
Sudah beberapa hari Renggra berada di rumah sakit, akhirnya pulang ke rumah. Sesampai di dalam kamar, melihat Laura sedang duduk menunggu Renggra.
Kerutan alis Renggra merasa kurang nyaman. "Kau kenapa masih berada di sini?" tunjuk Renggra.
Laura berdiri mendekati Renggra. "Mas, aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku ini istri sahmu." jelas meyakinkan Renggra.
Senyum remeh. "Apa kau berani sekali menentangku?" Renggra berjalan keluar kamar memanggil Angga. "Ga, di mana elu?" pekik dari lantai atas, seluruh ruangan terdengar suara Renggra.
Angga yang duduk bersama Bu Ani mendengar teriakkan Renggra dari lantai atas.
Menghembuskan nafas, meletakkan koran yang baru saja di buka. Pergi menghampiri Renggra, membawa map tebal.
"Ada apa Reng, elu memanggil gue?" ucapnya setelah berada di dekat Renggra dan Laura.
Renggra menunjuk Laura. "Kenapa elu masih membawanya ke hadapan gue? Apa elu sekarang amnesia, kalau gue selama ini sangat benci perempuan, termasuk dia." suara tinggi yang menggelar, di seluruh ruangan.
"Reng, dia istri lu." Angga menunjuk Laura. "Mana bisa gue membawanya pergi." hembuskan nafas panjang. "Reng, elu sendiri yang berkata, bahwa elu sangat mencintainya. Ini." memberi map tebal yang di pegang. "Berkas ini, gue bawakan untuk elu. Di sana ada surat nikah, akte nikah, serta foto pernikahan elu bersama Laura." Angga menunjuk tangan Renggra. "Lihat juga di jari manis elu, terdapat cincin yang melekat di sana." berupaya sabar menjelaskan tentang pernikahan mereka.
Mata Renggra membulat, melihat jari manis dan dokumen yang di berikan oleh Angga. "Apa benar ini semua, Ga?" coba mempertanyakan pernikahan itu pada Angga.
"Iya, semua itu benar, kalau elu tidak percaya sama gue, silahkan elu buktikan sendiri. Di sana terletak nomor serta alamat saat mendaftarkan di KUA." jelasnya lagi.
__ADS_1
Raut wajah Laura mendatar, bingung harus melakukan apa? Ia hanya bisa mencoba secara perlahan, jika di paksakan Renggra akan semakin sakit. Sabar menghadapi Renggra yang di install ulang isi otak serta sarafnya.
Laura menghembuskan nafas, mengatur emosi. "Mas, jika semua ini berat untukmu, malam ini aku akan pindah ke kamar lain, supaya kamu bisa tenang dulu saat ini. Tapi Mas, aku tidak akan bisa berhenti untuk meyakinkanmu bahwa kita telah menikah." tegasnya meninggalkan Renggra di kamar.
Renggra terdiam, Angga mengedipkan mata memberi kode biar mereka saja yang menenangkan Laura,
Angguk Renggra mengerti kode Angga.
Laura turun menghampiri Bu Ani dan Amel di ruang tengah dengan wajah yang sedih duduk di sebelah mereka.
Amel yang baru saja datang, melihat Angga tidak berada di sana. "Kakak ipar kenapa?" lihat wajah Laura yang murung.
Angga datang, duduk di kursi sofa. "Ra, jangan sedih, aku akan berusaha membantu mu. Renggra saat ini dalam kondisi yang belum stabil." menenangkan Laura.
Spontan Amel, menyahut pembicara Angga. "Apa yang di lakukan oleh Mas Renggra, Mas? Aku akan memarahi dia." lanjut diam tersadar, menyambung perkataan Angga.
Angga menghembuskan nafas panjang, mungkin ini sudah waktunya Angga baikan dengan Amel yang salah paham terus-menerus. "Biarkan saja Mel, Renggra masih belum pulih. Kita semua hanya bisa berdoa agar Renggra kembali seperti dulu lagi." senyumnya.
"Hmmm," Amel merasa Angga benar, mungkin mereka berdua di takdirkan sebagai kakak dan adik saja.
Amel duduk di samping Laura.
__ADS_1
Senyum Bu Ani melihat Angga dan Amel mulai baikan. "Ada benarnya apa kata Angga, kita semua hanya bisa memaklumi Renggra dengan kondisi saat ini." Bu Ani melihat Laura. "Jangan memikirkan hal yang membuat mu sedih, percaya saja. Renggra akan segera pulih." upaya meyakinkan Laura.
"Hmmm, iya Bu. Aku akan berusaha melewati ini semua dengan sabar." hembuskan nafas panjang. "Sementara aku akan tidur di kamar lain, agar Mas Renggra tidak merasa terganggu. Melihat kondisinya masih dalam pengawasan Dokter, aku takut mengganggu kesehatannya." terang Laura, ingin Renggra tidak larut dalam kesedihan dalam masa pemulihan.
Bu Ani memegang bahu Laura. "Apa Renggra, mengizinkan Ra?"
"Nggak tau Bu. Tapi melihat, dirinya diam saja mungkin, sudah memberi izin." ingat kondisi Renggra yang masih belum pulih.
"Jika menurut mu ini baik untuk kalian berdua, maka lakukanlah. Nanti Ibu akan menyuruh Bi Siska menyiapkan kamar untukmu dan mengambil barang-barangmu di kamar Renggra." jalan Bu Ani, mendukung keadaan Laura.
Amel memegang tangan Laura. "Kamu harus sabar ya Mbak, kami semua ada di samping mu." memberi semangat pada Laura
Angguk Laura. "Iya Bu, Mel dan Angga. Terimakasih, kalian semua sudah membantu dan mendukungku." senyum manis, menahan sesak di dada.
Angguk serentak Bu Ani, Amel, dan Angga.
Angga dari tadi memperhatikan, 1 scurity yang sedang menguping. Dengan berdiri di dekat pintu depan.
Curiga mulai mengisi benak Angga, puranya tidak melihat, tapi lirikan Angga yang pura-pura melihat ke arah lain.
Bersambung...
__ADS_1