
Matahari pagi menyinari wajah Laura, mengedipkan mata tandanya terbangun, membuka secara perlahan dan duduk.
Melihat jam di dinding, ternyata sudah pukul 8 pagi. "Ah gue kesiangan." cepatnya turun dari atas ranjang, tadinya sehabis sholat subuh Laura berniat tidur-tidur santai, tidak taunya ketiduran.
Laura masuk dalam kamar mandi untuk membersihkan wajah, setelah itu mengelapnya. Masih menggunakan pakaian tidur dan hijab langsungan yang dirinya pakai keluar kamar.
Ceklek!
Melihat ruangan ternyata masih sepi, berjalan pelan-pelan melihat sana sini sambil turun dari tangga.
"Kemana semua orang?" ucap batin Laura.
Bi Siska yang melihat Laura seperti mencari sesuatu, dirinya langsung mendekat. "Nyari siapa, Non?"
"Astaghfirullah," terkejut Laura melihat Bi Siska sudah berada di belakangnya. "Bibi ngagetin aja." sambungnya memegang dada yang berdebar-debar.
"Habis Nona fokus banget, emang nyari siapa sih?" kepo Bi Siska.
"Semua orang di mana, Bi? Mas Renggra, Ibu Ani dan laki-laki yang ada di rumah ini." tanya Laura melihat ke seluruh ruangan.
"Tuan Renggra dan Tuan Angga sudah pergi ke kantor ada urusan mendadak, sedangkan Ibu Ani sedang sibuk mempersiapkan acara pernikahan Nona dan Tuan Renggra. Pesan Tuan Renggra nanti siang dia akan mengajak Nona keluar, tunggu saja di dalam kamar atau di taman belakang." jelas Bi Siska.
"Eh Bi, siapa nama laki-laki tadi?" Laura penasaran dengan Angga.
"Tuan Angga maksudnya, Non?"
"Oh namanya Angga, dia itu katanya sekertaris Mas Renggra ya, Bi? Soalnya semalam Mas Renggra bilang ke saya, nama Pak Angga. Tapi yang membuat saya bingung, kok sekretaris tinggal di rumah ini, sebenarnya dia siapa sih, Bi?" kepo Laura.
"Oh itu keluarga angkat Tuan Renggra, saat masih kecil. Cerita selanjutnya Bibi nggak bisa jelasin, lebih baik Nona tanyakan saja pada Tuan Renggra." Bi Siska tidak ingin bercerita tentang masa lalu Renggra.
"Bibi tega banget ngasih informasi nggak selesai." Laura merasa kesal.
"Bibi mah orang luar atuh, Non. Mana tau cerita selanjutnya." bohong Bi Siska.
"Iya juga sih." ucap Laura pelan.
"Lebih baik, Nona sarapan dulu." solusi Bi Siska.
"Hmmm, iya Bi. Tapi boleh nggak aku makan di teras atau taman yang di bilang Bibi tadi."
"Boleh atuh, Non." jawab Bi Siska.
"Oke!" Laura mengangkat tangan berbentuk emoji ok dengan tersenyum.
"Bibi ke belakang dulu, mau lanjut lagi bersih-bersihnya. Oh iya, Bibi baru ingat. Kata Tuan Renggra tadi, Nona mau apa aja di rumah ini di perbolehkan." jelas Bi Siska.
Laura tersenyum-senyum. "Alhamdulillah, iya Bi."
Bi Siska berjalan ke arah belakang meninggalkan Laura, sedangkan Laura berjalan ke meja makan mengambil sarapan pagi.
Selesainya mengambil sarapan, Laura jalan ke teras yang semalam duduk bersama Renggra. Mulainya memakan roti panggang bersisi sayur, tomat, daging, dan lainnya, serta susu rasa vanila. "Enak banget jadi orang kaya, bangun tidur terus makan yang beginian." ucap batin Laura sambil mengunyah makanan.
Terlintas di benak pikiran Laura tentang Ibu Aminah. "Oh iya, gimana gue bisa memberi kabar ke Ibu dan teman-teman di panti, nanti Ibu nyariin gimana? Keluar nggak bisa."
Laura berpikir mencari solusi, dirinya berdiri masuk ke dalam mencari Bi Siska.
__ADS_1
"Bi Siska..." Laura memanggil sambil berjalan ke sana sini.
"Iya, Non." jawab Bi Siska dari belakang. "Ada apa nyari, Bibi?" tanyanya saat di dekat Laura.
"Bi, Mas Renggra berkata suatu nggak masalah aku bisa menghubungi keluargaku?"
"Oh iya, Bibi baru ingat. Kata Tuan Renggra, Nona jangan khawatir, semuanya sudah tau." jelas Bi Siska.
"Maksudnya?" Laura belum mengerti.
"Intinya Nona tunggu aja Tuan Renggra pulang, jangan di pikirkan hal lain."
"Maksud Bibi, semua keluarga aku sudah tau."
"Iya begitulah, Non."
"Hmmm, syukurlah kalau begitu."
"Ada yang ingin Nona tanyakan lagi?"
"Hmmm, nanti aja, Bi. Aku mau lanjut makan dulu."
"Iya, Non."
Laura kembali ke teras duduk dan melanjutkan sarapan.
"Berarti semua sudah tau, cepat banget Mas Renggra. Ah sudahlah pusing gue." ucap batin Laura.
10 menit Laura makan, membawa bekas piringnya ke dalam, mengikutin jalan Bi Siska tadi yang mengarah ke ruang lainnya.
"Bi, biar aku aja yang nyuci piring." pinta Laura setelah menemui Bi Siska yang mengelap kitchen set.
"Nggak bisa kabur juga Bi, pagar aja tinggi-tinggi, di tambah pagar besi di jaga scurity." jelas Laura.
"Alhamdulillah, aman berarti." canda Bi Siska.
"Iya alhamdulillah," Laura tersenyum dengan mulainya mencuci piring, sat set selesai. "Ini di letakin di mana Bi?" Laura melihat Bi Siska.
"Tuh di sana aja, Non." jawab Bi Siska menunjuk rak piring besi.
Laura langsung meletakkannya.
"Kalau begitu aku ke kamar dulu Bi, mau mandi."
"Oke, Non." jawab Bi Siska ramah, dirinya terlihat asyik saat bersama Laura. Jadinya Laura merasa nyaman tinggal di rumah itu.
Laura jalan kembali ke lantai atas.
Ceklek!
Dup!
Langsung masuk ke dalam kamar.
Dup!
__ADS_1
5 menit selesai.
Ceklek!
Laura berjalan cepat ke dalam ruang pakaian, memilih pakaian santai.
3 menit saja selesai.
Jalan lagi ke arah pintu.
Ceklek!
Turun lagi ke lantai bawah, mencari tempat yang di katakan Bi Siska.
Rumah yang terbilang luas membuatnya bingung mencari lokasi.
Ternyata ada sebuah pintu yang terbuka, dirinya langsung berjalan cepat ke sana.
Setelah sampai Laura melihat taman yang begitu indah, di sana terdapat sebuah air terjun dan danau buatan serta 2 ekor angsa putih sedang berenang. Ada juga burung berkicau di sana dan bunga-bunga yang sedang bermekaran.
Dirinya bagaikan di istana dongeng.
Melihat tempat duduk terbuat dari besi berwarna hitam, menarik perhatian Laura, dirinya langsung berjalan dan duduk di tepi danau.
"Ini gue lagi di surga apa ya?" ucap Laura melihat taman yang begitu indah, tempat yang membuat pikirannya merasakan nyaman dan tenang.
"Enak banget di sini?" berdiri dan berjalan mendekati danau, memainkan air yang jernih.
"Kira-kira ada ikan nggak ya?" melihat kolam, mencari ikan.
"Berhenti!" teriak seorang laki-laki dari belakang Laura.
Laura melihat ke arah sumber suara sambil berdiri, ternyata Renggra mendekatinya.
"Ra, jangan bunuh diri." cegah Renggra saat di dekat Laura.
"Siapa yang mau bunuh diri?"
"Itu, kenapa dekat banget dengan danau?" Renggra merasa khawatir.
Laura mengeluarkan nafas kasar. "Itu tadi lagi nyari ikan, siapa tau ada. Kalau ada, aku mau mancing, jadilah buat makan siang kita." canda Laura. "Oh ya, dari mana aja Mamas baru pulang? Berangkat kerja ya?" sambung Laura.
Renggra mengangguk. "Hmmm ada rapat sebentar. Bersiaplah kita akan ke panti asuhan." perintahnya.
Laura yang mendengar Renggra berbicara bahwa ia akan pulang, dirinya tersenyum. "Serius Mas, hari ini aku pulang ke rumah?"
"Hmmm, acara lamaran." jelas Renggra.
Laura terdiam. "Lamaran?"
"Iya, cepetan ganti pakaianmu. Ibu Ani dan Angga sudah menunggu di depan."
"Bentar Mas! Cepat banget hari ini langsung lamaran?" bingung Laura kapan mereka menyiapkan semuanya.
"Lebih cepat lebih baik, Ra. Udah cepetan." perintah Renggra kembali.
__ADS_1
"Iya-iya sabar." berjalan ke arah pintu masuk.
Bersambung...