Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 25 Tawaran Istri ke-dua


__ADS_3

Renggra dan Laura jalan-jalan di area sekitar villa.


Laura berhenti melihat alam sekitar telah berubah semakin indah. "Mas lihat di sana ada kebun sayuran dan buah." menunjuk kebun dekat danau. Kemarin dirinya belum melihat secara keseluruhan bahwa di dekat danau ada kebun.


Renggra memegang tangan Laura. "Yuk ke sana, Yang."


"Yuk, Mas." Laura ingin sekali melihat kebun yang hijau dan segar.


Renggra tersenyum-senyum, merasakan bahagia luar biasa saat berpacaran dengan yang halal. Apalagi pasangan yang di cintai itu juga mencintainya.


"Yang, asal sayur dan buah yang kamu makan tadi, dari sini." Renggra memegang sayuran segar di hadapan mereka berdua, setelah sampai.


"Pantas saja Mas, buah dan sayurnya enak di makan. Ternyata langsung di petik dari kebunnya." Laura memetik buah tomat.


Renggra mengambil buah tomat di tangan Laura, yang hampir di makan. "Cuci dulu, Yang. Sebelum di makan." meletakkan di keranjang dekat pondok.


"Kamu datang berlibur, Nak?" tanya Pak Maman berjalan mendekat.


Renggra tersenyum. "Iya, Pak! Bulan madu sama istri." jawabnya lantang.


"Kapan Nak, kamu menikah? Perasaan kemarin ke sini masih sigle." ucap wanita paruh baya di samping Pak Maman bernama Bu Siti, istri Pak Maman.


"Kemarin Bu." jawab Renggra dengan ramah.


Pak Maman dan Bu Siti telah di anggap Renggra seperti keluarga sendiri.


"Siapa namanya, Nak?" tanya Pak Maman.


"Perkenalkan namanya Laura," Renggra melihat Laura. "Yang perkenalkan, ini Pak Maman dan Bu Siti. Mereka berdua yang mengurus villa serta kebun di sini." jelas Renggra memperkenalkan.


"Perkenalkan Bu, Pak. Saya Laura Anindia." mengangkat tangannya mengajak salaman.


"Oh, Nak Laura namanya. Perkenalkan saya Siti Nurhaliza." salamnya pada Laura, sedangkan Laura mencium punggung tangan Bu Siti.


"Saya Maman Paijo." Laura melepaskan tangan Bu Siti dan bersalaman kembali dengan Pak Maman, juga mencium punggung tangannya.


Selesai bersalaman, Laura kembali berdiri di samping Renggra.


"Nak Renggra! Malam nanti Bapak, Ibu, dan warga di belakang rumah, mau mengadakan acara makan-makan bersama. Seperti biasa, setiap malam senin." ucap Pak Maman yang mengadakan acara makan-makan bersama para warga setiap malam senin, dengan alasan agar mereka bisa menjalani hidup rukun dan damai sesama tetangga.


"Oh iya Pak! Insyaallah aku dan Laura akan datang." ucap Renggra ramah.


"Mas, Renggra." pekik citra, anak semata wayang Pak Maman dan Bu Siti.


Citra langsung memeluk Renggra, saat sudah di dekatnya. Renggra hanya pasrah di peluk wanita berusia 14 tahun itu.


"Sayangku, kapan pulang?" tanya citra dengan manja.


Laura hanya diam, merasa bingung melihat wanita cantik berparas ayu itu memeluk dan manja pada Renggra.

__ADS_1


Tangan Citra di tarik Bu Siti. "Kamu main peluk aja, nggak malu apa di lihat istrinya?" marahnya Bu Siti, melihat gadis kecil yang mulai dewasa itu memeluk laki-laki dewasa tanpa izin, apalagi telah beristri.


Bu Siti tau anaknya tergila-gila pada Renggra. Tapi dirinya tidak mungkin memperbolehkan anak usia 14 tahun itu telah mulai berperilaku yang tidak baik, di tambah Renggra adalah majikannya.


Renggra merasa biasa-biasa saja, karena telah menganggap Citra sebagai adik kecilnya.


"Mas, udah nikah. Kenapa nggak sama aku?" Citra merasa terkejut melihat pujaan hatinya telah menikah.


Laura hanya diam memperhatikan anak kecil itu seperti istri Renggra.


"Iya, karena nunggu kamu kelamaan. Keburu tua Mamas." canda Renggra.


"Mas, tua nanti Citra masih mau kok, jadi istri ke-dua." ucap Citra terang-terangan.


Bu Siti merasa malu dengan ucapan anaknya. "Suuuut! Citra kamu jangan bicara begitu." menarik tangan Citra. "Ikut Ibu," paksa Bu Siti.


"Nggak mau! Aku mau sama calon suamiku." Citra memberontak melepaskan tangan Bu Siti.


Plak!


Kesabaran Bu Siti telah habis, dirinya menampar wajah Citra.


Renggra dan Laura hanya bisa diam melihat Bu Siti marah pada anaknya, memang hal itu harus di ajarkan pada anak perempuan agar tidak melawati batas.


Tapi tidak menggunakan dengan cara kekerasan, jika anak di nasehati dengan cara lembut tak juga ikut, mungkin dengan memukulnya pelan membuat anak sadar, bukan memukulnya dengan keras.


"Sadar Nak, dengan umurmu. Dan sadar status kita." ucap Bu Siti kembali menarik tangan Citra.


"Maaf, Nak Renggra. Saya pulang duluan." ucap Bu Siti merasa malu.


"Iya Bu." jawab Renggra tersenyum.


Citra hanya diam, dan mengikuti Bu Siti jalan ke arah rumahnya.


"Maaf, Nak Renggra. Atas perilaku anak dan istri saya. Saya pamit dulu." Pak Maman juga menahan malu.


"Oh Iya Pak, nggak apa-apa. Silahkan." jawab Renggra dengan tersenyum.


Pak Maman berjalan pulang, meninggalkan Laura dan Renggra.


"Yang, kamu pasti terkejut ya melihat kejadian tadi?" Renggra memegang bahu Laura, dirinya sekarang tidak minta izin lagi saat menyentuh istrinya.


"Iya, Mas." Laura merasa ikut sedih.


Renggra mengusap kepala Laura. "Yang, Citra itu memang tergila-gila pada Mamas, berhubung masih kecil aja." Renggra menjahili Laura, dirinya ingin melihat respon Laura.


Laura melepaskan tangan Renggra. "Nggak apa-apa Mas tunggu aja, 7 tahun lagi usianya 21 tahun, bisa di jadikan istri." jawab Laura dengan tersenyum, tibanya pergi meninggalkan Renggra dan kembali ke villa.


Renggra tersenyum-senyum melihat Laura akhirnya cemburu.

__ADS_1


Renggra mengejar Laura. "Yang, tunggu."


Laura langsung lari, dirinya tidak menghiraukan panggilan Renggra.


Ceklek!


Laura masuk ke dalam rumah, ingin kembali ke kamar.


Renggra langsung memegang tangan Laura dan memeluknya. "Yang, Mamas hanya bercanda."


"Canda Mamas tuh bikin nyesek." memeluk Renggra.


Renggra merasa Laura mulai berani memeluknya. "Yang, kamu sadarkan memeluk Mamas?"


"Nggak boleh?" jawab Laura dengan nada merajuk.


"Yang, kamu istirahat aja di kamar. Oh ya, bentar tunggu di sini." Renggra melepaskan pelukan, dirinya langsung pergi ke mobil mengingat sesuatu yang belum di berikan ke Laura.


Beberapa detik Renggra datang membawa plastik kecil. "Nih, Yang." di berikan ke Laura.


"Apa ini, Mas?" Laura mengambil.


"Buka aja dulu." perintah Renggra.


Laura membuka plastik itu, dirinya melihat kotak handphone keluaran terbaru. "Mas, kamu kapan beli, Ini mahal banget Mas?" Laura memberikan ke Renggra lagi. "Kamu jual aja lagi, beli yang murah aja. Lagian aku ada handphone, hanya saja tinggal di tempat kerja."


"Nggak apa-apa, Yang. Mamas beli buat kamu. Jika ini di jual nanti harganya lebih murah. Soalnya handphone kamu yang kemarin layarnya pecah, tas kamu ada di dalam mobil."


"Tapi, Mas. Ini mahal banget temenku pernah beli kredit sampai 30 juta lebih."


"Itu nggak seberapa bagi Mamas, Yang."


"Uang Mas sebanyak itu, lebih baik di tabung Mas, buat masa depan." ucap Laura tak inginnya menyusahkan Renggra.


"Yang, insyaallah uangnya cukup buat masa depan kita." Renggra memegang tangan Laura. "Jangan kamu pikirkan."


"Serius loh, Mas?"


"Mamas lebih serius, Yang."


"Akunya yang enggak enakkan."


"Masa harus di jual lagi, rugi dong."


Laura berpikir sebentar, dirinya merasa bingung. "Udahlah gue terima aja deh, dari pada di jual turun harga." ucap batin.


"Hmmm, iya Mas. Terimakasih."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2