
Sudah beberapa hari Renggra meninggalkan rumah, Laura merasa seperti kehilangan seorang teman. Hati dan pikirannya merasa jenuh sulit di uraikan betapa rindu dirinya pada Renggra.
Berada di rumah membuat Laura merasa bosan, inginnya pulang ke panti asuhan, melihat apa kabar anak-anak panti asuhan beserta Bu Aminah. Selagi Renggra pergi keluar kota.
Duduk di taman belakang, bernuansa alam yang membuat pikiran merasa tenang dan damai.
"Kakak ipar..." pekik Amel dari belakang menghampiri Laura.
"Iya Mel." melihat ke sumber suara, Laura tau kalau itu Amel. Siapa lagi di rumah itu yang suka teriak memanggil Kakak ipar.
Amel duduk di samping Laura.
"Mbak, ngapain?" perhatian Amel melihat Laura yang murung, di tinggal suami pergi keluar kota.
"Duduk aja, Mel. Bingung mau ngapain." Laura merasa galau.
Amel tersenyum. "Mbak kangen ya, sama Mamas?" dugaannya.
Menganggukkan pelan kepala. "Hmmm, rindu sama omelannya."
"Hahaha, benar kata Mbak, sepi nggak ada yang marah-marah." Amel merasa hal yang sama, tidak ada yang bisa dirinya jahilin.
"Kamu belum mau menikah?" tanya Laura penasaran, mengalihkan pembicaraan agar tak terus-terusan memikirkan Renggra.
Bingung Amel ingin cerita atau tidak. "Menurut Mbak, aku udah pantas belum menikah?" tanyanya ingin mendengar pendapat Laura terlebih dahulu.
Bersandar di pinggiran kursi dengan sedikit menyipitkan mata. "Emang kamu usianya berapa?" tanya Laura.
"28 tahun." jawabnya lantang.
Laura terkejut ternyata usia Amel lebih tua dari usianya. "Tua kamu dong dari pada aku." wajar dari awal Laura merasa berbeda.
"Hahahaha... Nah, menurut Mbak gimana?" tanya Amel kembali.
Laura merasa malu di panggil Mbak padahal usianya di bawah Amel, mungkin menikah dengan Mamasnya ia harus memanggil Mbak. "Iya, kalau menikah dengan orang yang tepat, nggak masalah sih. Tapi kalau bukan orang yang tepat itu yang sulit di jalani." pendapat Laura yang merasa menikahi orang yang tepat.
Senyum Amel. "Iya sih, Mbak benar." merasa malu. "Menurut Mbak nih, kita mencintai orang itu tapi dia tidak mencinta atau peka sama kita. Menurut Mbak gimana?" merasa Amel ada teman yang bisa di ajak bertukar pendapat.
Selama ini hanya ada teman yang dekat, demi mendekati Renggra. Mungkin puranya akrab dengan adiknya, kakaknya bisa di garap. Amel tak sebodoh yang mereka pikirkan.
"Hahaha... Kamu nanya sama aku yang belum ada pengalaman yang seperti itu. Nikah aja dadakan." tepuk pelan bahu Amel merasa lucu, nanya dengan orang yang kurang tepat pikir Laura.
__ADS_1
"Seandainya aja nih, kalau kita ungkapkan isi hati kita ke orang itu, gimana pendapat Mbak?" inginnya Amel, Laura memberi solusi.
Senyum Laura yang merasa Amel, menyukai seseorang. "Jawab jujur, kamu menyukai siapa sih?" keponya.
Amel merasa malu, Laura tiba-tiba menebak pikiran Amel. "Menurut Mbak?" balik tanyanya lagi malu mengungkapkannya.
Laura tersenyum-senyum, benar pikirannya tentang Amel. "Emang, aku paranormal, Mel. Tau kamu pacaran ama siapa?"
"Sebenarnya." malu mengungkapkan tapi terlanjur bicara. "Sebenarnya." ragu-ragu takut Laura mengejeknya atau hal lain.
"Sebenarnya apa Mel?" Laura penasaran.
"Aku menyukai Mas Angga."
"Terus, kamu mau apa?" Laura semakin kepo.
"Mbak, nggak terkejut gitu?" Amel merasa Laura bisa-bisa saja.
"Enggak! Aku udah tau canda mu pada Mas Angga itu benar adanya." duga Laura yang melihat tingkah laku Amel beberapa hari ke belakang.
Amel dan Laura, tak tau kalau Bu Ani dari tadi mendengar pembicaraan yang membahas Amel menyukai Angga.
Bu Ani juga ingin tau bagaimana perkembangan Laura dan Renggra.
"Bagaimana kamu langsung curahkan apa isi hati mu? Malu bilang secara langsung, lewat pesan juga bisa." Laura memberi solusi, yang tak mungkin di lakukan Amel.
Laura saja merasa bingung dalam hubungannya dengan Renggra yang tiba-tiba nikah, tiba-tiba juga jatuh cinta.
Bu Ani tersenyum-senyum mendengar pendapat Laura, dirinya tidak menduga selama ini Amel mencintai Angga secara diam-diam.
Memang tak ada masalah jika mereka menikah memang bukan saudara kandung. Angga termasuk orangnya yang cukup dewasa menyikapi Amel.
Memang harus main jodoh dulu baru bisa menyatukan pikir Bu Ani. Angga juga sampai sekarang belum menentukan siapa yang akan dia nikahi, jangankan menikah punya kekasih saja belum terlihat hilalnya.
Pusing kepala Bu Ani memikirkan anak-anaknya yang sibuk dengan dunia pekerjaan.
Amel diam merenung, baginya memang tak ada jalan lagi selain hal itu.
Bu Ani mendekat. "Ekhem!" pura-puranya tak tau apa-apa. "Kalian ngapain di sini?" duduk di dekat Laura.
Mata Amel membulat takut Bu Ani tau, dan marah padanya.
__ADS_1
Laura tersenyum. "Duduk-duduk aja Bu di sini, jenuh di dalam." alihnya pembicaraan.
"Kamu boleh ke mana aja Ra, ke panti juga boleh. Nginap di sana sampai Renggra pulang." usulnya. "Tapi izin dulu sama Renggra." Bu Ani ingin Laura tak merasa lebih bosan saat di tinggal Renggra.
"Boleh, ya Bu?" Laura memegang tangan Bu Ani.
"Iya Ra, boleh."
Laura tersenyum. "Kalau gitu, aku ke kamar dulu ya Bu, mau nelepon Mas Renggra."
"Hmmm,"
Laura melihat Amel. "Aku ke kamar dulu,"
"Iya Mbak." senyum Amel.
Laura berdiri, berjalan ke dalam rumah dengan sedikit berlarian. Bahagianya, bisa pulang ke panti asuhan, rindunya tak terbendung.
Ceklek!
Masuk ke dalam kamar mengambil handphone di atas meja, menekan layar mencari nomor Renggra, meletakkan di telinganya, menunggu jawaban.
"Assalamu'alaikum, sayang." suara merdu Renggra membuat Laura merasa semakin rindu.
"Waalaikumussalam, Mas."
"Ada apa, Yang? Maaf Mamas belum bisa pulang."
"Iya Mas, aku tau. Mamaskan udah bilang 1 minggu di sana."
"Hmmm, iya sayang."
"Mas, aku boleh nggak ke panti tidur di sana, selama Mamas di Semarang. Nanti kabarin aku aja kalau Mamas udah pulang." Laura berusaha merayu Renggra.
"Iya boleh, tapi hati-hati ya, Yang. Kalau ada apa-apa, langsung telepon Mamas." perintah Renggra dengan mengizinkan.
"Iya Mas, pasti aku telepon. Udah dulu ya Mas, Assalamualaikum. Jaga kesehatan."
"Iya sayang, kamu juga. Waalaikumussalam."
Laura mematikan panggilan, rasanya bahagia bisa mendengar suara Renggra.
__ADS_1
Bersambung...