Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 22 Lumer


__ADS_3

Shalat magrib berjamaah telah usai. "Yang, Mamas duluan ke dapur."


"Yang!" Laura merasa terkejut, Renggra tibanya mengubah panggilan.


Renggra berhenti. "Kenapa?"


"Ah nggak apa-apa, Mas." Laura merasa hatinya berdegup kencang, Renggra memanggilnya dengan panggilan, Yang.


"Kamu mau di panggil apa?" Renggra berpikir mungkin Laura keberatan dengan panggilan Yang.


Senyum Laura. "Enggak Mas."


Renggra melihat Laura tersenyum manis, dadanya bergemuruh. Rasa ada panah yang menembus jantungnya.


"Iya sudah." Renggra berjalan kembali keluar kamar.


"Iya Mas." merapikan alat shalat.


Tak lama Laura mengintip di belakang pintu kamar. "Mas..." pekik Laura memanggil Renggra.


"Iya, Yang."


"Ada orang nggak?"


"Nggak, Yang. Hanya kita berdua di sini."


Suara yang terdengar jelas, karena keadaan rumah kecil dan sepi.


Laura tidak menggunakan hijab, rambut yang panjang di ikat ke belakang.


"Mas, masak lagi?" mendekati Renggra.


"Iya, sayang. Masa shopping." candanya.


Laura tersenyum dengan candaan Renggra. "Masak apa, Mas?"


"Sop daging, sambal mentah, tempe goreng. Hmmm enak." Renggra memotong tempe.


"Sejak kapan sih, Mamas bisa masak gini?"


"Ini hanya hobi Yang, kalau lagi libur beginilah."


"Kirain aku Mamas orangnya mau di layani aja."


"Iya dari pandangan orang lain gitu, wajar sih pengusaha sukses pasti apa-apa di layani." jelas pemikiran Renggra membuat Laura semakin tertarik pada sesosok laki-laki di hadapannya.


"Mas, sini ku bantu. Masa aku lihat aja." berupaya mengambil bahan.


"Ambil sendok aja, Yang. Cicipi yang udah masak." tunjuk Renggra lemari belakang.

__ADS_1


Laura membuka lemari. Namun, tangannya tidak sampai. "Mas, ini gimana ngambilnya. Tinggi banget." berusaha mengambil.


Renggra mendekati Laura, dan membantu mengambil sendok. Tepat berada di belakang Laura. "Ini, Yang." memberikannya pada Laura.


Cup!


Renggra mencium pipi Laura. "Mas..." pekik Laura terkejut.


Renggra tersenyum-senyum, kembali mendekati masakan.


Dengan wajah yang merona, Laura merasa malu. "Mas, mesum deh." menyipitkan matanya.


"Habis, kamu tuh bikin gemes, Yang. Nggak apa-apalah sedikit juga." jahil Renggra.


Wajah Laura semakin merona melihat tingkah laku Renggra yang membuat hatinya berdebar-debar. "Apa sih yang gue pikirin? Masa dengan ucapan gitu hati gue jadi lumer." ucap batin.


Laura mulai mencicipi masakan Renggra. "Awas panas, Yang. Pelan-pelan." Renggra mengingati.


"Iya Mas."


Mulainya Laura mencicip sup daging yang masih di dalam panci. "Hmmm, Mas. Enak banget." lidah Laura berasa di beri sesuatu agar di suruh makan terus menerus.


Renggra tersenyum, merasa puas bisa membuat sang istri bahagia.


"Kamu siapin makanan di atas meja. Udah ini kita makan bersama." Renggra menunjuk gorengan tempe di dalam kuali yang berisi minyak panas.


"Iya, Mas."


Laura dan Renggra makan bersama.


Lahapnya Laura makan, menikmati masakan Renggra. "Yang, makannya pelan-pelan. Jangan takut, Mamas habisin." nasehat Renggra.


Laura memegang sendok, ingin makan. "Mas, kita buka restoran aja yuk.? Masakan kamu enak Mas." canda Laura kembali mengunyah makanan.


Renggra tersenyum-senyum. "Mamas banyak kerjaan, Yang."


"Iya sih."


"Kalau khusus kamu, Mamas mau masakin."


"Uhuk uhuk uhuk." Laura tersedak atas ucapan Renggra yang termasuk gombal tapi bukan.


"Hati-hati, Yang. Ini minum dulu." Renggra memberikan secangkir air putih.


Laura mengambil, langsung meneguk air putih sampai habis. "Hah, ekhem." memberikan tenggorokannya agar terasa nyaman.


"Hati-hati, Yang." Renggra kembali duduk.


"Mamas sih, gombal."

__ADS_1


"Mamas nggak gombal serius."


"Hmmm, tapi ucapan Mamas bikin aku tersedak." Laura merasa salah duga, jadi malu sendiri.


"Iya udah kita fokus makan dulu, jangan bicara."


"Hmmm."


10 menit selesai makan Laura membereskan meja makan. "Mas, aku yang nyuci piring, kamu duduk aja. Tadikan kamu Mas yang masak. Giliran aku yang nyuci piring." pinta Laura.


Renggra tersenyum. "Iya, Yang. Tapi shalat isya dulu udah azan. Nanti baru cuci piring." berdirinya Renggra. "Yuk, Yang. Ambil wudhu dulu."


"Iya, Mas. Kamu duluanlah ambil wudhu. Aku bawa piring ke sana dulu." tunjuk Laura ke wastafel tempat cuci piring.


Renggra mengangguk menyatakan iya.


6 menit selesai shalat isya berjamaah, Laura mencuci piring sedangkan Renggra menonton film eksen keluaran terbaru. Liriknya Renggra merasa sangat bahagia berdua bersama Laura di villa, seperti menjalin rumah tangga yang sesungguhnya.


Tak lama Laura menghampiri. "Mas, aku ke kamar duluan ya tidur, rasanya capek mau istirahat."


"Iya, Yang." jawab Renggra dengan mata yang masih fokus menonton film.


Laura berjalan masuk ke dalam kamar, langsungnya ke kamar mandi mencuci wajah, dan gosok gigi. 3 menit selesai Laura keluar dalam kamar mandi, langsung menaiki ranjang, memeluk bantal kaki. tak butuh waktu lama dirinya terlelap ke dunia mimpi.


Renggra yang asik menonton televisi, akhirnya tertidur di kursi sofa dengan televisi masih menyala.


Jam terus berjalan.


Renggra akhirnya terbangun kembali, melihat jam pukul 4 subuh. "Hmmm, gue ketiduran di sini."


Renggra perlahan duduk, dirinya mematikan televisi. "Ambil wudhu dulu." ingin melaksanakan shalat tahajud seperti biasa, berhubung kemarin di hotel terlalu nyaman dengan adanya Laura, Renggra lupa diri dan khilaf atas perbuatannya.


Masuk kamar melihat Laura sudah bangun. "Yang sudah bangun?" jalannya ke arah kamar mandi.


Laura masih duduk di ranjang. "Hmmm, iya Mas."


Berhentinya Renggra depan kamar mandi. "Nggak bangunin, Mamas."


"Mamaskan masih tidur. Masa aku bangunin jam segini."


Senyum Renggra merasa gemas melihat Laura. Renggra mengambil wudhu selesainya keluar dari dalam kamar mandi, mengambil sejadah.


"Mamas mau sholat tahajud?" Laura merasa terkejut, semakin lama bersama Renggra dirinya banyak di beri kejutan, bahwasanya suaminya itu sesosok laki-laki yang benar-benar sempurna.


"Iya, Yang. Mau ikut?" tawar Renggra.


"Iya Mas, tunggu! Aku ambil wudhu dulu."


"Hmmm."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2