Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 15 Nasi Goreng


__ADS_3

Setelah shalat subuh, Laura merapikan ranjang, selesai dirinya mengarah ke pintu.


Ceklek.


Dup!


Keluar kamar turun ke lantai bawah menyiapkan sarapan pagi, jalan ke dapur, ternyata Bi Siska sedang masak.


"Hmmm, enaknya bau masakan Bibi." puji Laura berjalan mendekati Bi Siska.


"Bisa aja Nona," jawab Bi Siska malu.


"Bibi masak apa?"


"Roti panggang Non."


"Aku mau masak nasi goreng boleh nggak Bi? Bosan pagi-pagi makan roti terus."


"Boleh atuh Non, mau Bibi masaki." tawar Bi Siska.


"Biar aku aja, Bibi tunjukkan di mana bumbunya."


"Oh semuanya ada di kulkas Non, pilih aja di sana." tunjuk Bi Siska, kulkas di dekat Laura.


"Oh ini," Laura membuka kulkas 2 pintu di sampingnya.


"Waw," Laura takjub dengan isi kulkas yang serba ada, dari atas sampai bawah, tinggal pilih.


"Dari kemarin aja gue masak, kalau begini." ucap batin Laura, sambil mengeluarkan bahan yang dirinya perlukan.


Mengeluarkan bahan yang di perlukan Laura mulai memasak dengan di bantu Bi Siska.


25 menit selesai memasak, Laura mengisi nasi goreng ke dalam wadah.


"Wah sepertinya enak tuh, Non. Boleh dong Bibi cicip?" Bi Siska terlihat ingin makan nasi buatan Laura.


"Boleh dong Bi, tuh banyak aku buat, sekalian bagi ke tukang kebun, kalau mereka mau."

__ADS_1


"Serius Non?"


"Iya serius atuh."


"Hmmm, bau apa ini, enaknya." ucap Bu Ani mendekat.


"Nasi goreng buatan Nona Laura, Nyonya." jawab Bi Siska.


"Ah kamu masak, Ra?" tanya Bu Ani saat di dekat Laura.


"Hmmm, Ibu mau?" tawar Laura.


"Boleh, wadahin Ibu ya sekalian. Kita makan di depan televisi." ajak Bu Ani.


"Siap Nyonya." ucap Laura.


"Hmmm," senyum Bu Ani yang gemas melihat tingkah Laura.


Bu Ani jalan ke ruangan lainnya, sedangkan Laura mengisi nasi goreng ke dalam wadah. Di beri suwiran ayam goreng, timun, tomat, kerupuk, dan sambal.


"Sisanya Bibi bagi ke pegawai." ucap Laura.


Laura membawa nasi goreng ke ruang tengah. "Ini Bu," memberikan pada Bu Ani.


Bu Ani mengambil. "Wah pinter kamu Ra, masak beginian." pujinya.


"Ah Ibu bisa aja." jawab Laura malu.


"Sini duduk di samping Ibu, lihat tuh Renggra ada di sana." Bu Ani menunjuk televisi.


Laura duduk melihat televisi bergambar Renggra sedang memotong pita tertulis di layar "Pembukaan perusahaan terbaru berskala internasional." yang bertempat di negara Amerika.


"Hebat ya, Bu. Mas Renggra?" tanya Laura sambil makan, dirinya masih tak percaya kalau akan menikah besok hari dengan Renggra.


"Renggra memang anak yang pintar, Ra. Apa pun bisa di kerjakan." bahagia Bu Ani melihat Renggra yang semakin membanggakan orang tua dengan usahanya sendiri.


"Besok kita menikah, kapan pulang Mas Renggra? Aneh, masih sibuk dengan pekerjaan tapi sempatnya menikah. Di mana-mana orang mau menikah tuh cuti dulu." ucap batin Laura merasa kesal.

__ADS_1


Tibanya Renggra melakukan wawancara secara live. Banyak wartawan yang ingin mewawancarai Renggra "Kami semua mendapat berita, kabarnya Anda akan menikah besok. Apakah itu benar Pak Renggra?" tanya salah satu reporter di sana.


"Ya besok saya akan menikah." jawab Renggra dengan tersenyum.


"Di mana pernikahan anda akan berlangsung dan dengan siapa? Apa kami kenal?" tanya reporter lainnya.


"Maaf saya tidak bisa menjelaskan di mana saya akan menikah. Tapi yang jelas, itu secara privasi hanya mengundang keluarga saja. Saya ingin menjalankan pernikahan secara sakral tanpa gangguan apapun." jawab Renggra tanpa menjelaskan tentang Laura, kemudian menunduk lalu pergi.


Laura yang melihat ke arah Renggra tiba-tiba tersenyum tanpa ia sadari, sambil memegang dagunya.


"Mas, dirimu terlihat sangat ganteng saat tersenyum. Andai sekali saja tersenyum pada ku dengan tulus, pasti aku merasa sedikit senang walau dengan kondisi ku yang harus terpaksa menikah denganmu. Bukan wajah datar dan aura dingin yang menakutkan itu." ucap batin Laura.


"Ra, nasimu bentar lagi semutan." canda Bu Ani yang melihat Laura tersenyum-senyum.


Laura langsung tersadar. "Ah iya Bu, lupa aku."


"Kenapa senyum-senyum, kangen ya dengan Renggra?" tanya Bu Ani bercandain Laura.


"Hmmm enggak Bu, hanya kagum aja. Kenapa bisa Mas Renggra begitu sukses, banyak perkerjaan masihnya mau menikah. Apalagi dengan aku yang terbilang sangat jauh dengan dirinya."


"Hmmm, Renggra memang begitu Ra. Ibu harap kamu bisa memakluminya setelah menjadi istri Renggra nanti, dirinya yang bisa saja jarang pulang. Bukan berarti main wanita, tapi oleh perkerjaan. Kami juga bukan orang yang selalu memandang tinggi derajat, Ra. Yang penting menerima kondisi kita apa adanya, bukan apa adanya." jelas Bu Ani sambil makan.


"Hmmm, iya Bu." menyuap lagi nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Oh iya, sudah makan kamu siap-siap, kita mau fitting pakaian kamu untuk besok. Sudahnya kita ke hotel tidur di sana."


"Bukanya acaranya ijabnya di rumah ini ya, Bu?" Laura terkejut, bukannya Bu Aminah kemarin bilang ijabnya di rumah Mas Renggra, pikir Laura.


"Nggak jadi, Renggra maunya lebih wah katanya. Ibu aja pusing maunya Renggra tuh gimana? Katanya mau simpel, tapi membuat kenangan yang tak bisa di lupakan seumur hidupnya." jelas Bu Ani.


Deg!


Jantung Laura bagaikan di tancap busur pana, atas ucapan Bu Ani.


"Mas Renggra serius apa ya dengan ucapannya?" ucap batin Laura.


"Hmmm, iya Bu." jawab Laura.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2