Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 48 Eksekusi


__ADS_3

1 bulan berlalu, Renggra duduk di ruang kerja.


Ceklek!


Dup!


Angga datang menemui Renggra.


"Gimana, ada kemajuan?" Renggra mengetik keyboard, masih fokus ke layar komputer.


Angguk Angga. "Ada, Reng. Tinggal kita eksekusi malam nanti." duduk di kursi depan meja.


Renggra menghembuskan nafas, berhenti mengetik. "Alhamdulillah, akhirnya ada jalan." kode yang rindu pada Laura.


Setiap hari Laura tidak berhenti menganggu Renggra, upayanya mendekati. Namun sayang, semua harus di lakoni dengan baik. Beberapa cara Laura mendekat, beberapa cara pula Renggra menjauh.


Agar mata-mata terlihat, di awali dari rumah dulu.


Senyum Angga. "Kenapa, udah kangen tidur sama istri?" menjahili Renggra.


Renggra tersenyum manis. "Tuh tau." kodenya. "Elu tuh, sampai kapan nggak memberi keputusan. Suka enggak, di tolak juga enggak." menyindir Angga.


Angga menarik nafas. "Menurut elu, gimana Reng?" balik bertanya.


"Lah yang menjalani hidupkan elu, Ga. Emang kita satu raga?" canda Renggra merasa aneh melihat Angga.

__ADS_1


Angga menyipitkan mata, mengerutkan alis. "Bingung, Reng." memainkan ujung pakaian.


"Gini aja, elu suka nggak sama Amel?"


Angga menyender di sisi kursi, melihat langit-langit rumah. "Coba elu jelaskan dulu, suka dan cinta itu bedanya dimana?" masih berpikir apa ada rasa itu dalam dirinya.


"Gue nggak begitu yakin di mana bedanya." Renggra susah menjelaskan. "Kiranya elu ada nggak, melihat Amel itu wanita yang paling berharga. Paling sedikit melihatnya, jantung elu berdebar sangat cepat. Hah, ada nggak?"


Angga berpikir dan terlintas bayangan, waktu di rumah sakit dan di tempat lainnya. Memang rasa itu akhir-akhir ini berdatangan, bertemu saja malu.


Angga tersenyum melihat Renggra. "Reng, jika gue menikah dengan Amel, apa elu akan merestui?" tanyanya yang sadar mungkin ada cinta di sana.


"Hmmm, ya jelas gue merestui kalian. Ingat! Jika elu sampai menyakitinya, gue gantung elu di atap rumah." ancam Renggra.


"Iya, Reng. Tapi nanti gue perjelas dulu." Angga menunjuk ke dada. "Nih hati." candanya.


"Ayo sarapan dulu." ajak Angga.


Renggra hanya menganggukkan kepala.


Angga dan Renggra berjalan keluar ruangan.


Ceklek!


Dup!

__ADS_1


Turun dari lantai atas ke bawah menuju ruang makan. Renggra tidak melihat Laura di meja makan. "Mana, Laura Bu?" duduknya di kursi.


Angga mengikuti.


Bu Ani menunjuk ke belakang. "Tuh jemur pakaian, dari subuh nyuci." kembali mengunyah makanan.


"Rajinnya istriku." ucap Renggra pelan, mengaduk nasi.


"Semenjak menikah, memang begitulah Laura di rumah. Nyapu, ngepel, nyuci pakaian kamu sama dia, belajar masak kue dengan Bi Siska. Jenuh katanya yang hanya duduk aja tiap hari." jelas Bu Ani.


"Hmmm, selagi dirinya bahagia nggak apa-apa, Bu."


Laura datang, melewati mereka yang sarapan.


Amel melihat, Laura. "Mbak sarapan yuk," memegang sendok.


Laura berenti. "Sebentar lagi, Mel. Aku mau istirahat dulu, lagian perut ku, masih terasa kenyang." melanjutkan kembali langkah kakinya, pergi ke dalam kamar.


Amel, Angga, dan Bu Ani melihat Renggra yang mengunyah makanan, dengan pelan, tanpa menegur Laura.


Renggra meminum segelas, air putih. "Ekhem, Bu. Nanti malam ajaklah menantu ke sayangan Ibu pergi keluar. Aku dan Angga ada pekerjaan." mengedipkan mata memberi kode, bahwa mata-mata di rumah sudah di temukan.


Bu Ani menghembuskan nafas legah. "Mel, malam ini kita shopping yuk." melihat Amel.


Amel menaikkan alis, dengan tersenyum. "Sip, deh Bu." mengangkat ke-dua jempol tangan, tandanya setuju.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2