
Flashback Renggra
Malam yang biasanya tenang dan damai, Renggra berusia 15 tahun terbangun dari tidurnya, mendengar suara yang berisik dari luar kamar, dirinya merasa penasaran dengan keributan malam-malam begini. Renggra turun dari atas ranjang berjalan ke arah pintu yang terbuka sedikit.
Berjalan keluar kamar, mendekati pagar lantai atas, melihat Ibu kandungnya membawa seorang laki-laki lain, dan bertengkar dengan Ayahnya, serta membawa koper seperti ingin pergi jauh.
Renggra yang melihat merasa bingung dan kesal. "Kenapa, ingin sekali Bunda pergi dengan Paman itu? Apa Bunda, tidak sayang lagi denganku , Amel, dan Ayah? Bunda hanya sayang pada Paman itu. Aku tidak menyukai Bunda lagi. Aku benci Bunda." ucap batin melihat pertengkaran yang terjadi.
Renggra mempunyai saudari perempuan yang tinggal di negara Amerika, kerena mereka berbeda pendidikan. Amel dan Renggra harus berpisah sampai studinya selesai, tapi Amel sering pulang ke rumah saat berlibur.
Setelah bundanya dan laki-laki itu pergi, tidak lama Ayah Renggra memegang dada dan terjatuh ke lantai. Renggra yang melihat merasa terkejut, ia pun segera berjalan cepat turun ke lantai bawah.
Ibu Ani, asisten rumah tangga dan scurity, tidak bisa ikut campur dengan urusan rumah tangga tuannya. Mereka semua hanya berdiri melihat tuannya bertengkar dengan Nyonyanya dan laki-laki di sampingnya.
Saat melihat tuannya terjatuh ke lantai, mereka pun segera mendekati. Renggra yang telah datang, langsung terduduk dan memegang tubuh sang Ayah.
__ADS_1
"Ayah kenapa? Apa dada Ayah sakit? Kuatlah kita akan segera pergi ke rumah sakit." Renggra merasa cemas melihat kondisi Ayahnya.
"Maafkan Ayah, Renggra. Ayah nggak bisa menahan Bundamu, dan meninggalkan kita semua. Maafkan Ayah dan Bunda, tidak bisa memberikan kebahagiaan padamu dan Amel. Ini semua salah Ayah, tidak bisa menjaga semuanya dengan baik. Kamu anak yang pintar, suatu saat jika bertemu dengan Bundamu, maafkanlah dia dan bawa pulang bersama kalian. Jaga mereka untukku." pesan sang Ayah.
"Iya Ayah, tapi sekarang kita pergi ke rumah sakit, Ayah harus bertahan."
"Maafkan Ayah, A-anakku." menarik nafas lalu memejamkan mata.
Renggra yang melihat Ayahnya tidak sadarkan diri, langsung menggoyang tubuh sang Ayah, dengan meneteskan air mata.
Ibu Ani langsung memegang leher ayah Renggra, kemudian memeluk Renggra.
"Ayahmu telah tiada Renggra, kamu yang sabar ya, Nak."
"Tidak! Tidak mungkin, Bu. Ayah telah meninggal, Ibu bohongkan? Ayah hanya tidak sadarkan dirikan Bu, Ibu bohongkan?"
__ADS_1
"Maafkan aku Reng, tapi inilah kenyataannya."
Renggra terdiam, meneteskan air mata. Melihat ayahnya tidur di lantai.
Ting ting ting.
Telefon rumah berdering, Bi Siska langsung mengangkatnya.
"Hallo! Iya benar ini rumah Tuan Anggara Wijaya, Apa? Baiklah, akan saya sampaikan." menutup telepon lalu berlarian ke arah Bu Ani. "Nyonya kecelakaan dan meninggal di tempat." jelasnya.
Renggra yang mendengarnya sedikit tersenyum, meneteskan air mata. "Akhirnya Bunda pergi bersama Ayah, bukan dengan Paman itu." ucap batin merasa bahagia.
Renggra menganggap semua perempuan itu menggelikan, karena perempuan hanya bisa menyakiti dan mengambil kesenangan saja. Saat laki-laki tidak berdaya dan sakit, mereka akan pergi mencari kesenangan lainnya.
Di sisi lain Renggra sangat senang, walaupun Ibunya memilih laki-laki lain dari pada Ayahnya, setidaknya Ibunya mengakhiri hidupnya dengan pulang ke sang maha pencipta bersama Ayahnya.
__ADS_1
Bersambung...