Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 49 Mata-mata


__ADS_3

Setelah isya, Bu Ani dan Amel menghampiri kamar Laura.


Tok tok tok.


Tidak butuh waktu lama, Laura membuka pintu.


Ceklek!


"Ibu, Amel. Ada apa?" Laura merasa penasaran.


Bu Ani dan Amel tersenyum. "Mbak, jalan keluar yuk. Mbak selama nikah sama Mas Renggra, belum jalan-jalan sama kita malam-malam begini." ajak Amel. "Lagian sudah lama kita nggak jalan." membujuk Laura.


Laura melihat ke lantai atas, terlihat pintu kamar Renggra. "Tuh, Mas Renggra ngizinin nggak Bu?" takut Laura, Renggra tidak memberi izin.


"Udah tadi Ibu minta izin, boleh katanya." senyum Bu Ani merayu Laura.


Laura tersenyum-senyum, akhirnya bisa keluar jalan-jalan. "Bentar ya Bu, Laura ambil tas dulu." segera mengambil tas, dengan tersenyum-senyum.


Pegang tangan Bu Ani dan Amel sambil berjalan ke arah luar. "Nanti makan di luar, ya Bu." rayunya.


"Loh, kamu belum makan?" tanya Bu Ani terkejut, melihat Laura semakin jarang makan.


"Belum, Bu. Dari pagi hanya makan sedikit." Laura tersenyum paksa, takut Bu Ani marah.


"Laura, Laura. Iya udah kita makan yang banyak." Bu Ani hanya bisa mengikuti kehendak menantunya itu, mungkin Laura kurang berselera makan semenjak di jauhi Renggra.

__ADS_1


Setelah Angga melihat Bu Ani, Amel dan Laura pergi. "Bi..." memanggil Bi Siska.


Bi Sika berlarian kecil. "Iya Tuan." jawabnya saat di dekat Angga.


"Kumpulkan semua pegawai di rumah ini." perintahnya.


"Baik Tuan." Bi Siska berlarian kesana kemari memberitahukan pada yang lain.


5 menit saja para pegawai sudah berbaris rapi, di depan Renggra.


Renggra berdiri melihat satu persatu pegawai yang berbaris.


Rasa takut yang membuat bulu kuduk berdiri, para pegawai hanya diam, dengan penglihatan Renggra bak singa yang akan menelan daging mentah di hadapannya.


"Pak Arsyim, Bi Ima, dan Bi Tuti, maju ke depan." perintah Renggra yang merasa geram melihat mereka bertiga, seperti tidak merasa bersalah.


Wajah Renggra begitu datar, mengatur emosi yang meluap. "Sadarkah, dengan kesalahan kalian?" menanyakan dengan pelan, siapa tau mereka akan mengaku pikir Renggra.


Mereka serentak menggelengkan kepala, tidak mau mengaku apa yang telah mereka perbuat.


Renggra menggegam erat tangannya. "Kalian, tidak tau?" geramnya merasa ingin memukul mereka satu persatu, agar mau mengaku. "Mengakulah?" pancing Renggra kembali.


Pak Arsyim, Bi Ima, dan Bi Tuti masih tetap diam.


"Ga, buka semua kesalahan mereka." Renggra sadar, kekerasan bukan jalan yang baik, biar pihak berwajib yang mengurus mereka.

__ADS_1


Angga membuka map dan video, yang berisi ke busukan mereka. Mulai memberitahu ke pihak lain, mencuri barang berharga, menerima sodoran dari pihak lain dan masih banyak lagi yang mereka lakukan.


Pak Arsyim, Bi Ima, dan Bi Tuti, langsung terduduk di hadapan Renggra.


"Maaf Tuan Renggra, ampunilah kami." ucap Pak Arsyim.


"Kami lakukan atas ancaman seseorang yang tidak kami kenal." sambung Bi Ima.


"Dana yang di beri, hanya semata-mata untuk keluarga Tuan." sambung lagi Bi Tuti.


Renggra tidak ambil pusing. "Pak Abas," panggilnya scurity yang berdiri. "Panggil pihak berwajib di luar.


"Hiks hiks hiks, Tuan Maafkan kami." ucap Pak Arsyim.


"Pertimbangan keadaan kami Tuan." sambung Bi Tuti.


"Keluarga kami makan apa, jika kami di pecat." ucap Bi Ima.


"Kami tidak mau Tuan, di penjara. Hiks hiks hiks." ucap Pak Arsyim merasa bersalah.


Jika dari awal mereka mengaku, mungkin Renggra hanya memecat mereka saja. Namun, mereka setia pada majikannya, jeriji besilah tempat mereka singgahi.


"Ini pelajaran buat kalian semua yang berada di sini, jika kalian tidak mau seperti mereka, berhentilah bekerja sebelum kalian di antarkan ke pihak berwajib." ancam Renggra.


"Iya Tuan." menjawab serentak, merasa takut dengan ancaman Renggra, lebih baik di pecat dari pada seperti mereka yang berambisi besar. Akhirnya bukan bahagia malah menderita.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2