Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 60 Acara


__ADS_3

Selepas mereka bersiap-siap, Laura tampak cantik menggunakan pakaian dress dan hijab panjang menutupi tubuhnya berwarna moccha.


Renggra pun memakai warna yang sama dengan Laura, berpakaian baju kemeja coklat tua di lapisi jas berwarna moccha, celana dasar yang press di tubuhnya.


Laura menyerahkan Yusuf ke Bu Ani. "Titip Yusuf ya, Bu?"


"Iya Ra, kalian hati-hati ya?" ucap Bu Ani tersenyum.


"Iya, Bu." Laura mencium pipi Yusuf. "Anak Bunda jangan nakal, baik-baik ya sayang." tak tega Laura berpisah dengan Yusuf, ciumannya sekali lagi.


Cup!


"Dada Yusuf."


"Dada Bunda." jawab Bu Ani dengan tersenyum.


Laura menyalami Bu Ani. "Laura berangkat dulu ya, Bu."


"Iya." jawab Bu Ani.


Renggra mendekati Bu Ani dan menyalaminya setelah Laura. "Kami berangkat dulu, Bu. Assalamualaikum."


Senyum Bu Ani. "Waalaikumussalam."


Laura dan Renggra berjalan keluar ruangan ternyata Angga telah menunggu di dalam mobil bersama Merisa, dan Nova.


"Lama banget Ra, berhiasnya." canda Merisa saat Laura duduk di sampingnya.


"Biasa sambil ngurus Yusuf, makanya lama." jawab Laura.


Renggra duduk bersama Nova di belakang.


Angga di depan bersama Pak Manto.


25 menit perjalanan sampai di sebuah rumah mewah.


Renggra, Angga, Nova, Merisa dan Laura. Turun dari dalam mobil, wartawan yang melihat, langsung berbaris mengambil foto serta video mereka.


Suasana di rumah itu begitu ramai, banyak toko-toko yang terkenal menghadiri pesta yang di selenggarakan pak Septo.


Laura memegang tangan Renggra. "Mas, banyak banget kalangan yang datang, biasanya aku melihat mereka dari televisi aja." dirinya melihat pabrik figur yang berdiri memegang gelas berisi Wine merah sedang berbicara. "Mas di sana ada artis juga, ternyata mereka di lihat dari aslinya memang ganteng ya." liriknya sana-sini, merasa senang bisa melihat pabrik figur itu secara langsung.


Renggra menutup mata Laura dengan telapak tangan. "Jangan coba-coba melirik yang lain, Yang." cemburunya.


Laura tersenyum menjauhkan tangan Renggra, taunya dengan sifat posesif Renggra.


Klien dari perusahaan lain menghampiri Renggra dan Laura, berbicara sambil memperkenalkan Laura pada mereka membuat Laura hanya bisa tersenyum-senyum.


Laura melihat Merisa yang sedang berbicara padanya.

__ADS_1


"Ra kita makan di sana yuk, banyak sekali kue?" bisiknya dari kejauhan dengan memberi isyarat menggunakan tangan.


Laura mengangguk menyatakan iya.


Laura menyentuh tangan Renggra. "Mas, aku sama Merisa ke meja makan sebelah sana." tunjuknya ke arah sudut ruangan yang sepi dari keramaian. "Biasa Ibu hamil mau makan kue." ucapnya berbisik di telinga Renggra.


Merisa tidak tau saat membesuk Laura, dirinya sedang mengandung. Setelah jalan tiga bulan lamanya, dirinya baru menyadari bahwa sedang hamil.


"Iya, Yang. Hati-hati."


"Iya, Mas."


Laura berjalan mendekati Merisa, mereka berdua mendekati meja berisi banyak makanan.


Merisa mengambil kue yang menggiurkan lidahnya. "Ra, aku gemetar saat lihat kamera tadi. Apalagi melihat banyak artis ganteng dan cantik-cantik banget. Ada juga berbagai kalangan yang hadir ke acara. Ra, kita mimpi apa bisa bertemu mereka?" liriknya sana sini sambil mencicipi kue macaron, dengan hati yang bahagia.


"Iya Mer, sama aku juga. Rasanya masih nggak percaya gitu." ucap Laura melihat semua ruangan.


Selang beberapa waktu Aditya datang membawa tiga gelas cangkir kopi menggunakan nampan. "Hay Ra, kamu datang ke sini juga ya?" mendekati Laura.


Laura mendengar suara Aditiya langsung melihat ke arahnya. "Eh Adit, kamu juga di sini?"


Senyum manis Aditya. "Semua kopiku di sajikan Ra di acara ini, lumayan nambahin pemasukkan."


Aditya demi mendekati Laura, dengan cara apapun ia rela melakukan apa saja. Terutama menjadi pegawai satu restoran dengan Laura. Serta beralasan menjadi barista kopi, di tempat lain.


"Iya Ra." Aditya melihat Merisa. "Oh ya, siapa di sampingmu?"


Laura memegang bahu Merisa. "Ini Merisa Dit, yang sering menjemputku saat pulang kerja kalau shift malam. Masa kamu lupa, Dit?"


"Maaf ya Mer, sudah lama kita nggak ketemu?"


Merisa tersenyum "Iya Dit."


Aditya melihat ke arah bawaannya. "Oh ya, aku bawa kopi, pas buat kita bertiga. Mari kita minum, selagi nggak ada yang pesan." memberi kopi ke arah Laura dan Merisa.


Merisa melambaikan tangan. "Aku tidak minum kopi, Dit. Lagi hamil." tolaknya.


Aditya tersenyum-senyum. "Jangan takut Mer, kopi ini nggak akan mempengaruhi kandunganmu. Bisa di bilang aman." rayunya.


Senyum Laura melihat Merisa. "Aditya berpengalaman Mer dalam masalah kopi, kamu tenang aja aman." meyakini Merisa.


Merisa berpikir sebentar, mungkin benar apa yang di kata Laura sedikit tidaklah masalah. "Hmmm aku satu kalau gitu." mengambil kopi di Aditya, dirinya langsung minum.


Laura dan Aditya pun sama meminum kopi.


"Wah enak banget Dit, kopi buatanmu?" ucap Merisa yang merasa kopi itu enak di lidahnya.


"Kopi buatan Aditya memang enak Mer, dia sering buatkan aku kopi berbagai macam rasa yang unik, sampai yang meminumnya tidak sadar kalau kopi itu habis." ucap Laura.

__ADS_1


"Iya Ra, ini aja udah mau habis." Merisa meminum kopi yang di pegang, ingin meminum sedikit, malah tidak terasa habis karena ketagihan.


"Kita duduk di kursi sofa ujung koridor, yuk." ajak Aditya.


Laura dan Merisa menganggukkan kepala setujunya. Lagian di sana juga sepi.


Mereka bertiga berbicara dengan serunya. Tidak lama Merisa merasa mengantuk. "Ra, aku ngantuk nih." menyender di sofa.


"Tidur aja dulu, nggak papa." pikir Laura, Merisa yang sedang hamil memang bawaan mudah lelah itu membuatnya mengantuk.


"Nggak papa, Mer tidur aja. Lagian di sini aman." ucap Aditya santai.


Merisa mengangguk. "Hmmm." dirinya tidak tahan menahan kantuk yang begitu berat. Bersandar sebentar dirinya telah kehilangan kesadaran.


Hari yang semakin malam Renggra, Angga, dan Nova mencari Laura dan Merisa untuk mengajaknya pulang.


Mereka bertiga hanya menemukan Merisa, yang setengah sadar sedang duduk di kursi sofa memegangi kepala.


Nova yang melihat langsung duduk di samping dan memegangi bahu Merisa. "Sayang, kenapa denganmu?"


Mata merisa masih terpejam. "Kepalaku pusing, Pa." memijit kepalanya.


Nova merasa khawatir dengan keadaan Merisa yang tengah hamil.


Renggra melihat sana sini, mencari keberadaan Laura. "Mer, di mana Laura?"


Merisa membuka mata yang sayup, melihat di sampingnya tidak ada siapa-siapa kecuali Nova, Renggra dan Angga. "A-aku nggak tau, Kak. Tadi aku tidur ngantuk banget. Laura masih berbicara pada temannya." jelas Merisa.


Mata Renggra membulat. "Siapa, Mer? Bukanya kalian tidak mengenal siapa-siapa di sini?" merasa khawatir.


Merisa memejamkan mata mengingat kembali. "Hmmm itu namanya, Dit, Dit, gitu." lupanya dengan nama Aditya.


"Aditya." ucap Renggra memastikan nama seseorang yang pernah mengancamnya di club malam, dan membuat dirinya harus di rawat inap selama beberapa hari.


Ingat kembali Merisa, kemudian Merisa mengangguk. "Benar, Kak."


"Sialan." ucap Renggra merasa geram. Dirinya kira, setelah kejadian itu. Aditya akan menjauh, ternyata masih belum juga menyerah.


"Siapa Reng?" tanya Angga.


Renggra menarik nafas. "Lelaki itu yang gue temui di club malam, dan membuatku harus menjalani perawatan di rumah sakit, Ga." melihat semua ruangan. "Gue harus mencari Laura." inginnya pergi.


Angga meraih tangan Renggra. "Reng, jangan tergesa-gesa. Kita cari sama-sama."


Hembusnya kembali nafas panjang, angguk Renggra. "Hmmm!" melihat Nova yang membantu Merisa berdiri. "Nov, elu bawa Merisa segera kerumah sakit, takut terjadi apa-apa. Urusan Laura biar gue dan Angga yang mencarinya.


"Iya, Reng." setuju Nova.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2