Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 55 Panggilan


__ADS_3

Ceklek!


Bu Ani terkejut melihat Laura duduk di kursi dorong sambil membawa bayi di tangannya. Sedangkan Renggra mendorong kursi Laura.


"Ra, kamu sudah lahiran?" Bu Ani langsung mendekat di ikutin Amel, dan Angga.


"Nanti kita bicaranya ya, Bu." ucap Suster. "Kita pindahkan Ibu Laura ke atas ranjang dulu." sambungnya lagi.


Bu Ani menganggukkan kepala, dirinya merasa bingung. Perasaan Laura masih jalan-jalan, pikir Bu Ani.


"Bayinya kita tiduri di tempat yang telah di sediakan ya, Bu." jelas Suster, mengambil bayi mungil di tangan Laura.


Laura hanya bisa tersenyum.


"Ayo, Yang." Renggra mengangkat Laura untuk tidur di atas ranjang.


"Iya, Mas."


Perlahan Renggra meletakkan Laura.


"Alhamdulillah." legah Renggra melihat Laura dan anaknya baik-baik saja.


"Saya permisi dulu." ucap Suster.


"Iya, Sus." jawab Renggra.


Dup!


"Reng, kapan Laura melahirkan?" Bu Ani penasaran.


"Di tempat duduk bagian depan, Bu." jelas Renggra.


"Apa?" terkejut Bu Ani, Amel, dan Angga.


"Tadinya Laura mau makan, tibanya merasa sakit. Keluar aja si jagoan." jelas Renggra yang telah santai.

__ADS_1


"Terus anakmu jatuh nggak?" Bu Ani semakin penasaran.


"Alhamdulillah, Laura dan aku yang memegangnya." jawab Renggra melihat bayi mungil yang tidur pulas di atas ranjang.


"Masya Allah, Reng. Mirip banget sama kamu." gemas Bu Ani menggendong bayi yang akhirnya hadir ke dunia. "Reng, siapa namanya?"


Renggra duduk di dekat Laura, sambilnya memijit lengan sang istri yang mengingatkan perjuangan melahirkan anak mereka.


Senyum terukir jelas di wajah Renggra. "Namanya, Yusuf Wijayah, Bu."


Bu Ani tersenyum. "Yusuf, namanya yang bagus, Reng. "


Amel merasa bahagia. "Hai, Yusuf. Ini aunty." memegang pipi mungil itu.


"Aunty, beri kepastian sama Om Angga?" sindir Bu Ani yang berada di dekat Amel.


Amel merasa kesal. "Apaan sih Bu, bahas sekarang?"


"Nanti Ibu mau ngomong empat mata sama kalian berdua." geram Bu Ani yang langsung melihat Amel dan Angga.


Ceklek!


"Assalamualaikum." Merisa dan Nova datang kerumah sakit, menghampiri ke-dua pasutri yang sedang berbahagia. membawa bingkisan buah-buahan dan kado kecil untuk sang bayi.


"Waalaikumussalam." jawab serentak yang berada di ruangan.


Merisa memeluk Laura. "Selamat, ya Ra."


"Iya, Mer. Terimakasih ya? Kalian sudah mau datang kesini." ucap Laura merasa bahagia.


Nova mendekati Renggra, berjabat tangan. "Selamat, ya Reng. Telah mendapat gelar baru menjadi Ayah." bahagia melihat sahabat telah mempunyai keturunan.


"Terimakasih Nov. Gimana sudah nabung belum?" Renggra ingin mengetahui, apa Merisa sedang hamil.


"Belum Reng, doain aja. Semoga kami cepet nabung." bahasa isyaratnya, siapa tau doa mereka di ijabah.

__ADS_1


Angguk Renggra. "Insyaallah kami berdua doakan."


Laura memegang tangan sahabatnya itu. "Masih baru Mer, jangan terlalu di khawatirkan. Nikmati masa pacaran kalian dulu." canda Laura, agar Merisa merasa nyaman dengan kondisinya saat ini.


Merisa tersenyum. "Kalau aku santai aja, Ra. Mas Nova aja yang terlalu ingin. Gue suruh dia yang hamil, jawabannya mana bisa." canda Merisa.


"Emang benar kok?" bela Nova.


"Kenapa nggak program ke Dokter?" solusi Angga.


"Nah itu juga bagus." sambung Bu Ani.


"Gimana, Ma?" Nova memanggil Merisa dengan sebutan Mama.


"Terserah di Papa aja." jawab Merisa


"Aw, geli gue mendengarnya." ucap Renggra menjahili


"Geli apanya, romantis kali." Nova ikut bercanda. "Elu tuh, apa panggilan kalian? Masa Mamas sama Ayang aja."


"Ada dong! Ini Bunda Yusuf." Renggra memegang bahu Laura. "Ini Ayah Yusuf." jelas Renggra menarik tangan Laura ke arah dadanya.


"Bunda dan Ayah ceritanya." sindir Angga.


"Iya iyalah! Lah elu. Tidak terlihat." sindir Renggra.


"Tunggu aja, kalian." ucap Angga sombong.


"Sampai Yusuf sudah menikah, menunggu elu?" tanya Nova semakin bahagia menyindir Angga.


"Huuuuf! Terserah di kalian aja, pasrah gue."


Semua orang tersenyum-senyum. Termasuk Amel.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2