
3 bulan berlalu, kondisi Laura telah pulih kembali. Menggendong sang buah hati di tangannya sambil berjemur di bawa sinar terik mentari pagi.
Renggra mendekati Laura, yang tampak cantik dan menawan melihat kepiawaiannya mengendong baby Yusuf.
"Yang, Mas berangkat dulu ya?" mencium baby yusuf. "Ayah berangkat dulu ya, Nak. Jaga Bunda di rumah." suara pelan di lontarkan Renggra sambil mengelus kepala Yusuf.
Laura melihat Renggra dengan tersenyum. "Hati-hati ya, Mas?"
"Iya, Yang." Renggra menunduk sedikit.
"Malu, Mas. Di lihat mereka?" bisik Laura, melihat tukang kebun.
Renggra mengigit bibir bawa, mengintip dengan mata sebelah. "Nggak papa, Yang. Kamukan istri Mamas." menutup mata kembali. "Sedikit aja." Renggra yang sudah lama tidak di perhatikan, akibat Laura fokus ke Yusuf.
Laura tersenyum, mengerti maksud dari Renggra. Ia mencium kening suaminya itu.
Cup!
Renggra tersenyum-senyum bahagia, dirinya di beri ciuman manis dari Laura.
Cup!
Renggra mencium kening Laura.
"Mamas berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Perasaan terlukis bahagia mengarungi bahtera rumah tangga mereka berdua.
Tidak lama Laura masuk ke dalam rumah, dengan membawa baby Yusuf yang sedang tertidur pulas.
Laura melihat Bu Ani sibuk melihat foto-foto album tebal di tangannya yang berserakan di atas meja bersama Amel.
"Pada ngapain?" penasaran Laura yang duduk di samping Bu Ani.
__ADS_1
"Ini lagi lihat-lihat undangan buat pernikahan Amel." membolak-balik foto undangan yang terpajang.
Setelah Laura pulang kerumah, Bu Ani menyidang Angga dan Amel. Menanyakan bagaimana tindak lanjutan hubungan mereka.
Flashback
"Kalian berdua mau bagaimana? Beri keputusan sekarang. Ibu mau dengar. Jangan kalian berdua setiap hari bertengkar dengan masalah itu-itu saja." ucap Bu Ani, merasa pusing melihat tingkah laku Amel dan Angga.
"Aku pikir, memang salah. Dari awal, seharusnya aku nggak membuat masalah ini." Amel melihat Angga. "Mas, maaf! Gara-gara aku, hubungan kita jadi renggang." jelas Amel, mungkin mereka berdua harus berbicara baik-baik.
"Iya, Mamas juga minta maaf. Tapi, Mel. Mamas serius." jawab Angga.
"Maksud Mamas?"
"Memang awal kamu menyatakan perasaan, Mamas belum mencintai kamu. Karena Mamas, belum pernah menyukai wanita. Apalagi untuk pacaran. Kamu sendiri pasti tau, Mamas seperti apa? Setiap hari yang di pikirkan hanyalah pekerjaan. Setelah kamu menyatakan perasaan, jujur itu adalah hal yang tersulit bagi Mamas. Tapi anehnya jantung Mamas selalu nggak karuan saat berada di dekatmu. Wajah kamu di mana-mana. Sampai-sampai, pekerjaan Mamas selalu salah." jelas Angga.
"Terus?"
"Mamas sadar, telah menyukai kamu, Mel. Mamas ingin menikahi kamu, tanpa pacaran lagi."
"Yakin, Mamas tidak berbohong."
Amel yang kegirangan dalam hati mendengar perkataan Angga hanya bisa tersenyum-senyum, merasa geli campur senang.
"Kamu masih menyukai Mamas, atau nggak?" sambung Angga ingin kepastian.
"Nggak, Mas!" canda Amel.
"Huuuuf!" Angga membuang nafas kasar, mungkin ini sudah jalannya. "Bai-"
"Nggak salah lagi, Mas." jelasnya.
"Maksud, kamu."
"Iya! Aku masih mencintaimu, Mas."
__ADS_1
Angga tersenyum-senyum, merasa bahagia.
"Jadi kalian mau menikah?" tanya Bu Ani, setelah mendengar Amel dan Angga.
"Gimana, Mel? Kamu mau nggak nikah sama, Mamas?" ajak Angga.
"Iya, Mas. Aku mau." jawab Amel malu.
"Alhamdulillah." ucap Bu Ani merasa bahagia.
***
Bu Ani melihat Yusuf. "Tidur cucu nenek." mencium pipi Yusuf yang gembul, merasa gemas.
Yusuf bergerak pelan, di pelukan Laura. Pertanda dirinya tidak suka jika tidurnya di ganggu.
Amel, Laura dan Bu Ani tersenyum-senyum, melihat perkembangan Yusuf setiap harinya. Semakin hari, semakin pintar.
"Bu, kerjaan Laura apa? Bantuin pernikahan Amel." ucap Laura melihat kertas yang berserakan, merasa kurang nyaman dirinya tidak membantu.
"Udah kamu fokus ke Yusuf aja. Urusan ini, biar Ibu sama Amel." Bu Ani tidak mau ambil pusing, dan tidak mau membebani Laura yang tidur saja kurang akibat Yusuf sering mengajaknya begadang.
"Tapi, kan, Bu." Laura berharap dirinya ambil bagian.
"Jangan di pikirin, Ra. Ini tugas kami. Kamu jagain Yusuf yang lagi fase butuh perhatian lebih. Ini masa-masa emas pembentukan karakter anak. Kamu harus lebih memberi perhatian padanya." jelas Bu Ani yang tak mau menambahi kerjaan Laura.
"Benar, Mbak. Lagian ini perkejaan udah banyak yang selesai kok." ucap Amel yang fokus memilih mana yang sesuai dengan keinginannya.
"Hmmm iya udah kalau begitu." Laura mengerti dengan maksud Bu Ani dan Amel.
Memang sejak melahirkan Laura ingin merawat Yusuf sendiri tanpa bantuan baby sister atau perawat lainnya.
Laura ingin merasakan bagaimana menjadi seorang ibu, dengan bantuan Bu Ani dalam merawat Yusuf. Bahagianya dengan melihat tumbuh kembang Yusuf membuat Laura yakin, proses yang tidak mudah ia jalani sekarang, akan membuahi hasil yang baik untuk masa depan Yusuf.
Bersambung...
__ADS_1