Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 29 Halusinasi


__ADS_3

Mentari telah terbit, menyinari kedua pasutri, yang posisi Laura tidur di tangan dan memeluk Renggra yang tidur terlentang, seperti memeluk bantal guling.


Renggra membuka mata pelan, melihat hari sudah pagi, di luar jendela di tutupi kain tipis. Ingin rasanya bangun, ternyata Laura memeluknya.


Rasa lemak yang banyak menempel di dada, membuat Renggra meneguk saliva. Menahan sesuatu yang ingin meluap di atas ubun-ubun kepala, area sensitif berdiri dengan luasan, tepat di bawah kaki Laura.


Menahan hasrat begitu berat, ingin di tumpah tapi tidak bisa. Renggra berusaha menahan dengan kembali mengucap istighfar. "Ya Allah, aku ridho sampai istriku memberikannya, ampunilah dosa istriku." ucap batin Renggra, dimana kondisinya Laura juga sedang haid.


"Hmmm." Laura bangun merasa, ada yang menganjal seperti kayu yang tak panjang juga tak kecil samar-samar di kakinya.


Mata Laura sesekali berkedip, akibat cahaya mentari. ia tersadar telah memeluk Renggra. "Pagi Mas." Laura membuka matanya melihat sang karya Tuhan memberikan keberkahan di pagi yang cerah ini.


Renggra tersenyum. "Pagi juga, Yang. Ayo bangun udah pagi, mandilah duluan, setelah itu kita sarapan."


"Hmmm, iya Mas." Laura terduduk, sesekali mengusap wajahnya, mata yang masih ngantuk itu di buka secara perlahan.


Mata Laura tidak sengaja melihat ke arah bawah, terkejutnya melihat sesuatu yang berdiri, Laura melihat Renggra.


Renggra mengalihkan pandangan Laura dengan beranjak dari tempat tidur. "Mamas mau mandi duluan, Yang. Udah siang." jalanya ke kamar mandi.


Laura terdiam melihat penampakan pagi-pagi. "Apa gue ngelakuin kesalahan ya?" Laura merasa bingung. "Apa gara-gara gue memeluk Mas Renggra dan menyentuh barang berharganya, jadi begitu." ucap batin Laura. "Ah kenapa gue mesum begini?" mengusap wajahnya.


Renggra mengguyur kepalanya dengan air. "Begini rasanya menahan luapan hawa nafsu. Apa yang di pikirkan Laura, saat melihatnya?" ucap batin Renggra merasa bersalah, padahal bukan salahnya.


Seperti biasa Renggra keluar dari kamar mandi, menggunakan handuk batas pinggang.


Laura yang melihat sudah terbiasa. "Yang mandilah." perintah Renggra melihat Laura sekilas masih duduk di atas ranjang.


"Iya Mas." Laura turun dari atas ranjang, langsungnya masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai memakai pakaian kerja, Renggra seperti biasa, menunggu Laura di kursi sofa dengan memainkan handphone.


Laura yang lupa pakaian gantinya di bawa merasa cemas, keluar takut di lihat kembali Renggra. Tariknya nafas panjang. "Ra, kamu tuh istrinya. Sampai kapan takut berlebihan begini? Gue menjaga diri untuk suamiku, maka gue harus ikhlas." ucap batin kembali dengan tarikkan nafas panjang.


Keluarnya pelan, berjalan ke ruang pakaian.


Renggra yang melihat Laura merasa lebih aneh. "Biasanya lari, seperti di kejar hantu. Ini kenapa santai aja, gue di sini?" ucap batin dengan mengerutkan alis, merasa bingung.


5 menit Laura keluar kamar.


"Yuk, Yang sarapan." ajak Renggra setelah Laura keluar dari ruang pakaian.

__ADS_1


"Hmmm iya Mas."


Ceklek!


Renggra dan Laura berjalan turun ke lantai bawah.


Bu Ani dan Angga telah duduk di meja makan.


"Loh, kamu masih kerja ya Reng, pekerjaan kamu belum selesai?" tanya Bu Ani, melihat Renggra menggunakan pakaian kerja.


Renggra dan Laura duduk. "Iya Bu, mungkin sampai beberapa hari ke depan. Aku masih menyelesaikan perkerjaan kemarin." memotong roti yang telah di sediakan oleh Bi Siska.


Laura hanya diam menyimak.


"Oh, jangan terlalu urusin pekerjaan. Nikmati masa-masa pengantin baru kalian." jelas Bu Ani.


"Iya Bu, aku usahakan secepatnya nyelesain pekerjaan." jawab Renggra.


"Makan yang banyak, Ra." perintah Bu Ani.


"Iya Bu." Laura memotong roti dan memasukkannya ke dalam mulut.


"Ekhem, udah pecah ketuban Reng?" canda Bu Ani.


Laura hanya diam menyimak, mendengar siapa yang ingin melahirkan.


"Sabar, lagi proses Bu." sambung Angga.


Angga yang sudah lama di angkat menjadi anak Bu Ani, sudah tidak merasa malu lagi. Bu Ani benar-benar orang yang baik, menganggap dirinya seperti keluarga.


"Jangan lama menunda, ingat umur." nasehat Bu Ani, setelahnya melihat Angga. "Kamu kapan, Ga?"


"Uhuk uhuk uhuk." Angga tersedak.


"Hati-hati, Ga?" khawatir Bu Ani.


"Ekhem..." melegahkan tenggorokannya. "Iya Bu. Do'ain aja." kena imbas dirinya.


"Mana amel?" tanya Renggra.


"Masih di kamar, mungkin bentar lagi keluar." jawab Bu Ani.

__ADS_1


Yang di tanya tak lama menghampiri. "Good morning, semuanya?" pekik Amel yang bergegas duduk di sebelah Laura.


"Morning." jawab Bu Ani, Angga dan Renggra.


"Kakak ipar, selamat pagi. Bagaimana kulkas 12 pintu sudah cair belum? Atau masih belum." canda Amel menjahili Renggra.


"Masih jadi batu Es." Laura ikut bercanda.


"Ekhem." Renggra memberi kode, dirinya merasa tersindir.


"Mamas ku memang begitu, suka gatel tenggorokannya." makin panas sindiran Amel.


"Jadi Renggra aja Mamas mu, Mas Angga bukan ya?" Angga menengahi.


"Kak Anggakan, suami Amel." canda Amel.


"Uhuk uhuk uhuk." kedua kalinya Angga tersedak. "Nih anak, mentang gue jomblo." ucap batin.


"Duh Ga, kamu itu makanya makan dulu, jangan banyak bicara."


"Iya nih, suami Amel suka gitu, Bu. Mungkin gugup dirinya." semakin Amel menyindir Angga.


"Yang, ke kamar sebentar." ajak Renggra yang telah selesai makan.


"Belum pecah ketuban, tapi manggilnya, Yang." canda Angga.


"Biarin, dari pada elu jomblo, masih belum punya Ayang." ucap Renggra terang-terangan, dirinya merasa kesal di sindir terus.


"Ih Mamas, siapa yang jomblo, orang jelas suami Amel." jawab Amel, membela Angga.


"Amel awas ya, lu hamil gara-gara Angga." Renggra memanas.


"Biarin suami juga."


"Halusinasi." ucap Angga pada Amel.


"Ih, awas ya kalian." ucap Amel yang sukanya menjahili Renggra dan Angga.


"Udah yuk Yang, ke kamar. Jangan tanggapi kedua makhluk astral." ucap Renggra menarik tangan Laura.


"Hahaha... Hahaha... Hahaha." Bu Ani dan lainnya tertawa melihat Renggra yang berubah menjadi banyak bicara.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2