Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 17 Resepsi


__ADS_3

Hari pernikahan yang di tunggu-tunggu telah tiba.


Laura masih tidak menyangka, dirinya akan menikah secepat ini. Duduk di depan cermin dan melihat dirinya memakai pakaian adat sumatera barat yang di padukan dengan pakaian sar'i.


Laura menahan air mata, entah itu merasa bahagia atau sedih.


Tok tok tok.


"Sepertinya ada yang datang Ra, sebentar Ibu buka pintu dulu." ucap Bu Arsa yang tadinya merapikan kembang kantil di atas kepala menjalar ke bahu Laura.


"Iya, Bu." jawab Laura dengan tersenyum.


Ceklek!


"Cari siapa ya, Bu?" tanya Bu Arsa pada Bu Aminah.


Laura melihat ke arah siapa yang datang, ternyata Bu Aminah, ia merasa sangat bahagia.


Bu Aminah melihat Laura. "Itu Laura, bukan?" menunjuk Laura, memastikannya. Karena Laura yang sangat berbeda, dari yang biasanya.


"Iya itu Laura. Ada apa, Bu?" tanya Bu Arsa kembali.


"Itu anak angkat saya. Boleh saya masuk menemuinya?"


"Oh ini Ibunya Laura. Silahkan masuk, Bu." ucap Bu Arsa yang tau tentang identitas Laura, setelah di ceritakan Bu Ani.


"Ah iya, terimakasih." jalannya masuk mendekati Laura. "Ra, kamu cantik banget. Ibu hampir saja tidak mengenal kamu." ucap Bu Aminah saat di dekat Laura. "Ini kamukan Ra, atau putri bangsawan?" tanya Bu Aminah sambil bercanda.


Laura tersenyum-senyum di puji Bu Aminah. "Sepertinya putri keraton, Bu." jawab Bu Arsa yang juga kagum melihat kecantikan Laura.


"Ibu Aminah dan Bu Arsa bisa aja." jawab Laura malu-malu.


Laura masih penasaran dengan sikap Ibu Amina yang sangat setuju dengan penikahannya.


"Bu Arsa, boleh nggak aku bicara berdua dengan Bu Aminah sebentar?" izin Laura pada Bu Arsa.


"Hmmm, boleh. Kalau begitu, saya keluar dulu. Sekalian mau bilang ke WO bahwa acara siap di mulai." ucap Bu Arsa ramah.


"Iya Bu." jawab Laura tersenyum.


Ceklek!


Dup!


"Ibu kenal dengan Mas Renggra?" tanya Laura menyelidiki.


"Iya kenal atuh, Ra. Orang dia yang langsung minta kamu menikah sama dirinya." jawab Bu Aminah puranya tidak mengenal Renggra selama ini.


"Bukan itu, Bu mak-"


"Ra, siapapun Renggra, tidak masalah bagi Ibu. Asal dirinya menikahi kamu, bertanggung jawab juga atas mu." Bu Aminah memegang tangan Laura. "Ibu sudah cukup di bantu kamu selama ini. Sekarang giliran kamu yang merasakan dan menjalani kehidupanmu." jelas Bu Aminah.

__ADS_1


Tok tok tok.


Ceklek!


"Duh maaf ya, saya ganggu. Soalnya acaranya mau di mulai. Kamu di suruh ke gedung utama, Ra." ucap Bu Arsa mendekat, dirinya melihat Bu Aminah. "Bicaranya sambung nanti aja ya Bu." Bu Arsa terlihat kurang nyaman mengganggu pembicaraan Laura dan Bu Aminah.


"Ah kami juga sudah selesai berbicara." jawab Bu Aminah langsung, dirinya juga tidak mau Laura banyak pertanyaan. "Ayo, Nak." ajak Bu Aminah melihat Laura.


"Hmmm!" senyum Laura yang belum puas berbicara pada Bu Aminah.


Berdirinya Laura, di bantu oleh Bu Arsa dan Bu Aminah keluar kamar menuju gedung utama.


Di waktu yang sama Renggra tengah mengucapkan ijab kabul, suara yang lantang terdengar di seluruh gedung.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Renggra Wijaya bin Anggara Wijaya dengan adinda Laura Anindia dengan mas kawinnya berupa seperangkat alat shalat tunai.”


"Saya terima nikahnya tersebut, tunai.” jawab Renggra langsung.


"Bagaimana para saksi." tanya Pak penghulu.


"Sah!" jawab serentak para saksi yang hadir.


"Alhamdulillah," Pak penghulu membacakan doa.


Selesainya, Laura yang turun di ajak duduk di dekat Renggra.


Renggra yang melihat wajah Laura yang begitu cantik, bagaikan putri kerajaan, tidak bisa mengalihkan pandangannya.


"Ekhem, Reng." ucap Angga memecahkan lamunan Renggra.


"Mas..." Laura menegur Renggra dengan tersenyum.


"Ah, iya." jawab Renggra tersadar.


Mereka yang berada di dekat Renggra mengulum tawa.


"Sabar." bisik Nova dari belakang.


Renggra hanya tersenyum, sadar dengan tingkahnya barusan.


"Ayo cium kening Laura." ucap Bu Ani.


"Ah sekarang Bu?" ucap Renggra merasa bingung.


Kembali semuanya mengulum tawa.


"Tahun depan." jawab Angga.


"Elu sih ngelamun aja. Tuh pemandu acara dari tadi nyuruh elu." ucap Nova merasa kesal.


"Ah maaf, gue kurang istirahat. Jadi sedikit kurang fokus." alasan Renggra.

__ADS_1


"Terserah elu, dah." jawab Nova.


Renggra memegang kepala Laura untuk mendekatinya.


Cup!


Mencium kening Laura.


Sedangkan Laura sendiri, merasa jantungnya berhenti berdetak, pertama kali di sentuh lelaki termasuk menciumnya.


Kameramen sibuk membuat video dan foto.


"Reng, lepas." ucap Nova yang selalu mengingati Renggra. "Jangan lama-lama entar di kamar aja lanjutnya." sindir Nova yang gemas melihat Renggra fokus pada dunianya sendiri.


Renggra melepaskan ciuman.


"Mari kita naik ke atas panggung untuk bersalaman Pak, Bu." ajak pihak WO.


Laura dan Renggra berdiri, dengan tangan Renggra menggenggam wanita impiannya itu.


Laura hanya bisa mengikuti, dengan sentuhan tangan Renggra.


Berjalan ke atas panggung yang di ikuti Bu Aminah dan Pak Amin mewakili dari pihak Laura, sedangkan Renggra di dampingi Bu Ani dan Angga.


Berdiri menyambut tamu yang ingin bersalaman, banyak para toko-toko yang hadir dalam undangan tersebut. Wartawan yang yang ingin meliputi berita Renggra hanya menunggu di luar ruangan, karena sesuai permintaan Renggra yang memprivasi pernikahannya. Walaupun begitu, masih juga tersebar ke pelosok negeri.


Para tamu undangan menaiki atas panggung bersalaman dengan Renggra dan Laura serta berfoto.


Tibanya datang seorang wanita cantik berpakaian dress multi batas lutut, berwarna cream, dengan gaya rambut yang bergelombang batas punggung berwarna hitam pekat, menghampiri Renggra dan Laura.


Wanita cantik itu langsung berpelukan dan cupika dan cupiki dengan Renggra.


"Selamat ya sayang, atas pernikahanmu?" ucap wanita cantik itu dengan tersenyum.


"Terimakasih! Akhirnya kamu pulang dan menghadiri acara ini." ucap Renggra bahagia.


Laura yang melihat Renggra dan wanita cantik itu bertingkah sebagai sepasang kekasih merasa bingung.


"Kata, Mas Renggra. Gue adalah wanita satu-satunya. Ternyata gue di bohongi, dasar tukang tipu. Jangan bilang ini wanita termasuk simpanannya, ih geli gue. Hah Laura-Laura! Apa yang dirimu harapkan dari pernikahan ini. Kamu hanya di permainkan saja. Nanti ketika Mas Renggra merasa bosan, kamu segera di buang seperti sampah." ucap batin Laura merasa kesal.


Wanita cantik itu menghampiri Laura, mengajak salaman.


Laura membalas salaman wanita itu. "Selamat ya Mbak, sudah menikahi sayangku. Semoga kamu betah dan tidak bosan dengan laki-laki datar serta dingin ini." ucap wanita cantik itu dengan tersenyum sambil melirik Renggra.


"Hmmm, iya insyaallah." jawab lantang Laura.


Melepaskan salaman, kemudian wanita itu turun ke bawah.


Renggra hanya diam dan tersenyum kecil melihat tingkah laku Laura yang cemburu padanya.


"Aku tau kamu mulai mencintaiku, Ra. Tapi kamu masih belum sadar." ucap batin Renggra.

__ADS_1


Acara pernikahan Renggra dan Laura di gelar sangat meriah banyak para tamu yang di udang berdatangan, mereka ingin melihat siapa sosok wanita yang bisa meluluhkan hati seorang Renggra Wijaya.


Bersambung...


__ADS_2