Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 54 Melahirkan


__ADS_3

Laura merasakan perutnya begitu sakit, beberapa detik hilang. Pikiran Laura mungkin anaknya banyak bergerak, makanya sakit.


Renggra melihat reaksi Laura, merasa cemas.


"Kenapa, Yang?"


"Untun lagi bergerak, Mas. Bikin nyeri." jelasnya yang merasa yakin, belum waktu melahirkan padahal tinggal menghitung hari.


Renggra menghembus nafas legah, di kiranya Laura mengalami kontraksi.


"Duduk dulu, Yang." Renggra membantu Laura duduk di dekatnya.


"Ibu kasihan lihat kamu, Ra. Jalan aja susah." jelas Bu Ani nggak tega melihat Laura.


"Mau gimana lagi, Bu? Sudah kewajiban saya yang akan menjadi Ibu dari anak Mas Renggra." senyum Laura melihat Renggra.


"Satu ajalah, Yang." Renggra tidak tega jika Laura harus hamil lagi.


"Jangan gitulah, Mas. Aku ingin 3 atau 4." canda Laura.


"Mamas sih oke aja, Yang. Tapi Mamas nggak mau lihat kamu begini. Bawa tubuh kamu aja susah, apalagi jalan." Renggra khawatir melihat kondisi Laura.


"Santai aja kali, Mas. Ini juga hanya sebentar, ya nggak Bu?" Laura melihat Bu Ani.


"Iya, Ra." Bu Ani hanya mengikuti Laura.


"Bagi kamu, Yang. Sebentar! Bagi Mamas seumur hidup."


"Eh, Reng. Wanita itu memang sudah kaudratnya hamil, menyusui. Tubuh wanita itu sudah di ciptakan sedemikian rupa. Jangan takut." jelas Bu Ani.


"Walau gitu, Bu. Aku nggak mau Laura kenapa-kenapa."


"Insyaallah, aman." Bu Ani menenangkan pikiran negatif Renggra.


Laura mengelus-elus perut yang nyeri kembali, rasanya semakin meningkat dan ke bagian lainnya. Tahannya mungkin kontraksi palsu.


Bu Ani melihat Laura yang dari tadi mengelus perutnya. "Ra, kenapa?" merasa penasaran.


Renggra melihat Laura.


"Itu, Bu. Perutku dari tadi nyeri, campur sakit. Sekarang lari sakitnya ke pinggang." jelas Laura.


"Apa?" Bu Ani mendekati Laura. "Reng, cepetan kamu temui Pak Manto siapkan mobil. Laura mau melahirkan." perintah Bu Ani.


"Iya, Bu." Renggra langsung Berdiri.


Laura memegang Renggra. "Mungkin belum Bu, masih kontraksi biasa." matanya melihat Bu Ani.


Renggra langsung memegang perut Laura. "Yang, siapa tau benar. Ayo ke rumah sakit dulu."


"Iya, Ra. Itu pertanda kamu mau lahiran. Lebih baik kita menunggu di rumah sakit, jika belum waktunya. Itu lebih aman dari pada di sini." jelas Bu Ani.


Laura hanya bisa diam kali ini mengikuti pendapat mereka, tak punya pengalaman dalam melahirkan hanya bermodal ilmu pengetahuan dari Dokter dan sering baca di internet membuat Laura hanya bisa pasrah.


"Hmmm iya Bu, Mas."


"Ayo," Renggra dan Bu Ani membantu Laura berdiri.


Jalan perlahan ke dalam rumah. "Reng, temuin Pak Manto siapkan mobil kita berangkat."


"Iya, Bu." Renggra berjalan cepat menemui Pak Manto.


"Aw..." Laura meringis kesakitan.


"Duduk dulu, Ra." Bu Ani nggak tega melihat Laura yang menahan sakit sambil memegangi perut besarnya itu.


"Bu, mobil sudah siap kita berangkat." ucap Renggra saat di dekat Laura dan Bu Ani.


"Iya sudah kamu duluan sama Laura. Ibu mau siapkan perlengkapan."


"Iya Bu." Renggra melihat Laura. "Ayo, Yang."


"Iya, Mas." tadinya duduk sekarang berdiri lagi.


Laura berjalan lebih cepat. "Yang jalannya pelan-pelan aja." takut Renggra.


"Lama, Mas." Laura yang menahan sakit, inginnya cepat sampai di rumah sakit.

__ADS_1


Ceklek!


"Hati-hati, Yang." Renggra terus menegur Laura, yang asal bergerak itu.


Laura hanya diam, mendengar omelan Renggra yang berlebih-lebihan pikir Laura.


Mobil perlahan pergi, meninggalkan rumah.


Laura merasa perutnya samakin sakit. 5 menit hilang, terus saja begitu. Sampailah 25 menit di depan rumah sakit.


Ceklek!


"Ayo, Yang." ajak Renggra yang memegang tangan Laura.


"Mamas tuh jangan megang tangan aku terus." Laura merasa risih.


"Nanti kamu jatuh gimana?"


"Nggak bakal jatuh Mamas. Emang aku nih lumpuh apa?" Laura merasa kesal melihat tingkah Renggra. Dirinya yang lagi menahan sakit, mendengar ucapan Renggra tambah sakit pikir Laura.


Jalan masuk ke dalam rumah sakit. Ternyata Dokter dan perawat sudah menunggu. Karena Angga di rumah telah menghubungi Dokter. Setelah dirinya di beri tau Bu Ani.


"Ayo, Bu. Kita masuk keruangan untuk memeriksa kandungan anda." ucap Dokter Ana yang berada di depan ruangan.


"Iya Dok." jawab Renggra.


Ceklek!


"Ibu Laura. Silahkan naik ke atas ranjang kita mulai melakukan pemeriksaan." jelas Suster.


"Hmmm! Iya Sus."


"Pa Renggra tunggu di luar saja. Nanti kami akan memberitahu hasilnya." ucap Dokter Ana.


"Iya, Dok."


"Yang, kamu harus santai. Jangan takut dan cema-"


"Udah keluar sana." kesal Laura mendengar Renggra yang khawatirnya berlebihan.


Dup!


Renggra menunggu di luar. "Ya Allah selamatkan istriku dan anakku." ucapnya sambil duduk di kursi depan ruangan. Rasa panik dan cemasnya, membuat Renggra tidak bisa diam begitu saja.


"Reng, gimana Laura?" Bu Ani ternyata sudah datang bersama Angga dan Amel.


"Lagi menunggu hasil, Bu."


Ceklek!


Dokter Ana keluar. "Pak Renggra."


"Iya, Dok." Renggra langsung berdiri.


"Ibu sudah pembukaan 6. Artinya sebentar lagi akan melahirkan."


"Berarti jalan tadi itu, Laura sudah pembukaan." ucap Bu Ani merasa terkejut.


"Iya begitulah." jawab Dokter Ana tersenyum.


"Sekarang Bapak Renggra ajak Ibu Laura jalan kembali, agar pembukaannya semakin cepat." perintah Dokter Ana.


"Nggak apa-apa ya, Dok." Renggra merasa khawatir.


"Nggak apa-apa." jawab Dokter Ana.


"Kalau tidur terus, nanti semakin lambat melahirkan. Kasihan Laura." jelas Bu Ani.


"Ah iya, Bu." Renggra langsung berjalan masuk ke ruangan.


"Ayo, yang."


"Iya, Mas." Laura sudah berdiri dan jalan keluar ruangan.


"Mbak, kamu baik-baik ajakan." Amel merasa khawatir.


"Aman!" senyum Laura santai.

__ADS_1


"Iya sudah, jalan-jalanlah kalian berdua. Urusan kamar dan lainnya. Serahin sama kami." ucap Bu Ani.


"Iya Bu." jawab Renggra.


"Yuk, Yang."


"Iya, Mas."


Laura dan Renggra kembali berjalan mengelilingi rumah sakit.


5 putaran mereka lakukan. "Yang, Mamas capek." Renggra duduk di kursi.


Laura berdiri.


"Yang bawa perut itu, aku apa kamu sih, Mas?"


"Aku, Yang." canda Renggra.


"Iya, kamu bawa. Tapi nggak ada isi untunnya."


"Kamu nggak istirahat dulu, Yang."


"Rencana aku mau makan, Mas." sempatnya Laura ingin makan, sebelum dirinya berjuang lebih keras lagi.


"Mau makan apa, Yang?" Renggra kembali berdiri.


"Ada nasi liwet, Mas. Di sana." tunjuk Laura di pinggir jalan.


"Iya udah ayo."


"Aw..." ingin berjalan perut Laura terasa sangat menyakitkan.


"Kenapa, Yang?" Renggra samakin khawatir. Dirinya yang selama ini tidak pernah merasa khawatir berlebihan dalam segi apapun. Semeja menikah dengan Laura, dirinya banyak olahraga jantung.


"Mas, sakit. Ada yang ngalir juga." Laura merasa mengeluarkan cairan.


"Apa? Tunggu di sini dulu. Mamas panggilkan Suster." Renggra benar-benar panik.


"Ada apa, Nak?" keluarga pasien lainnya mengumpul melihat Renggra.


"Istri saya mau lahiran, Bu."


"Mas, untun keluar." pekik Laura.


"Apa?" Renggra semakin syok.


"Suster..." teriak para keluarga yang ikut khawatir dengan Laura yang mau lahiran di tempat duduk.


"Mas, untun keluar."


"Hoek hoek hoek." Laura menahan bayinya dengan tangan.


Renggra segera membantu memegangi anaknya.


"Ya Tuhan selamat anakku dan istriku." ucap Renggra merasa gemetar memegangi anaknya.


Suster dan Dokter berlarian menghampiri Renggra dan Laura sambil membawa alat dan hospital bad.


"Semuanya minggir." ucap Suster memasang tirai.


"Pak Renggra bisa bawa Ibu Laura ke hospital bad. Anaknya biar saya yang pegang." ucap Dokter.


"Iya, Dok."


Dokter mengambil bayi di tangan Renggra.


Renggra langsung menggedong dan membaringkan Laura di atas ranjang. "Yang, kamu kuat ya?" air mata Renggra tumpah melihat keadaan Laura.


"Apaan sih, Mas. Biasa aja kali." santai Laura menyikapi Renggra. Dirinya juga merasa legah setelah anaknya lahir, rasa sakit itu seketika hilang.


"Ini anaknya, Pak." Dokter menyerahkan bayi berjenis laki-laki itu ke Renggra.


"Alhamdulillah. Hiks hiks hiks." semakin Renggra menangis. Dirinya tanpa malu menangis di depan semua orang.


Laura hanya bisa tersenyum-senyum melihat tingkah Renggra yang terbilang sangat menghayati perannya sebagai suami.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2