
Acara hampir berakhir, Laura sejak pagi sampai malam berdiri belum juga istirahat, hanya duduk sebentar, makan, shalat, dan mengganti pakaian.
Sisanya Laura masih menyambut para tamu undangan yang terus berdatangan, dirinya hanya bisa menahan tungkai kaki bagian belakang terasa perih akibat sepatu yang di gunakan.
"Duh..." Laura yang menggerakkan kakinya sedikit susah.
"Acara telah berakhir pada waktunya. Mari pada hadirin undangan di persilahkan berdiri untuk mengucapkan selamat pada mempelai kita." pemandu melihat Laura dan Renggra, dengan musik instrumen yang romantis berjudul you are my everything. "Saya sebagai pemandu acara, mewakili para tamu undangan. Selamat menempuh hidup baru Bapak Renggra dan Ibu Laura semoga rumah tangga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah dan di berikan keturunan yang shaleh dan shalihah. Aamiin ya rabbal alamin. Mari Bapak Ibu di persilahkan kembali ke dalam kamar untuk meranton." canda pemandu acara dengan tertawa, para tamu undangan juga banyak yang tertawa dan tersenyum-senyum.
"Suka kalian ya berpikir mesum berjamaah." ucap batin Laura merasa kesal.
"Maaf saya hanya bercanda Bapak Renggra." sambung pemandu acara.
Renggra hanya tersenyum-senyum menganggukkan kepala.
"Ayo Ra." tangan Renggra menggenggam tangan Laura mengajak berjalan.
"Aw..." Laura tidak dapat melangkah akibat kaki yang sudah semakin parah perihnya.
"Kenapa Ra?" Renggra terlihat khawatir.
"Itu Mas, kaki aku." Laura menunjuk kakinya.
Renggra langsung melihat kaki Laura yang telah mengeluarkan darah segar. "Kenapa nggak bilang dari tadi?" merasa khawatir.
Laura hanya tersenyum, kurang nyaman.
Renggra langsung saja menggendong Laura, semua orang yang melihat terkejut melihat Renggra menggendong sang istri dengan romantis.
Renggra berjalan turun dari atas panggung menggendong Laura. "Mas, turunin aku." ucap Laura menahan malu, di perhatikan banyak orang.
"Diam Ra, kaki kamu itu terluka jalan aja nggak bisa." Renggra merasa kesal melihat Laura yang tidak menurut padanya.
Nova dan Angga benar-benar terkejut melihat Renggra dengan romantisnya menggendong Laura.
"Ga, elu lihatkan?" tanya Nova.
"Iya gue lihat." jawab Angga.
Bu Ani, Bu Arsa dan Bu Aminah hanya bisa tersenyum, melihat Renggra dan Laura.
Renggra berjalan santai kembali ke kamar. Sampai di depan pintu.
Ceklek!
Bu Arsa membuka pintu, dirinya yang langsung mengikuti Laura dan Renggra dari belakang untuk melepaskan pakaian yang di pakai Laura dan Renggra.
Renggra meletakkan Laura di atas ranjang.
"Kita buka pakaian dulu ya sama perhiasan, sabar." ucap Bu Arsa berpikiran ke arah lain.
"Iya, Bu." Renggra melepaskan sepatu Laura. "Tahan ya, Ra." ucap Renggra.
"Hmmm iya, Mas." meringis kesakitan.
Bu Arsa yang melihat terkejut sepatu yang di pakai Laura banyak darah yang mengalir. "Ya ampun, Ra. Kenapa kamu nggak bilang? Pantas saja Renggra menggendong kamu." Bu Arsa merasa cemas melihat kondisi Laura.
Laura tersenyum. "Tadinya mau bilang Bu, berhubung acara hampir selesai, jadi sekalian aja." bohong Laura.
"Tahan bentar. Mamas panggil pelayan dulu, meminta obat."
"Ah nggak usah Reng, Ibu bawa di dalam tas, kotak P3Knya." cepat Bu Arsa mengambil. "ini," Bu Arsa memberikan pada Renggra yang duduk jongkok di hadapan Laura.
"Tahan ya, Ra?" Renggra mulai membersihkan darah Laura dan memberi obat.
"Aw..." ucap Laura merasa perih.
Renggra langsung meniup kaki Laura yang teras perih itu, agar sakitnya berkurang pikir Renggra.
Laura terdiam melihat Renggra yang dengan teliti mengobatinya, ada rasa kagum terbesit di sana.
__ADS_1
"Udah..." Renggra berdiri setelah memasangkan handiplast di ke dua kaki Laura.
"Terimakasih, Mas." Laura ingin turun.
"Mau kemana, Ra?" tanya Renggra.
"Berdiri Mas, mau melepaskan pakaian dan," Laura menunjuk kepala yang terasa berat itu.
Pagi memakai adat sumatera barat malam memakai gaun putih, dengan kepala yang di pasang sanggul di dalam hijab dan mahkota yang lumayan berat.
"Hmmm." Renggra memegang tangan Laura. "Berdirilah." perintah Renggra.
"Ah iya, Mas." Laura mengikuti.
"Pelan-pelan, Ra." ucap Bu Arsa.
"Iya, Bu."
Bu Arsa melihat asisten pribadinya. "Ayo cepat kita buka pakaian dan aksesorisnya."
"Iya, Bu." jawab asisten Bu Arsa bernama Ira
"Kamu, Ben." ucap Bu Arsa melihat Beni asistennya. "Lepaskan pakaian Pak Renggra di kamar 190."
"Iya, Bu." jawab Beni.
"Mamas ke samping dulu, Ra. Entar ke kamarnya sama-sama." ucap Renggra.
"Iya, Mas."
Dup!
Pintu di tutup, Ira menguncinya.
"Ayo Ra duduk dulu, di kursi." ucap Bu Arsa.
5 menit saja Laura merasakan kemerdekaan pada dirinya.
"Ra, gantilah pakai kamu di kamar mandi." perintah Bu Arsa.
"Iya Bu." Laura berdiri, lanjutnya ke kamar mandi menggantikan pakaian, serta mencuci wajahnya dengan sabun.
Bu Arsa dan Ira membereskan alat-alat yang telah di pakai Laura tadi.
Tok tok tok.
Ira langsung membuka pintu.
Ceklek!
"Mana Laura, sudah belum?" tanya Renggra.
"Udah, Mas." jawab Laura keluar dari dalam kamar mandi.
"Iya udah kalau gitu, kita ke kamar sekarang?"
Deg!
Jantung Laura mulai berdegup kencang, pikirannya kemana-mana.
"Tapi aku belum bantu Bu Arsa memberes-."
"Nggak perlu Ra, udah pergi sana sama Renggra." ucap Bu Arsa memotong ucapan Laura.
"Apa?" ucap batin Laura yang tidak bisa menolak ajakan Renggra.
"Hmmm, iya Bu. Terimakasih." ucap Laura.
Senyum Bu Arsa. "Iya, Ra. Sama-sama."
__ADS_1
Laura memakai sendal tipis yang telah di sediakan oleh pihak perhotelan, mengikutin jalan Renggra yang mendekati lift.
Ting!
Masuk ke dalam lift.
Jantung Laura semakin hebo, dirinya bingung harus apa?
Renggra hanya tersenyum-senyum melihat Laura gelisah.
Ting!
Renggra berjalan keluar di ikuti Laura dari belakang.
Ceklek!
Renggra masuk ke dalam kamar, sedangkan Laura masih di depan pintu. Dirinya bingung harus apa?
"Ra, masuk ngapain di luar?" sadar Renggra melihat Laura berdiam diri di ambang pintu.
Senyum Renggra yang paham dengan tingkah Laura. "Tenang Mamas nggak akan nyentuh kamu. Sebelum kamu sendiri yang memberikannya." Renggra memberikan penjelasan, agar Laura tidak takut padanya.
"Hmmm, Iya Mas." Laura melangkah masuk ke dalam kamar.
Dup!
Menutup pintu.
Laura melihat ruangan itu begitu indah, dengan ranjang yang bertaburan bunga mawar merah, seprai putih di lapis kain berwarna merah. Khas kamar pengantin itu, membuat detak jantung Laura semakin kuat.
"Tapi Mas Renggra udah bilang nggak akan menyentuh gue, berarti aman." ucap batin Laura.
"Mandilah duluan." perintah Renggra.
"Hmmm iya, Mas." tibanya berhenti. "Pakaian gantinya, nggak ada Mas?"
Renggra membuka lemari pakaian. "Ini," menyerahkan pakaian tidur berlengan pendek, celana panjang serta pakaian dalamnya.
"Hijabnya Mas?"
"Ra, memang kamu kalau sendirian pakai hijab di dalam kamar atau di ruangan lainnya." Renggra merasa kesal.
"Enggak, Mas." jawab Laura langsung.
"Terus kenapa di pakai?"
"Ada Mamas." jujurnya Laura berkata.
Renggra melepaskan nafas kasar. "Ra pakai apa yang aku beri, atau." gantung Renggra mengancam Laura.
Laura susah untuk menelan saliva, merasa ancaman Renggra begitu bahaya. "Iya Mas." langsungnya masuk ke dalam kamar mandi.
Ceklek!
Dup!
Huuuf!
"Kenapa sih, sifat Mas Renggra berubah-ubah gini?" menarik nafas yang tadinya hilang seketika.
Mata Laura kesana kemari melihat lantai kamar mandi sampai ke dalam bathtub bertabur bunga mawar.
"Sebenarnya gue nih, nikah sama Mas Renggra untuk apa sih?" ucap Laura merasa bingung. "Sedangkan tadi Mas Renggra main peluk, terus cupika cupiki sama wanita lain, di depan gue lagi. Benar berarti Mas Renggra nih, suka jajan di luar." Laura terus menggerutu, kesalnya melihat Renggra yang bermesraan dengan wanita lain.
"Sudahlah terserah Mas Renggra aja maunya apa, jangan aja dia gangguin gue." masihnya berbicara sambil membuka hijab, pakaian, tibanya mandi tanpa menyentuh air di dalam bathtub yang sudah di siapkan untuk sepasang kekasih itu.
Laura yang melirik bathtub membayangkan Renggra dan wanita cantik tadi merasa ubun-ubun kepalanya merasa panas.
Bersambung...
__ADS_1