat keadaan.


Melihat Laura yang di kejar-kejar scurity.


Renggra mencoba membaca pikiran Laura, yang bingung kabur lewat mana. Salah satunya pohon besar di belakang rumah, hanya itu tepat persembunyian yang aman, karena dulunya Renggra juga gitu, saat capek di suruh belajar terus menerus. Bersembunyi di atas pohon.


Dirinya menaiki pohon dengan cepat sebelum Laura.


***


"Elu yang setan aja tau, Pak Renggra bahaya." Laura belum sadar yang di ejek itu berada di sampingnya. "Eh elu tau jalan keluar, nggak?" sambungnya melihat ke bawah mencari jalan.


"Gue lewat atas." tunjuk Renggra ke langit.


Plak!


Memukul bahu Renggra, Laura merasa kesal. "Elu bisa terbang, gue mana bi-sa."


Tibanya Laura terdiam berpikir sesuatu. "Kalau di sebelah gue ini hantu, di pukul mana bisa jangan-jangan." ucap batin Laura melihat Renggra secara perlahan.


Mengangkat kedua tangan. "Ampun, Pak!" sadarnya meminta ampun.


"Santai aja kali." Renggra masih dalam perannya.


"Pak jangan bunuh saya?" Laura telah sadar, di sampingnya bukan hantu melainkan Renggra.


"Kalau elu mati, Renggra nikah sama siapa?" masihnya bergaya seperti orang lain.


"Pak, jangan bercanda nggak lucu." Laura berbicara seolah mereka telah akrab.


"Emang gue bercanda?"


"Nggak!"


"Hmmm tap-"


"Aduh kemana sih Nyonya nggak juga ketemu?" scurity memotong ucapan Renggra.


Renggra yang melihat scurity langsung memberi isyarat pada Laura dengan telunjuknya ke arah mulut untuk diam. Renggra merasa malu kalau sampai scurity melihat dirinya dan Laura di atas pohon, hilang semua kewibawaan sebagai pengusaha sukses serta CEO perusahaan dharmendra drew earld group.


Laura yang melihat kode Renggra melihat ke bawah, terkejutnya melihat 4 scurity tadi sudah berada di bawah mereka.


"Elu bisa terbang nggak?" bisik Laura yang berpikir mungkin benar di sebelahnya hantu. Nggak mungkin juga Renggra yang dia lihat begitu wibawa, seram, dingin, datar memanjat pohon bersama dengannya.


"Belum belajar." bisik Renggra.


"Ah nggak lucu elu sebagai hantu nggak bisa terbang."


Renggra mengulum tawa, mendengar Laura menyuruhnya terbang.


"Kalau hilang bisa nggak? Soalnya lihat elu berwajah Pak Renggra, tambah seram tau." sambung Laura.


Renggra yang tadinya nahan tawa langsung berhenti, di bilang seram.


"Udah kita cari ke lain." scurity kembali pergi ke sembarangan arah.


Huuuf!


Laura dan Renggra bernafas legah, melihat scurity meninggalkan mereka berdua.


"Emang wajah Renggra itu seram ya, bukannya ganteng? Gue aja ngikuti dia." Renggra ingin mendengar pendapat Laura.


"Emang ganteng sih, nggak salah. Tapi kelakuannya itu menutupin semuanya." jujur Laura, curhat.


"Terus kalau misal gue nih Renggra, elu mau apa?" tantangnya.


Laura terdiam sebentar, melihat Renggra. "Pak serius ini anda atau orang lain sih? Lebih baik gue terjun mati, dari pada gue hidup di gentayangin wajah anda."


Renggra kembali mengulum tawa. "Lebih baik kita turun dulu, sebelum scurity melihat kita di atas pohon, oke!" Renggra memberi arahan.

__ADS_1


"Hmmm!" Laura mengikuti ucapan Renggra, perlahan mereka berdua turun.


Bersambung...


__ADS_2