
Selama perjalanan Renggra melihat Laura tertidur dengan menahan kepala yang hampir jatuh. Renggra langsung memindahkan kepala Laura ke bahunya dengan wajah tersenyum-senyum. "Ngantuk banget sepertinya." ucap batin.
30 menit mobil berhenti di depan pagar pemakaman.
"Sayang bangun, kita sudah sampai." bisik Renggra di telinga Laura.
"Hmmm." Laura bangun membuka matanya pelan-pelan, ia melihat sudah sampai di depan makam.
"Kita sudah sampai ya, Mas?" ucapnya melihat lingkungan di sana.
Renggra tidak menanggapi Laura dirinya langsung turun.
Laura yang melihat Renggra langsung ikut turun dari dalam mobil mengikuti Renggra berjalan ke tengah pemakaman. Mereka berdua berhenti di depan 2 makam.
Renggra meletakkan bunga di atas pemakaman.
"Ini adalah pemakaman orang tua Mamas, Ra. Di sinilah tempat mereka berdua sekarang." sambung Renggra merasa kenangan pahit itu terlintas di benaknya.
Laura hanya diam melihat makam. "Pasti sedih banget jadi Mas Renggra. Melihat orang tuanya telah tiada."
"Ayah, Bunda. Walau pun kalian tidak berada dalam acara pernikahanku. Tapi aku yakin kalian melihatnya. Aku perkenalkan wanita ini adalah Laura dia istriku yang aku cintai. Aku berjanji apa pun yang terjadi. Aku tidak akan melepaskannya. Bukan seperti Bunda dan Ayah yang berpisah tanpa memikirkan aku dan Amel" ucap batin Renggra merasa hatinya tersakiti.
Laura melihat Renggra berwajah datar dengan air mata yang membendung.
Laura memegang tangan Renggra. "Mas, jangan sedih. Orang tua Mamas sudah bahagia di surga."
Renggra terdiam melihat Laura memegang tangannya.
"Iya Ra, mari kita baca doa."
"Iya Mas." Laura melepaskan tangan Renggra.
Mereka berdua duduk di dekat makam, membaca doa.
5 menit selesai. "Aamiin ya rabbal alamin." ucap Renggra dan Laura serentak.
"Mamas sudah memperkenalkanmu dengan orang tua, Mamas. Mari kita pergi ke suatu tempat." Renggra berdiri.
"Kemana Mas?" Laura mengikuti.
"Ikut aja," Renggra tersenyum.
"Hmmm, iya Mas." Laura dari tadi hanya mengikuti Renggra yang tak tau dirinya akan di bawa kemana.
__ADS_1
10 menit sampai, mobil berhenti.
"Ayo turun." ajak Renggra.
"Hmmm iya Mas,"
Renggra dan Laura turun, di suatu tempat di mana dulunya pertama kali mereka bertemu. Namun, tempat itu sudah berubah menjadi sebuah villa.
Laura melihat tempat itu, merasa penasaran.
"Kenapa kita di sini, Mas?" melihat suasana yang asing bagi Laura.
"Kamu tidak ingat sesuatu, Ra?"
Laura menggelengkan kepalanya. "Enggak tau, Mas."
Renggra melihat Laura tidak ingat apa pun, ia memegang tangan Laura. "Ayo ikut Mamas." ajaknya.
Deg!
Jantung Laura berdebar, di pegang oleh Renggra.
"Mau kemana sih, Mas?" Laura semakin penasaran mengikuti jalan Renggra yang melihat sekeliling penuh dengan pemandangan, akhirnya mereka berdua berhenti di dekat danau yang masih alami, membuat pikiran Laura merasa nyaman dan tenang.
"Hmmm," Laura masih bingung dengan Renggra yang menyuruhnya mengingat sesuatu.
"Emang apa, Mas?" Laura penasaran.
"Coba kamu ingat sesuatu, pernah nggak kamu tinggal di sini?" paksa Renggra.
Laura terdiam, melihat sekitar. "Iya sih, sepertinya gue pernah ke sini." ucap batin Laura.
Tibanya mengingat sesuatu, dirinya pernah mandi di danau ini. Laura langsung melihat ke arah rumah sederhana namun terlihat megah.
"Perasaan ini tempat, bukannya panti asuhan dulu ya?" batin Laura kembali berucap.
"Bagaimana, Ra?" tanya Renggra yang penasaran.
"Aku ingat! Tempat ini nggak salah dulunya panti asuhan berdiri. Tapi kenapa sekarang di sana ada villa. Siapa Mas, yang tinggal di sana?"
Renggra tersenyum. "Alhamdulillah, Laura mengingatnya." ucap batin Renggra.
"Villa itu Mamas yang membuatnya. Kamu Ra, tidak sama sekali mengingat Mamas?" Renggra ingin tau, apakah Laura juga mengingatnya.
__ADS_1
"Oh, Mamas yang membeli tanah kami dulu. Maaf Mas, aku nggak tau. Soalnya Ibu Aminah nggak pernah cerita." jelas Laura mengingat tanah itu di jual.
Renggra mendengar Laura masih tidak mengingatnya, ia langsung berjalan pelan ke arah villa dengan wajah yang datar, sedangkan Laura berjalan mengikuti Renggra.
"Mamas mau kemana?" Laura mengikuti Renggra.
Renggra berhenti dan melihat Laura.
"Aku memang membeli tanah ini, tapi kita pernah bertemu sebelum itu. Jika masih kamu masih tidak mengingatnya, ah sudahlah." Renggra merasa kesal.
Laura tersenyum melihat Renggra yang lagi kesal padanya. Laura masih berpikir dimana dirinya pernah bertemu Renggra. Soalnya banyak sekali yang di lihat. "Maaf, Mas. Aku benar-benar nggak mengingatnya. Mungkin itu sudah lama kejadiannya." ucap jujur Laura.
"Iya sudah kalau begitu, kita pulang ke villa dan malam ini kita menginap di sini saja. Semua keperluan sudah di siapkan."
"Hmmm, iya Mas."
Laura mengikuti Renggra yang kembali ke villa.
Ceklek!
Renggra dan Laura masuk ke dalam rumah.
Laura melihat tempat itu begitu nyaman, terbuat dari kayu yang tersusun rapi.
"Kamu mau makan apa, Ra?" Renggra berjalan ke dapur minimalis, memasangkan celemek di tubuhnya.
"Mamas mau masak?" Laura terkejut melihat reaksi Renggra.
"Nggak! Mamas mau mandi di sini." ucap Renggra masih merasa kesal dengan Laura yang tidak juga mengingat dirinya.
"Mamas marah?" Laura merasa Renggra marah padanya, gara-gara tidak mengingat sesuatu yang berhubungan dengan Renggra.
"Nggak, Ra! Kamunya aja, nggak melihat situasi. Kalau Mamas lagi apa?" ucap Renggra membuka kulkas mengeluarkan bahan masakan.
Laura bingung harus apa? "Hmmm biar aku aja Mas, yang masak." Laura mendekat.
"Kamu bantuin kupas kulit bawangnya aja." perintah Renggra.
"Emang Mamas bisa masak?"
"Kalau nggak bisa, ngapain Mamas di sini." Renggra masih terlihat kesal di mata Laura.
"Hmmm, iya Mas."
__ADS_1
Bersambung...