Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 32 Memaksa


__ADS_3

Setibanya di depan perusahaan Pak Manto sebagai supir pribadi Laura melihat ke belakang.


"Maaf, Nyonya. Saya di suruh Pak Renggra memberikan masker pada Nyonya dan teman Nyonya. Di luar masih banyak wartawan yang ingin mengambil foto Nyonya dan mewawancarai." memberikan masker berwarna hitam. "Nyonya tak perlu khawatir, di depan telah di jaga ketat."


"Iya Pak." Laura mengambil masker yang di berikan Pak Manto dan di berikan juga pada Merisa.


Tadinya Laura juga bingung mau keluar atau enggak melihat banyaknya wartawan, sedangkan Merisa masih tak percaya dirinya melihat perusahaan besar di hadapannya.


Laura dan Merisa memakai masker, pintu mobil di buka scurity yang berjaga.


Wartawan sibuk mengambil foto mereka berdua, serba serbi pertanyaan yang bermunculan.


Laura dan Merisa hanya diam, berjalan masuk dengan cepat langsung naik lift menuju tempat Renggra.


"Ra inikan perusahaan Oppaku?" Merisa melepaskan masker.


Laura juga melepas masker. "Elukan belum bertemu dengannya, mana mungkin elu akan percaya." jelas Laura merasa di curigai dengan sahabatnya sendiri.


Merisa memainkan tangannya. "Iya sih, takutnya Renggra lain."


Ting!


Lift terbuka.


Sampailah di depan pintu yang tertulis president director, mata Merisa membulat, jantungnya berdebar hebat. "Ini tidak mungkin, gue akan bertemu Oppa. Suami sahabat gue." ucap batin Merisa melihat Laura.


Laura tersenyum-senyum mengerti melihat wajah Merisa yang terkejut itu.


Scurity membuka pintu.


Ceklek!


Laura dan Merisa masuk, ke dalam ruangan bertemu dengan Renggra, Nova, dan Angga yang sudah lama menunggu mereka.


Merisa berhenti di samping Laura, matanya kesana kemari. Melihat 3 laki-laki ganteng yang berdiri di hadapannya. Apalagi melihat Renggra secara langsung, tidak bisa di pungkiri lebih ganteng saat melihatnya secara langsung dari pada di sosial media mau pun televisi.


Nova yang melihat Merisa terpaku, dirinya tidak berkedip melihat cantiknya Merisa.


Merisa mendekat di telinga Laura. "Ra, cubit gue lagi." pintanya.


"Serius lu?"


"Serius,"


"Kalau sakit, jangan marah ya?"


"Hmmm,"


"Emang buat apa sih, gue mencubit elu?"


"Gue hanya memastikan aja, apa gue sedang tidur dan bermimpi di mobil elu." menutupi mulutnya berbisik ke arah Laura.


"Oke, sini tangan elu."

__ADS_1


"Nah," Merisa mendekati tangannya.


Nyit!


Cubit Laura pelan. "Aaw sakit, Ra." usap lengannya yang di cubit Laura.


"Sadarkan elu?"


"Sadar sih."


Renggra, Nova, dan Angga tersenyum-senyum melihat reaksi Merisa dan Laura yang berperilaku lucu.


"Ekhem! Mer ini suamiku, yang kamu sebut Oppa." ucap pelan Laura, menunjuk Renggra di hadapannya.


"Oppa, apa benar kamu sudah menikah dengan Laura?" Merisa langsung bertanya tanpa malu, memastikan hubungan Laura dan Renggra.


Renggra tersenyum-senyum dirinya di panggil Oppa, dalam bahasa Indonesia dirinya di anggap sudah lanjut usia, dalam bahasa Korea panggilan Kakak laki-laki. Jelas sekali Renggra bertemu langsung dengan fans fanatiknya. "Iya ini istriku Laura." mendekati Laura, dan merangkul pinggangnya. Takut sang istri cemburu, saat ada wanita lain yang tergila-gila padanya.


Padahal Laura merasa biasa-biasa saja, sudah tau dengan sifat sahabatnya dari kecil, yang tak bisa melihat wajah laki-laki ganteng.


Walaupun demikian Merisa tak suka mendekati laki-laki ataupun berpacaran, hanya mengidolakan saja lewat sosial media atau dari jarak jauh.


"Sekarang elu sudah percayakan sama gue Mer?" Laura berbisik di telinga Merisa.


Angguk Merisa, menahan malu telah tak mempercayai sahabatnya sendiri.


Angga dan Nova hanya mengerutkan kening melihat Renggra telah berubah menjadi lebih agresif, memegang Laura tanpa malu-malu di hadapan mereka.


"Di upgrade ulang aja." balas Angga tersenyum-senyum.


"Mari duduk." ajak Renggra pada Angga, Nova, Laura dan Merisa.


Nova melihat Merisa terus-terusan, hatinya merasa terpana melihat wanita yang berparas ayu dan anggun di mata Nova.


Renggra melihat Nova. "Nov, ini istriku Laura?" senyum bangganya memperkenalkan kalau dirinya sudah tidak lajang lagi.


"Saya Laura Anindia." Laura mengangkat tangannya ke arah Nova.


Nova ingin membalas. "Sa-"


Renggra langsung bersalaman dengan Nova, dengan wajah tersenyum.


Laura, Merisa, Angga, mengulum senyum.


"Ternyata benar Oppa ku, bucin banget sama Laura. Hmmm so sweetnya." ucap batin Merisa.


"Iya Reng, semoga kalian berdua menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah. Kalian juga di berikan keturunan yang shaleh dan shalihah. Aamiin." Nova dan Renggra melepaskan salaman, melirik lagi ke Merisa, penglihatannya tidak bisa teralihkan, melihat Merisa yang tiba-tiba bisa mengubahnya hanya dengan tersenyum.


"Aamiin, ya rabbal alamin." Renggra dapat doa dari orang terdekat membuatnya merasa bahagia.


Angga memperhatikan kegelisahan Nova yang melirik Merisa terus-menerus.


Angga menyenggol lengan Nova. "Ajak aja kenalan." perintah Angga berbisik di telinga Nova.

__ADS_1


Nova tersenyum-senyum. "Ini siapa, Reng?" tunjuknya menggunakan jempol ke arah Merisa.


"Ini Merisa, sahabatku." Laura memegang bahu Merisa. "Kebetulan kami sedang bertemu, jadi sekalian ke sini." melepaskan pegangan.


Merisa hanya bisa senyum-senyum, melihat Nova yang tidak kalah gantengnya dengan Renggra, dirinya seperti melihat boyband asal negeri ginseng, tapi ini lebih alami dan natural, tanpa polesan apa pun sudah cetar membahana.


"Oh ya, Mer. Ini juga Angga sekertarisku." Renggra memperkenalkan Angga, siapa tau di antara 2 sahabatnya ada yang menyusul.


Senyum Merisa ke Angga. "Kenapa di sini, hanya gue yang jelek." ucap batin Merisa kembali.


"Saya Merisa." Merisa berdiri ingin bersalaman dengan Angga mengajak kenalan. Tapi tangan Merisa langsung di pegang Nova.


"Saya Nova, sekalian mewakili Angga." dirinya tidak mau Angga merebut wanita di sampingnya, apalagi menyetuhnya.


Angga, Renggra, Laura, hanya bisa mengulum senyum, sedangkan Merisa hanya bisa terkejut, detak jantungnya mengadakan resepsi. "Jangan-jangan Kak Nova, menyukai gue lagi." ucap batin Merisa yang tau saat melihat Renggra tadi.


"Nov, lepas jadilah." perintah Renggra.


"Ah iya." Nova melepaskan tangan Merisa. "Maaf." ucap Nova salah tingkah.


"Ah iya Kak, nggak apa-apa."


"Kamu kerja di mana?" tanya Nova pada Merisa.


"Kerja di supermarket Kak, hari ini libur jadi bisa bertemu Laura." jawab Merisa santai. Sadarnya hari sudah semakin sore, melihat luar jendela. "Oh ya Ra, gue duluan, ya. Bentar lagi mau bertemu Bibi di rumah ada acara." alasan Merisa merasa kurang nyaman berada di tengahnya lelaki ganteng, apalagi melihat Nova, dirinya tidak mau berharap sesuatu yang menyakiti hatinya.


"Mas aku antar Merisa pulang dulu ya?" Laura meminta izin.


"Nggak perlu, Ra. Gue naik taksi aja." Merisa berdiri.


"Aku juga mau pulang, sekalian aja. Tenang di mobil ada sopir juga." ucap Nova menawarkan diri, dirinya juga merasa ragu takut Merisa menolak.


Renggra menarik lengan Laura memberikan kedipan mata, memberikan kode.


Dari sana Renggra tau, Novalah yang tertarik pada Merisa.


"Nggak usah Kak, biar saya sendiri saja, takut juga mengganggu pekerjaan Kak Nova." tolak Merisa yang malu di antar dengan laki-laki ganteng, terlihat mapan dan kaya.


Nova tersenyum, baru kali ini dirinya di tolak, membuat Nova semakin tertantang. "Anggap aja, kamu irit uang bulanan." bujuknya.


"Nggak Kak, uang bulanan saya cukup." Merisa masih menolak.


"Kalau begitu, saya menawarkan diri." Nova semakin memaksa dengan harapan Merisa mau.


"Keras kepala juga nih orang, ah sudahlah gue terima aja." ucap batin Merisa merasa kesal. "Hmmm, iya kak." setujunya.


"Ekhem, jaga anak gadis orang ya, Nov. Antar Sampai tujuan." canda Angga memegang bahu Nova.


Nova tersenyum, akhirnya Merisa mau. "Dengan senang hati." menyindir Angga yang sebentar lagi akan menyusul, jika memang jodohnya.


Laura hanya diam dan mengedipkan mata, bingung tapi juga bahagia.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2