
Azan subuh berkumandang, Laura membuka mata melihat sisi kanannya Renggra masih tak kunjung pulang.
"Mungkin, Mas Renggra masih banyak kerjaan di kantor." ucap batin Laura yang semaki hari, merasa kesepian.
Suami yang sibuk dengan pekerjaan. Adakah waktu sebentar untuk bercengkerama bersama seperti pertama kali mereka menikah.
Laura turun dari atas ranjang, berjalan ke kamar mandi, mengambil wudhu, membentangkan sajadah. Lepasnya membaca Alquran.
Tidak terasa mentari telah terbit, menyinari jendela.
Laura menutup Al-Qur'an, melipat alat shalat dan meletakkan di lemari.
Tok tok tok.
"Siapa ya?" ucap batin Laura penasaran, dirinya langsung berjalan menghampiri pintu.
Ceklek!
Senyum Bu Ani, yang pagi-pagi menghampiri Laura duluan.
"Ada apa, Bu?" tanya Laura sambil membuka pintu kamar agar terbuka lebar.
Bu Ani bingung ingin mulai dari mana, ia bercerita? Dirinya memang tangan Laura. "Itu, Ra." ragunya ingin berkata.
Laura Mengedipkan mata sesekali, dengan tersenyum. "Hmmm, apa Bu?" rasa penasaran semakin dalam.
Bu Ani merasa ragu ingin berbicara, dirinya kasihan dengan Laura.
"Masuk dulu Bu," ajak Laura masuk ke dalam kamar. Bu Ani mengikutin. "Duduk di sini Bu." mendekati kursi sofa. "Ada, apa Bu?" coba bertanya kembali, ada apa gerangan Bu Ani menghampirinya pagi-pagi, saat duduk di kursi.
Bu Ani menghembus nafas panjang. "Ra, Ibu ingin sekali cerita. Tapi, Ibu takut kamu sedih." pejamnya mata sekali dengan kerutan alis.
__ADS_1
Deg!
Pikiran Laura langsung ke arah Renggra, yang sudah beberapa hari tidak pulang dan memberi kabar.
Laura hanya diam, entah rasa apa yang mengikat hatinya. Khawatir, cemas, takut menjadi satu.
Laura menghembuskan nafas panjang, semoga yang di pikirannya salah. "Katakanlah, Bu?" ingin mendengar penjelasan Bu Ani.
"Ra, Renggra masuk rumah sakit."
"Apa?" Laura terkejut, kenapa semua orang di rumah baru memberitahunya.
Berlinang air mata Bu Ani. "Sudah 1 minggu, Renggra di rawat." tak tega melihat reaksi Laura.
Laura menghembuskan nafas, merasa sesak di dada. "Kenapa, Ibu baru kasih tau aku?" air mata mulai mengalir. "Bagaimana, keadaan Mamas sekarang, Bu?" merasa semua menyembunyikan sesuatu.
Ke-dua tangan Bu Ani menyapu air mata Laura, yang terus-menerus mengalir. "Keadaan Renggra baik-baik aja sekarang. Ibu takut kamu tau, bisa membuat mu sedih." menjelaskan dengan hati yang tak mampu melihat menantu kesayangan menangis.
Laura merasa dadanya sesak. "Pasti-pasti Laura akan sedih." jelasnya. "Lebih sedih lagi kalau kalian merahasiakan hal ini semua. Aku istri sah Mas Renggra Bu, Mas Renggra pasti butuh aku di sampingnya." geram melihat semua hanya diam-diam tanpa melibatkan dirinya.
Jeleder!
Petir seperti menyambar Laura, "Lupa, lupa gimana Bu?"
"Renggra di beri obat oleh seseorang, yang tidak di kenal, Ra." Bu Ani memejamkan mata tidak sanggup melihat Laura menderita.
Air mata Laura semakin deras mengalir, menahan sesak di dada. Tega sekali orang itu melakukan hal tidak baik pada suaminya pikir Laura.
Laura menghapus air mata dengan cepat. "Kapan aku bisa bertemu dengan Mas Renggra, Bu?" siapa tau selepas bertemu, Renggra akan ingat kembali, pikir Laura.
"Bersiap-siaplah, sebentar lagi kita akan berangkat." memegang bahu Laura. "Ibu tunggu di bawah." berdiri meninggalkan Laura.
__ADS_1
"Hmmm, Iya Bu."
Dup!
Bu Ani menutup pintu.
Laura segera mandi, 5 menit selesai. Dirinya segera memakai pakaian gamis dan hijab, tidak lupa membawa tas kecil berisi handphone dan lainnya.
Turun ke lantai bawah, tidak lama dirinya berhenti berjalan, merasa kepala itu pusing. Laura menarik nafas, mungkin dirinya kurang tidur beberapa hari kebelakang menunggu kepulangan Renggra. Pusing itu hilang, Laura kembali menghampiri Bu Ani dan Amel duduk di kursi.
"Ayo, Bu." berdiri di dekat Bu Ani.
"Duduk dulu, Ra. Mobil masih di panaskan Pak Manto." perinta Bu Ani yang duduk sambil minum air teh. "Oh ya, kamu sarapan dulu Ra." meletakkan gelas di atas meja.
"Laura nggak nafsu makan, Bu." pikiran yang terus mengarah ke Renggra.
Bu Ani menepuk pelan pundak Laura. "Makan dulu sedikit aja," pintanya. "Kalau kamu nggak sarapan, perut kosong. Gimana otak berkerja dengan baik. Apalagi kamu harus sehat, biar bisa mendampingi Renggra dengan baik." bujuk kembali Bu Ani.
Amel tersenyum. "Iya, Mbak. Betul apa kata Bu Ani. Kita juga harus sehat, pintar menjaga diri, sebelum menemui pasien. Nanti kita lagi yang jadi pasien." candanya, agar Laura tidak terlalu kepikiran.
"Iya Bu, Mel." Laura merasa mendengar pendapat dari mereka ada benar juga. Paksa jalan ke meja makan, pilih yang nyaman di mulut, walau sedikit harus di makan.
3 menit selesai makan, Laura berdiri, kembali menghampiri Bu Ani dan Amel.
"Udah, Ra?" tanya Bu Ani ke Laura.
"Hmmm udah Bu."
Berdiri Bu Ani dan Amel, membawa tas di tangan.
"Yuk, kita berangkat." ajak Bu Ani.
__ADS_1
"Iya Bu." Laura dan Amel serentak.
Bersambung...