
Renggra dan Laura jalan santai berjalan ke arah belakang villa.
"Enak ya, Mas. Udah di sini masih asli." Laura melihat sekeliling hanya di hiasi lampu jalan.
"Hmmm, damai rasanya. Nggak dengar suara kendaraan." ucap Renggra.
"Banyak juga ya Mas, rumah penduduk di sini?" Laura baru sadar di belakang rumah terdapat rumah penduduk tak jauh dari villa.
"Hmmm ayo, bentar lagi kita sampai."
"Iya, Mas."
Renggra dan Laura yang melihat warga sekitar 15 orang berkumpul bersama merasa bahagia, dirinya tidak menduga bahwa tempatnya dulu bisa seramai ini.
Pak Maman dan Bu Siti mendekati Renggra dan Laura.
"Mana Citra Bu, nggak kelihatan?" tanya Renggra saat Bu Siti dan Pak Maman berdiri di dekatnya.
Bu Siti merasa malu, telah melakukan kesalahan tadi siang di hadapan Renggra. "Citra ketiduran, Nak." jawabnya dengan rasa kurang nyaman. "Nak Laura, maafin putri Ibu ya? Tadi bicaranya kurang sopan." liriknya ke Laura dan Renggra. "Ibu doakan kalian cepat di berikan momongan dan langgeng sampai tua." senyumnya Bu Siti hanya itu yang bisa ia berikan selain doa.
"Iya Bu nggak apa-apa." jawab Laura.
Renggra tersenyum paham dengan kondisi Bu Siti yang biasanya terlihat santai, kali ini terlihat canggung. "Terimakasih atas doanya Bu, semoga Allah mengabulkannya." lirik Renggra ke Laura, dengan menaikan alis dengan mengedipkan mata kemudian tersenyum-senyum seperti memberikan isyarat.
Laura hanya tersenyum merasa kurang nyaman, dan menyipitkan mata ke arah Renggra yang selalu memberi kode.
"Iya Nak, sama-sama."
2 jam Laura dan Renggra makan-makan dan berkumpul bersama para warga di sana. Pukul 9 malam Laura dan Renggra pulang. "Seru banget ya Mas, bisa berbicara dengan warga di sini, aku jadi rindu dengan panti asuhan zaman dulu." ucap Laura berjalan santai dengan Renggra.
Renggra memegang tangan Laura, di masukkan ke dalam saku jaketnya. "Iya, Yang. Nanti kalau ada waktu kita ke sini lagi, sekalian ajak Bu Ani, Angga dan Amel."
Laura tersenyum. "Hmmm, iya Mas." merasa bahagia tangannya di pegang Renggra, di lihat seperti sepasang kekasih yang sedang bermesraan pikir Laura.
__ADS_1
Ceklek!
Dup!
Masuk ke dalam rumah.
Dreet dreet dreet.
Handphone Renggra bergetar.
Renggra langsung mengangkatnya, dan berbicara di ruang tengah.
Sedangkan Laura masuk ke dalam kamar, melepas hijab, mengganti pakaian, mencuci wajah dan kaki sebelum tidur.
Selesai menelepon Renggra masuk ke dalam kamar.
"Kamu, bicara sama siapa di handphone, Mas?" penasaran Laura sambil duduk di pinggir ranjang.
"Angga yang nelepon, Yang." jawab Renggra melepaskan jaketnya.
"Masa kamu nggak ingat, Yang?" duduknya dekat Laura.
"Enggak!" Laura merasa bingung, siapa lagi Angga pikir Laura.
"Coba kamu ingat-ingat, dulu waktu bersama Mamas kamu melihat anak laki-laki yang sering mancing di pinggir danau."
Laura mencoba mengingat kejadian yang Renggra katakan. Sekilas bayangan yang memperlihatkan kisahnya bersama Renggra dan Angga.
"Oh, Kak Angga yang suka mancing setiap hari di pinggir danau." ucap Laura tersenyum sadarnya dengan Angga.
"Hmmm, begitulah."
"Ya Tuhan nggak duga dirinya berubah jadi lebih ganteng dan wibawa gitu." Laura memuji Angga, dirinya benar-benar terkejut.
__ADS_1
Renggra langsung cemberut.
"Mamas kenapa?" Laura merasa bingung melihat wajah Renggra yang diam sambil memajukan bibir bawahnya.
"Mamas nggak ganteng dan wibawa ya, Yang?" inginnya Renggra juga di puji Laura.
Laura tersenyum, mengerti maksud Renggra yang cemburuan. "Mamas itu lebih dari apa pun, percaya sama aku. Makanya seluruh Indonesia membicarakan Mamas. Mana ada laki-laki lain." jelas Laura membuat hati Renggra berbunga-bunga.
Renggra langsung tersenyum mendengar ucapan Laura.
"Mamas ganti pakaian dulu sana, bau asep. Aku capek, mau tidur." Laura naik ke atas ranjang menyelimuti dirinya.
Angguk Renggra. "Hmmm." berdirinya jalan ke dalam kamar mandi.
5 menit Renggra bersih-bersih, dirinya keluar kamar mandi langsung tidur di atas ranjang, masuk ke dalam selimut tebal yang menutupi Laura.
"Yang, udah tidur ya?" ucap Renggra pelan.
Laura terbangun mendengar suara Renggra. "Hmmm tadi tidur, mendengar suara Mamas, jadi bangun lagi." jawab Laura pelan menahan kantuk.
"Yang?" panggil Renggra kembali.
"Hmmm, kenapa Mas?"
"Yang, besok ikut Mamas ke kantor ya?"
"Emang, kenapa Mas?" mata Laura masih tertutup, tapi menjawab pertanyaan Renggra.
"Angga telepon, ada berkas yang harus di tanda tangani. Tadinya Mamas minta dia ke sini. Tapi dia sibuk nggak sempat."
"Hmmm, Iya Mas."
"Hmmm." Renggra memejamkan mata, tak butuh waktu lama mereka berdua tenggelam bersama mimpi.
__ADS_1
Bersambung...