
Mentari telah menyinari kain tipis di luar jendela, Renggra benar-benar kesiangan tidak menjalankan shalat dan mengaji seperti biasa yang dirinya lakukan.
Bangun dengan kepala yang masih berat, duduk sambil mengusap wajah yang masih merasa ngantuk dan lelah. Inginnya tidur kembali tapi hari sudah siang.
Berpikir apa yang membuatnya terasa berat, mengingat ke jadian semalam. Sadarnya melihat tubuh bawahnya, tertutup kain putih tebal dengan atasan polos tanpa kain sedikitpun.
Perlahan Renggra melihat seseorang wanita tidur di sampingnya, dengan wajah yang tertutup selimut, rambut panjang yang terurai, memperlihatkan punggung yang putih mulus bercap kemerahan, di mana-mana, bisa jadi itu ulah Renggra semalam.
Nafas yang tak beraturan membuat Renggra merasa khawatir berlebihan, apa yang di perbuatannya semalam? Siapa wanita di sebelahnya? Pikiran Renggra terus melayang.
Jika Laura tau, apa yang sudah di perbuatannya dengan wanita lain, ia pasti akan memintai cerai. Sesuai dengan ucapan Laura sebelum dirinya pergi ke kota Semarang.
Bidadari yang di jaga selama bertahun-tahun, akan hilang oleh perbuatannya sendiri.
Air mata Renggra mengalir. "Maafkan aku, Yang." ucap batin Renggra merasa sesak di dadanya, telah melakukan zina dalam semalam tanpa kesadaran.
Hiks hiks hiks, hilang semua keinginannya Renggra selama ini. Dadanya kian sesak, mengingat kejadian semalam, yang membuat Renggra kehilangan Laura sebentar lagi.
Renggra menghapus air mata, sadarnya harus mempertanggung jawabkan atas perilakunya semalam.
Tak sanggup menerima semua ujian yang di deritanya. Semoga hati dan pikirannya bisa di beri kelapangan dan ke sabaran yang seluas-luasnya oleh sang maha pencipta.
Renggra juga mengingat semalam, dirinya memaksa wanita di sampingnya untuk berbuat zina, dengan kondisi wanita masih bersegel. Walau si wanita sudah menyerahkan dirinya, tetap di hati Renggra hanya ada Laura. Renggra berpikir, lebih baik dirinya mengajak si wanita berkompromi atas tindakannya itu, agar Laura tidak meminta cerai atau berpisah dengannya.
Bisa di bilang si wanita akan di bayar berapa pun, agar dirinya pergi jauh dari kehidupannya. Secara tidak langsung, itu salah si wanita yang masuk ke dalam kamar tanpa izin dari Renggra.
Jelas semua ini adalah jebakan seseorang, Renggra meremas kain putih di hadapannya, berjanji akan menghukum orang tersebut, gara-gara perbuatan orang itu, Renggra harus melakukan tindakan keji seperti ini.
Bergeraknya tubuh wanita itu, membuat Renggra terkejut.
Renggra menarik nafas dan menghembuskan, agar pikirannya tenang. "Kamu, sudah bangun?" suara Renggra terdengar datar.
"Hmmm." jawab wanita itu pelan, merasa malu.
Renggra menelan salivanya, merasa kesal. "Maaf, telah membuat mu seperti ini."
"Ba-Bapak harus tanggung jawab, atas semua yang Bapak lakukan." suara yang berdengung akibat kain tebal.
Renggra menghembuskan nafas kasar. "Jika itu yang kamu mau, aku menolak. Memang ini salah ku, tapi kamu juga sadar, ini tidak akan terjadi kalau kamu masuk ke kamar saya. Jujur siapa yang menyuruh mu?" Renggra mengingat Laura. "Kamu harus ingat, aku mempunyai istri yang baru saja aku nikahi. Dia orang yang aku cintai seutuhnya, tak bisa di gantikan dengan siapa pun termasuk diri mu. Berapa uang yang kamu butuhkan agar melupakan kejadian hari ini?" ungkapan hati Renggra yang harus di perjelas sebelum semuanya terjadi.
"Hiks hiks hiks, teganya Bapak, memperlakukan ku seperti sampah. Sudah di makan isinya lalu di buang. Saya masuk di suruh seseorang yang bilang Bapak membutuhkan sesuatu, jadi saya datang ke kamar ini. Saya tidak butuh uang Bapak, jika saya hamil, saya hanya butuh Bapak bertanggung jawab. Istri Bapak harus terima." ucap wanita itu dengan memegang erat kain selimut.
Renggra benar-benar melakukan kesalahan, tapi ia tidak bisa menerima hal lainnya. Cintanya pada Laura begitu besar tidak bisa di bagi untuk wanita lain, walaupun sudah di nikmatinya semalaman.
"Itu sudah resikonya, aku melakukan kesalahan itu bukan atas keinginan ku." Renggra masih tetap dalam pendiriannya, agar tidak kehilangan Laura, melihat ke wanita itu. "Bukalah wajah mu, jangan merasa takut. Aku tidak akan memangsa mu lagi." Renggra ingin melihat siapa sosok wanita di sampingnya.
"Benar Bapak tidak akan lagi menyentuh ku?" wanita itu memastikan.
"Hmmm Iya aku janji, cukup pergi dari sini, dan jangan muncul lagi. Jika kamu benar hamil anak ku, aku juga berjanji akan bertanggung jawab." melihat ke arah lain, kesalnya memuncak.
Wanita itu membuka wajahnya.
Huuuuf!
"Bernafas juga gue," ucap wanita itu.
Renggra pernah mendengar suara wanita ini, dirinya terkejut langsung melihat ke wanita itu lagi.
"Bapak janjikan?" ucap Laura tersenyum.
Renggra langsung memeluk Laura, "Hiks hiks hiks. Yang, ini kamukan?" memastikannya lagi.
"Bukan!" jawab Laura bercanda.
Renggra melihat wajah Laura, memastikan. "Ini kamu, Yang." Renggra memeluk lagi, kepalanya di leher Laura.
"Bapak berhalusinasi ya?" serunya Laura bercandai Renggra.
Renggra kembali mengangkat kepalanya, berpikir, apa dirinya berhalusinasi.
Laura menahan tawa, melihat reaksi Renggra, merasa kebingungan.
Cup!
Renggra mencium bibir Laura sekilas. "Enggak ah, ini istriku."
Laura masih mengulum tawa.
__ADS_1
"Apa benar gue berhalusinasi, gara-gara mengingat Laura terus? Coba gue memastikan lagi." ucap batin Renggra yang masuk ke dalam selimut.
"Mamas ngapain? Katanya nggak akan menyentuh aku lagi." Laura memegang tangan Renggra.
Renggra berenti, kembali melihat Laura. "Yang serius ini kamukan, lagian Itukan wanita lain, Yang. Kamukan istri, sah Mamas." Renggra kembali memeluk Laura.
"Tapi kamu berbicara sama aku, Mas. Hanya ada aku di sini." serunya Laura menjahili Renggra.
"Janjinya batal, kamu istriku, Yang. Jika wanita lain baru iya. Terimakasih, Yang. Jika bukan kamu tadi, gimana hidup Mamas selanjutnya? Mamas nggak mau kehilangan mu, Yang. Hiks hiks hiks." isak tangis Renggra benar-benar pecah.
"Tapi Mamas main curang, rela gitu ya, menyuruh wanita itu pergi, dan membayar berapa harganya demi rumah tangga kita." Laura merasa kesal ada, merasa bahagia ada.
"Mamas sangat mencintaimu Yang, lagian Mamas melakukan bukan di sengaja." belanya.
Laura tersenyum-senyum mendengar, Renggra begitu mencintainya. Rasa jantung Laura tumpengan.
"Kasar gitu mainnya, serem tau nggak." kesal Laura mengingat ke jadian itu.
"Kita coba lagi aja, Mamas janji akan lembut."
"Nggak ah, capek aku di hantam sampai subuh."
"Hmmm," Renggra semakin mengeratkan pelukan.
"Mas, udah belum. Aku susah bernafas." tubuh Renggra yang berat membuat nafas Laura menjadi sesak.
Renggra melepaskan pelukannya.
Cup!
Mencium bibir Laura. "Yang, kenapa bisa ada di sini?" ingin tau Renggra apa yang sebenarnya terjadi.
Flashback
"Kak, Pak Manto mau bertemu denganmu." ucap salah satu anak panti, menemui Laura saat selesai mandi.
"Emang apa katanya?" Laura berjalan ke dalam kamar untuk memakai pakaian.
"Nggak tau Kak, katanya penting banget."
15 menit selesai, Laura keluar menemui Pak Manto. "Ada apa Pak?" Laura penasaran.
"Kata Nyonya Ani, Tuan muda Renggra di hotel lagi sakit. Mau pulang, Tuan muda nggak mau ganggu Nyonya Laura." jelas Pak Manto cemas.
Laura terkejut, mendengar Renggra sakit.
"Ayo Pak kita segera kesana." takut Laura Renggra kenapa-napa. "Ada-ada aja Mamas sakit masih memikirkan aku." ucap batin Laura merasa kesal.
25 menit sampai di depan hotel. Laura melihat banyak sekali tamu undangan di dalam ballroom, terlihat dari parkiran.
"Ini Nyonya nomornya, untuk masuk ke dalam kamar Tuan mudah." Pak Manto memberi selembar kertas tertulis angka. "Nomor kamarnya, 501. Paling atas ya Nyonya."
"Iya Pak, terimakasih."
"Iya Nyonya sama-sama."
Laura langsung berlarian kecil pergi ke arah yang di tunjukkan Pak Manto, sesampai di lorong atas, Laura hanya melihat satu kamar saja. "Mamas-Mamas awas aja, kalau ketemu. Bikin kesal aja." ngomel Laura sepanjang jalan mendekati kamar Renggra.
Menekan huruf.
Ceklek!
Laura melihat suasana kamar di terangi lampu kuning, terlihat sedikit gelap. Melihat ranjang Renggra tidak di temukan. Mendengar suara di kamar mandi, Laura langsung meletakkan tas di atas meja, melepas hijab dan meletakkannya di atas kursi sofa agar tidak kusut saat di pakai kembali. Saat selesai meletakkan hijab, Laura langsung di peluk Renggra dari belakang.
Laura yang baru pertama kali, melihat Renggra mencium bibirnya begitu ganas, merobek semua pakaiannya, Laura tidak bisa menyeimbangkan permainan Renggra, yang pertama kali dirinya rasakan.
Tubuh polos Laura benar-benar di santap Renggra, apalagi saat jagoan Renggra masuk, Laura hanya bisa memegang erat tangan Renggra.
"Sakit Mas, berhenti." teriak Laura.
Renggra terus saja memaksa.
"Mamas sakit," dengan Laura berontak.
Renggra semakin kuat untuk mengunci Laura agar tidak bergerak.
"Mamas berhenti sakit banget, Mas." terus Laura menjerit.
__ADS_1
Jleb!
Semuanya masuk, Renggra tidak berhenti malah semakin liar, bermain dengan perihnya di bawah sana yang di rasakan Laura.
Renggra terus memaksa dan mulai semakin cepat gerakan Laura baru bisa merasakan sesuatu yang berbeda, sakitnya berubah menjadi sebuah kenikmatan, tapi Laura hanya bisa menangis, betapa kejam Renggra melakukannya.
"Aaaaah..." akhirnya teriakan Laura pecah.
"Aaaaah..." Mamas aku mau kencing.
Renggra tidak juga berhenti, semakin naik tingkatan permainan, semakin Laura tidak bisa menahan lagi.
"Ampun Mas, berhenti sebentar." teriak Laura.
Renggra berenti dan mendorong jagoannya ke dalam. "Aaaaah." Laura dan Renggra sampai pada puncaknya.
Nafas yang tidak beraturan, keringat keluar sangat deras, Renggra jatuh di atas tubuh Laura.
"Alhamdulillah, alhamdulillah, selesai." ucap batin Laura. Besok tinggal ke tukang urut pikirnya.
Ternyata Laura salah dengan pikirnya saat berhenti, permainan selesai.
Renggra bergerak kembali, menghantam dirinya. Sampai Laura tidak sanggup lagi melayani Renggra.
Laura hanya bisa pasrah dengan nafsu birahi Renggra yang tidak bisa di kontrol lagi. Tidak di pungkiri, Laura juga menikmati permainan Renggra yang ke-dua dan selanjutnya.
***
"Buas, Mas. Di gigit pula, nih penuh." Laura menunjuk semua tubuhnya.
Renggra hanya diam menggigit bibir bawah, merasa malu. Tariknya nafas legah untung istrinya yang langsung datang, kalau orang lain entah apa yang harus dirinya lakukan saat ini.
Tuhan benar-benar memberikan perlindungan hambanya yang benar-benar meminta pertolongan.
"Maaf ya, Yang. Mamas benar-benar nggak bisa mengendalikannya." Renggra merasa bersalah menyiksa Laura. "Oh ya, jangan bilang ini semua Bu Ani yang melakukannya." duga Renggra.
"Hmmm, sepertinya iya, sepertinya enggak. Jangan salah duga dulu Mas."
"Jika itu benar, Mamas akan marah pada Bu Ani." Renggra merasa kesal.
"Hmmm, nggak boleh gitu." cegah Laura.
"Iya gara-gara itu, Mamas menyakiti kamu, Yang."
"Hanya sebentar, udahnya nggak lagi." senyum Laura agar Renggra tidak merasa bersalah dan marah pada Bu Ani.
"Ini masih sakit nggak?"
Laura bergerak. "Aw..." baru merasakan perih di bawah sana.
"Kenapa, Yang? Sakit ya?"
"Hmmm, semuanya. Boleh nggak panggil tukang urut biar enakkan."
"Mamas aja yang pijiti kamu, Yang."
"Nggak mau, entar bukan pijitin lagi."
"Sekalian." goda Renggra.
"Libur dulu Mas," pinta Laura.
"Hmmm, Iya sayang."
Cup!
Mencium bibir Laura yang bagi Renggra candu sekali, rindunya pada sang istri membuat Renggra tidak mau lagi berpisah.
"Yang, terimakasih sudah mau menjaganya untuk Mamas."
"Jaga apa?"
Renggra tersenyum-tersenyum. "Jaga hadiah yang berarti buat Mamas."
Laura mengerti maksud dari Renggra. "Hmmm iya Mas."
Bersambung...
__ADS_1