Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 23 Supermarket


__ADS_3

"Yang, lari pagi yuk. Udara di luar sangat bagus pagi-pagi begini untuk olahraga." ajak Renggra sambil melipat kain sarung, di berikan ke Laura, sesaat setelah shalat subuh berjamaah.


"Iya, Mas. Tapi aku ke kamar mandi dulu. Perutku mules." Laura setuju sambil meletakkan alat shalat di dalam lemari.


"Hmmm, Mamas juga mau siap-siap dulu."


"Iya Mas." Laura berjalan masuk ke dalam kamar mandi, tanpa lupa mengunci pintu. Dirinya merasa aneh, kenapa perutnya sering mules-mules padahal nggak ingin buang air besar.


Huuuf!


"Hmmm, wajar perutku mules-mules. Tubuhku juga kurang nyaman, ternyata haid." saat dirinya melihat pakaian dalam. "Tapi, gimana mau beli pembalut?" bingung Laura, sambil berjalan ke sana kemari di dalam kamar mandi. "Masa aku minta Mas Renggra beliin. Ah malu aku. Gimana ya kalau nggak pakai? Tapi bisa menembus keluar." masih Laura berjalan di dalam kamar mandi mencari solusi. "Ah sudahlah gue minta bantuan Mas Renggra aja. Lagian dia juga suami gue, terserahlah, kalau dia nggak mau gue keluar aja beli sendiri."


Ceklek!


Laura mengintip dari belakang pintu. "Mas, Renggra." panggilnya dengan nada pelan menahan malu.


Renggra tidak menjawab, dirinya masih fokus dengan memainkan handphone, duduk di tepi ranjang.


"Mana sih, Mas Renggra?" ucap batin. "Mas Renggra..." Laura mencoba memanggil lagi.


"Hmmm iya, Yang." Renggra baru sadar mendengar suara Laura.


Laura mengeluarkan kepalanya. "Mas, di sini ada toko nggak?"


Renggra melihat Laura yang masih di dalam kamar mandi, tak jauh dari sisi kirinya. "Toko nggak ada, Ay. Supermarket yang ada. Tapi lumayan jauh dari sini. Kenapa Yang?" jawab Renggra penasaran.


"Itu, itu..." Laura ragu-ragu meminta pertolongan.

__ADS_1


"Itu apa, Yang?" penasaran Renggra.


"Bulanan ku, datang Mas."


Renggra langsung mengerti maksud Laura, berdirinya mengambil jaket. "Iya udah, kamu tunggu di situ, Mamas beli sebentar nggak lama."


"Emang subuh-subuh begini udah buka ya Mas, supermarketnya?"


"Tenang aja, di sini supermarketnya udah buka. Warga dari subuh udah belanja, merekakan pergi ke kebun jadi sekalian belanja." jelas Renggra.


"Oh, beda dari yang dulu ya Mas, masih hutan."


"Hmmm, begitulah. Iya udah Mamas mau keluar dulu."


"Mamas nggak apa-apa beliin pembalut?" Laura menahan malu.


"Santai aja, Yang. Mamas berangkat dulu." jalannya keluar menutup pintu.


10 menit Renggra sampai di depan supermarket. Karyawan yang melihat langsung berkumpul.


Supermarket itu milik Renggra. Banyak usaha yang ia kembangkan, terutama di wilayah pelosok yang di kunjungi Renggra. Selain membuka lapangan pekerjaan, juga memudahkan para warga untuk berbelanja karena jauh dari kota.


Renggra keluar dari dalam mobil, masuk ke dalam supermarket. "Pagi, Pak Renggra?" sapa karyawan yang baru saja membuka supermarket.


Karyawan di sana telah biasa, bertemu dengan Renggra. Setiap liburan pasti mampir membeli apa saja yang di butuhkan.


"Iya pagi." jawab Renggra mengambil keranjang dan mengisi berbagai merek pembalut, ia tidak tau Laura memakai merek apa?

__ADS_1


Satu keranjang penuh di bawakan Renggra ke kasir.


"Banyak Pak, pembalutnya?" tanya Once penjaga kasir di sana. "Untuk Nona Amel ya, Pak?" sambungnya mengakrabkan diri dengan membungkus belanjaan.


Renggra mengeluarkan uang beberapa lebar dalam dompetnya, memberikan pada Once. "Nggak! Ini untuk istri saya." jawabnya lantang.


"Pak nggak usah bayar, inikan supermarket punya, Bapak." tolak Once.


"Saya di sini jadi pembeli, bukan datang sebagai yang punya." jelas Renggra.


Once hanya merasa tak nyaman. "Iya, Pak! Eh tadi Bapak bilang sudah beristri. Nggak ada berita di televisi, Pak?" ambilnya uang di tangan Renggra.


Renggra tersenyum. "Belum aja di siarkan."


Once merasa berdebar hatinya, melihat senyuman Renggra yang di bilang sangat ganteng. "Aku mau jadi istri ke-dua, Bapak?" canda Once.


Renggra tertawa. "Masa gue di suruh makan pisang." jawab Renggra dengan bercanda.


Malu once yang dirinya merasa wanita padahal laki-laki.


Once menyerahkan kantong plastik berukuran besar serta uang kembalian. "Bapak tega, gini-gini sama pisang, enak banget loh, Pak." canda Once semakin jadi.


Renggra mengambil belanjaan dan uang di tangan Once. "Kamu aja, gue nggak." tolak Renggra dengan jalan meninggalkan Once.


Once tersenyum-senyum, bahagianya bercandai Renggra.


Setelah sampai di mobil Renggra meletakkan belanjaan di sampingnya dan pulang meninggalkan supermarket.

__ADS_1


Sekarang yang lebih di pikirkan oleh Renggra meluluhkan hati Laura, supaya menerima dirinya dan bisa menjalin bahtera rumah tangga dengan harmonis, tanpa memikirkan berita di luar sana.


Bersambung...


__ADS_2