
Laura terdiam, saat sepenuhnya sadar bahwa itu adalah Renggra bukan hantu yang di pikirannya.
Scurity menemui Renggra. "Maaf, Tuan. Kami belum ju-" berhenti melihat Laura berada di samping Renggra.
"Ah ini, Nyonya." tunjuk scurity ke arah Laura.
"Hmmm, lebih baik kalian pulang ketempat kalian." perintah Renggra.
"Siap, Tuan!" mereka berempat pergi secara perlahan.
Laura merasa bingung dirinya harus apa?
"Kamu, mau pergi?" tanya Renggra santai.
Laura mengusap bahunya. "Tadi saya hanya olahraga, Pak. Scurity aja salah duga." bohong Laura sebelum Renggra marah.
"Jujur?" santainya berbicara.
Laura merasa aneh melihat Renggra yang suka berubah sikap.
"Hmmm, saya bosan di dalam rumah." bohongnya lagi.
Senyum Renggra. "Kamu boleh pulang untuk beberapa hari ke depan."
"Ah serius, Pak. Kita batal nikah?" Laura merasa bahagia.
"Nggak jadi kalau gitu pulangnya." Renggra berubah lagi, dirinya merasa kesal dengan tingkah Laura yang selalu ingin kabur. "Masuklah ke kamar, jangan membuat keributan lagi, awas! Jika sampai melakukannya. Saya tidak akan segan-segan membunuh keluargamu sampai tujuh keturunan." ancamnya agar Laura tidak pergi meninggalkannya.
"Maaf, Pak. Tujuh keturunan maksudnya?" Laura bukan takut, malah terlihat bingung.
Renggra sempat berpikir. "Iya yah, salah gue berucap. Kalau tujuh keturunan berarti anaknya Laura, cucu, cicit dan lainnya, sedangkan dirinya saja tidak mempunyai ibu kandung, atau saudari kandung." ucap batin.
"Ah salah, kita revisi ulang."
Laura mengulum tawa, pikirannya Renggra seperti mempunyai kepribadian ganda.
"Kenapa tersenyum?" Renggra penasaran dengan tingkat laku Laura.
"Nggak apa-apa, Pak. Silahkan anda merevisi ancaman anda pada saya." Laura semakin mengulum tawa.
Renggra kehabisan kata-kata saat dirinya malah di ketawain Laura.
"Mari duduk di sana." Renggra menunjuk kursi santai di dekat teras.
"Ngapain, Pak?" Laura terlihat santai, takutnya hilang begitu saja melihat tingkah Renggra yang sering berubah-ubah.
"Ghibahin Pak Renggra." wajahnya berubah datar merasa malu, berjalan cepat.
Laura menahan tawa, perutnya terasa sakit melihat tingkah Renggra yang lucu, dirinya mengikuti dari belakang.
"Ada apa, Pak?" tanya Laura setelah duduk berhadapan.
"Jujur saya orangnya tidak bisa terlalu datar, saat melihat kamu." jelasnya.
"Hmmm, terus Pak?" pikir Laura, berarti tadi Renggra yang suka mengancam, hanyalah candaannya saja.
"Terus memanggil saya, Bapak?" terlihat tidak sukanya.
Laura ke mode serius, melihat Renggra yang suka berubah-ubah sifat.
"Hmmm, iya Mas ganteng." candanya supaya terlihat lebih santai.
Renggra tersenyum-senyum di puji Laura. "Terimakasih! Ekhem," mengetes suara. "Maaf, saya hari ini membuat kamu kurang nyaman." jujurnya. "Saya sekarang ini dalam posisi kurang nyaman juga, kamu taukan sudah beberapa bulan ini saya jadi perbincangan masyarakat, Indonesia." mencari sebuah alasan.
"Iya, Pak! Eh salah, Mas."
"Di tambah, Ibu Ani pengasuh saya memaksa untuk menikah." akting Renggra berwajah sedih.
"Terus?"
"Saya hanya bisa meminta tolong untuk nikahi saya." Renggra berucap sambil bercanda agar Laura terlihat akrab dengannya, itu lebih baik dari pada melihat Laura ketakutan melihat dirinya.
__ADS_1
"Hahaha..." tawa Laura.
"Kenapa?" Renggra merasa bingung.
"Mas, masa saya menikahi anda yang beda derajat ini. Uang aja nggak ada, buat beli mahar. Lagian terbalik kali, masa saya yang menikahi kamu, Mas." masihnya tertawa.
"Ah terbalik, maksudnya saya yang akan menikahi kamu."
"Ekhem! Mamas mau bayar saya berapa untuk pernikahan ini, atau butuh surat kontrak?" Laura mulai serius, menyangkut masa depannya.
"Kamu butuh berapa?"
"Hmmm! Upah gaji sebulan aja."
"Oke, setuju."
"Soal surat kontraknya?"
"Nanti saya kasih."
"Hmmm kira-kira setelah menikah, saya masih boleh kerja nggak, Mas?"
"Emang kamu mau kerja?"
"Iya dong, Mas!"
"Uang yang saya kasih, masih nggak cukup?"
"Lebih dari cukup. Hanya saja, saya manusia biasa. Mudah jenuh, bosan, dan lainnya kalau di rumah aja tanpa kerjaan."
"Hmmm, boleh. Tapi-"
"Apa Mas?"
"Kerjanya sama saya." solusinya.
"Apa pekerjaan saya, Mas?"
"Begini, kalau di kantor ada Angga yang jadi asisten saya. Di rumah kamu yang menggantikan dia."
"Kerjaan kamu itu, melayani saya. Semua kebutuhan saya, kamu yang ngatur."
"Itu sama aja saya melayani mamas sebagai istri."
"Iya emang kenapa?"
"Ah, nggak luculah. Pekerjaan yang lain." nego Laura. "Masa Mamas punya perusahaan besar nggak ada kerjaan buat saya."
"Gini aja, soal itu saya pikirkan lagi. Nanti saya konfirmasi pekerjaan apa yang cocok untuk kamu, ok! Sekarang saya mau tanya, kamu mau tidak menikah dengan saya dalam jarak satu minggu lagi?"
"Hmmm! Nggak terlalu cepat, Mas?"
"Mau atau tidak?" tekan Renggra butuh kepastian.
"Iya-ya mau, tapi sampai kapan kita nikah?" tanya Laura serius.
"Selamanya."
"Kenapa begitu, apa Mamas tidak kasihan sama saya yang butuh pendamping hidup beneran?"
"Emang saya kurang apa?"
Laura terdiam, iya sih kurang apa ya? pikirnya.
"Nggak ada sih, Mas. Hanya saja, kepikiran masa mamas nggak mau menjalankan kehidupan seperti yang lain. Contohnya, mencoba mencintai wanita lain dengan hidup bahagia."
"Cukup kamu Ra!" tekannya.
"Maksudnya?"
"Kamu telah menyentuh saya, menabrak saya, memfitnah saya, kalau saya tidak memikirkan kamu, udah dari tadi saya bawa kamu ke pihak berwajib, atas tindakan kamu itu, saya di sini merasa di rugikan, sudah berbaik hati masih saja di-"
__ADS_1
"Berhenti, Mas!" putus Laura merasa ketakutan, dengan ceramah Renggra yang terus menyudutkannya.
"Mamas belum selesai Laura."
"Tapi saya mengerti maksud Mamas."
"Syukurlah kalau sudah paham, bagaimana kita mulai dengan berpacaran?" solusinya.
"Gunanya surat kontrak apa, Mas?"
"Yang itu batal,"
"Terus kalau aku atau Mamas tidak saling mencintai?"
"Kita lihat saja nanti."
"Sampai kapan?"
"Ra, semua butuh proses, kita nggak tau kapan kita hidup maupun mati? Begitu juga dengan perasaan manusia, kamu ngertikan?"
Laura berpikir sejenak. "Ada benarnya juga." ucap batin.
"Hmmm, iya Mas. Jadi sekarang aku harus apa, sebelum kita menikah?"
"Kamu lebih baik diam di rumah, nggak perlu kemana-mana."
"Ya ampun Mas, jenuhnya. Apalagi aku nggak boleh ngapa-ngapain. Serba serbi di layani, hanya tidur, duduk, melamun." Laura merasa kesal.
Renggra tersenyum, melihat Laura ternyata lebih santai, tidak terlihat ketakutan lagi dan kembali pada tingkah lakunya yang dulu suka terang-terangan.
"Kamu maunya apa?"
"Boleh nggak saya di sini nyapu, ngepel, ngerumput, ngerumpi, masak, dan lain-lain. Maaf Mas, saya orangnya nggak bisa diam aja, sudah terbiasa sejak kecil."
Renggra terdiam memang benar adanya yang di ucapkan oleh Laura. "Kalau begitu, nanti mamas bicarakan pada Bu Ani, karena beliau yang mengatur segala isi rumah."
"Hmmm, baiklah Mas. Jangan enggak ya?"
"Kalau enggak?"
"Aku kabur lagi, sejauh mungkin." Laura yang sekarang mengancam Renggra, dengan mengakui tadi itu inginnya kabur.
"Mamas bisa mendapatkan kamu lagi."
"Kalau aku mati?"
"Berhenti Laura, jangan bicara begitu."
Laura menarik nafas kasar. "Intinya Mas, aku nggak mau di kurung di kamar aja, titik."
"Hmmm, baiklah! Sekarang sudah malam." melihat lingkungan sekitar. "Lebih baik kita istirahat." ajaknya
Laura terkejut. "Ah, satu kamar, Mas! Kitakan belum nikah."
"Kamu di kamar Mamas, sedangkan Mamas di kamar lainnya. Jika sampai Mamas tidur satu kamar sama kamu sebelum menikah, Mamas bisa-bisa di kubur Bu Ani hidup-hidup." jelasnya.
"Oh, Mas Renggra ternyata takut dengan Bu Ani." ucap batin Laura.
"Mas, boleh tanya nggak?"
"Hmmm, apa?"
"Orang tua Mamas mana dan laki-laki ganteng tadi itu, saudara Mamas ya?"
Renggra merasa cemburu mendengar Laura menyebut Angga ganteng, sedangkan dirinya di katain seram. "Orang tua Mamas telah meninggal, sejak Mamas berusia 15 tahun yang lalu."
"Hmmm, kare-"
"Nanti kita bicara lain waktu, Mamas lagi banyak kerjaan." putus Renggra berdiri, dirinya belum siap mengingat trauma itu kembali.
"Ah, iya Mas."
__ADS_1
Laura merasa penasaran, tapi melihat reaksi Renggra yang banyak pekerjaan mungkin jika ada waktu dirinya akan bercerita dengan sendirinya.
Bersambung...