
Ayah dan Ibu Renggra telah di makamkan. Renggra yang menggunakan pakaian serba hitam hanya bisa diam, melihat makam kedua orang tuanya dengan raut wajah datar.
"Apa di sini ada toilet? Aku ingin ke sana sebentar, tampa Ibu Ani, scurity dan lainnya." pinta Renggra.
"Iya, Nak boleh, di gedung itu ada pengurusnya" menunjuk gedung besar tak jauh dari makam. "Tanyakan saja, nanti setelah itu kamu boleh menyuruhnya kesini. Ibu dan lainnya akan menunggumu di sini." Ibu Ani mengarahkan Renggra.
"Hmmm," jawab Renggra yang langsung pergi ke arah yang di tunjukkan, tidak lama ia berjumpa pengurus di sana. "Bapak bisa, temuin Ibu asuhku di sana." menunjuk semua orang yang berdiri di bawah tenda berwarna putih.
"Oh ya, Bapak kesana dulu." mengikuti perintah Renggra.
Pengurus itu berjalan ke arah Ibu Ani dan berkumpul dengannya.
Ibu Ani mengerti, mungkin Renggra ingin menangis tapi tidak bisa di hadapan mereka semua.
Renggra walaupun usianya masih kecil, ia sudah bersikap layaknya orang dewasa.
Renggra berjalan bukannya ke toilet malah kabur, ia tidak ingin pulang ke rumah lagi. Baginya rumah itu penuh dengan kenangan yang mengerikan, ia terus berlari sampai-sampai dirinya tersesat.
Renggra berhenti dan melihat sekelilingnya, ternyata berada di tengah hutan. Merasa bingung tidak tau harus jalan ke arah mana lagi. Duduk di bawah pohon, mengingat kejadian semalam, mulanya air mata mengalir sangat deras. "Hiks hiks hiks."
Ibu Ani yang menunggu lama di makam, merasa khawatir. Ia langsung bergegas pergi ke toilet bersama scurity dan lainnya. Ternyata dugaannya benar, Renggra tidak berada di sana. "Tuan kecil Renggra tidak berada di toilet, cepat kalian semua mencarinya. Jangan sampai dia terluka sedikit pun." perintah Bu Ani merasa cemas.
"Baik, Nyonya," jawab scurity, dan beberapa asisten rumah tangga mencari Renggra.
Di waktu yang sama, Renggra terbangun dari tidurnya, membuka mata secara perlahan, melihat sekeliling sudah berada di sebuah kamar kecil dan kurang bersih baginya. Di sana terdapat anak perempuan yang sedang melihat dan duduk di sampingnya.
Renggra merasa sangat terkejut. "Pergi kau, aku benci melihat wanita sepertimu." Renggra berucap ketus.
"Apa aku bau dan kotor, sampai kakak berbicara begitu padaku? Baiklah, aku akan mandi agar kakak mau berbicara padaku, nanti akan ada Ibu asuh yang menemanimu." jawabnya ramah, berdiri membalikan tubuh.
"Bu-bukan itu maksudku? Bukan kau kotor atau bau? Ta-tapi aku tidak suka dengan anak perempuan pergi sana." usirnya.
Perempuan cantik itu kembali melihat Renggra dan duduk di tempat semula.
"Tidak apa-apa jika kakak membenciku saat ini. Kata Ibu asuh, jika kita membenci sesuatu nanti kita akan mencintai sesuatu itu juga. Jangan membenciku agar kakak tidak mencintaiku. Siapa namamu, Kak? Di mana kakak tinggal? Apa kakak tersesat? Kakak tadinya ku temukan di hutan, saat mencari tanaman bersama Ibu asuh dan anak -anak lainnya. Kami kira kakak tidak sadarkan diri, makanya kami membawa kakak ke panti asuhan tempat kami tinggal." jelasnya panjang kali lebar di campur penasaran terhadap Renggra.
Renggra yang mendengar ucapan anak perempuan itu terdiam, melihat kakinya yang tertutup selimut tipis.
"Ada benarnya juga anak perempuan ini. Dulu aku pernah belajar, bahwa kita tidak boleh membenci sesuatu tanpa alasan yang jelas, terus dia juga yang sudah menolongku. Baiklah, aku tidak akan membencinya. Sepertinya, dia juga orang yang baik ingin sekali berteman denganku." ucap batin, melihat kembali ke Laura.
"Aku hanya tidak suka." alasannya. "Oh ya, aku tersesat." bohong Renggra agar Laura tidak mengetahui masalah pribadinya yang terbilang menyakitkan. "Aku lupa jalan pulang. Aku kelelahan berjalan, akhirnya tertidur di bawah pohon. Namaku Renggra Wijaya. Kamu, siapa?"
Senyum anak perempuan itu. "Namaku Laura, Kak." jawabnya menyentuh bahu dan mengajak bersalaman.
Renggra kembali terkejut, akibat sentuhan Laura. "Apa? Anak perempuan ini berani sekali menyentuhku. Kamu harus mempertanggung jawabkan suatu saat nanti." ucap batin, dengan pelan dan ragu mengangkat tangannya, kemudian memegang tangan Laura.
Deg!
Merasa terkejut, Renggra langsung melepaskan tangan Laura, dirinya baru pertama kali memegang tangan perempuan lain selain adiknya.
"Eh, ternyata sudah bangun. Siapa namamu, Nak?" tanya Bu Aminah yang datang menghampiri. Beliau adalah penjaga panti asuhan. Dirinya berjalan dan duduk di samping Laura.
"Sa-saya Renggra Wilayah. Ibu, siapa?" merasa cemas.
__ADS_1
Senyum Bu Aminah. "Nama Ibu Aminah Sulistiawati. Panggil saja saya Ibu Aminah. Kamu tinggal di mana? Kenapa kamu bisa tidak sadarkan diri? Apa kamu sedang di culik? Di sini kamu tidak perlu takut, bersama kami." tanyanya penasaran, serta memberikan arahan agar Renggra tidak begitu cemas bersama mereka.
"Kak Renggra tersesat bukan di culik, Bu. Katanya dia lupa jalan pulang. Jadi dia tertidur di bawah pohon, bukan tidak sadarkan diri." jawab Laura menjelaskan.
"Laura, Ibu tanya pada Renggra, bukan padamu." Bu Aminah merasa gemas melihat Laura yang langsung menjawab.
"Biar cepat aja, Bu." bantahnya.
"Emang, mau kemana?"
"Bukan kemana-mana, Bu. Hanya memberikan informasi secara cepat, agar Ibu nggak penasaran."
"Laura-Laura, pusing Ibu kalau udah berdebat sama kamu."
Renggra yang pendiam, kaku dan datar. Merasa terhibur dan tertawa kecil melihat tingkat lucu dari Laura dan Ibu Aminah.
Sore hari sebelum malam tiba.
"Ra, hari sudah sore, ajak Renggra dan yang lain mandi." pekik Bu Aminah memberi perintah, saat Laura memperkenalkan Renggra, pada anak-anak panti asuhan lainnya.
"Ah iya, Bu." jawab Laura melihat Bu Aminah yang berdiri di luar rumah sedang menyapu halaman bersama anak-anak panti. "Ayo mandi, Ibu udah nyuruh, entar kalian di marah lagi." jelas Laura seperti ketua geng di sana. Tubuhnya saja kecil, tapi dirinya di sukai oleh anak-anak panti asuhan lainnya. Hati Laura yang baik dan ramah, dapat meluluhkan banyak orang.
Laura melihat Renggra. "Ayo, Kak."
Renggra hanya menganggukkan kepala.
Berjalan mengikuti Laura dan lainnya. "Itu di sana kita mandi, Kakak bagian laki-laki di sana." Laura memberikan arahan.
"Hmmm." Renggra masih berdiri di tempat, sedangkan Laura sudah pergi ke tepi danau.
Renggra melihat ada anak laki-laki yang sedang memancing ikan di tepi danau, tidak jauh darinya. Melihat anak laki-laki itu mendapatkan ikan besar, Renggra merasa terkejut, dirinya langsung lari menghampiri.
"Wah hebat, kamu bisa memancing di sini dan mendapatkan ikan besar."
Anak laki-laki itu melihat Renggra. "Iya-iyalah, ini sudah menjadi pekerjaan kami, selama hidup di alam bebas. Kamu orang baru dari panti asuhan?" tanyanya sambil melepaskan ikan dan meletakkannya di wadah berisi air.
"Namaku Renggra Wijaya, panggil saja Renggra. Aku tersesat dan bingung dengan jalan pulang, jadi tertidur di bawah pohon, tiba-tiba bangun sudah berada di panti asuhan. Kamu sendiri, siapa? Di mana kamu tinggal?" mulai penasaran.
Renggra duduk di dekat anak laki-laki itu. "Namaku Angga Gunawan, panggil aja Angga. Aku tinggal bersama orang-orang di sini dengan mereka." menunjuk ke arah rumah penduduk yang tidak jauh darinya.
Renggra melihat bangunan rumah yang terbuat dari kayu bersusun rapi di dekat danau, kembali melihat ke arah Angga.
"Kemana orang tuamu dan keluargamu? Maaf, kalau aku banyak tanya." penasarannya
"Orang tuaku semuanya meninggal Reng, akibat longsor di bawah bukit ini, yang selamat hanya aku. Keluargaku yang lain, tidak mau mengajakku dengan alasan, mereka masih banyak yang di urus. Mungkin mereka takut, aku menyusahkan mereka. Sehingga, aku di titipkan sama orang di sini, membantu dan bekerja dengan mereka." jelas Angga terlihat sedih.
Renggra yang mendengar cerita kehidupan Angga, merasa sedih. "Kenapa aku tidak bisa sekuat Angga? Padahal, dia lebih sedih hidupnya di bandingkan aku. Sedangkan aku, masih mempunyai Bu Ani, Adikku dan lain-lainnya." ucap batin.
"Kamu mau ikut ke rumahku?" ajak Renggra ingin sekali mempunyai teman seperti Angga. Dirinya juga melihat Angga orang yang baik, siapa tau dengan adanya Angga, dirinya bisa menghilangkan kesedihan secara perlahan, pikir Renggra.
"Aku nggak mau menyusakanmu dan keluargamu Reng." tolak Angga.
"Aku sama sepertimu, tidak mempunyai kedua orang tua lagi. Keluarga besarku saja, hanya Ibu asuh dan adik perempuanku. Sisanya, aku nggak tau yang mana keluargaku. Malam tadi, kedua orang tuaku meninggal dunia. Tadi pagi, baru saja di makamkan. Sehingga aku tidak mau pulang dan berlari sejauh mungkin. Tapi aku tersesat di hutan. Tolong rahasiakan sama Ibu panti asuhan dan anak-anak lainnya." akhirnya Renggra berkata jujur.
__ADS_1
Angga mendengar cerita dari Renggra, merasa sedih. "Kasihan Renggra, apa yang ku rasakan dulu, sekarang terjadi padanya. Aku tidak mau dirinya sedih dengan hidupnya, seperti aku dulu." ucap batin.
"Hmmm, baiklah aku ikut. Tapi aku, tidak mau ikut kalau tidak bekerja atau membantumu. Oh iya, kamu kabur, bagaimana mau pulang?"
Renggra yang mendengar Angga setuju ikut bersamanya, merasa bahagia dengan raut wajah yang tersenyum-senyum.
"Alhamdulillah, mulai sekarang aku jadikan kamu sebagai sekretarisku, serta sahabat baikku. Kita tunggu saja mereka menjemputku. Mereka akan menyadarinya jika aku hilang. Setelah mereka menemukan dan mengajak ku pulang, kamu ikut bersamaku."
"Apa kamu anak orang kaya atau kamu sedang mempermainkanku?"
"Aku tidak mungkin berbohong padamu."
"Baiklah, aku percaya saja. Tapi, bagaimana dengan keluargamu yang di ceritakan tadi? Apa mereka akan benar-benar menerimaku. Jika tidak, biarlah aku tinggal di sini."
"Aku yakin mereka akan setuju. Jika tidak, biarlah aku di sini bersamamu."
"Janganlah seperti itu, kasihan keluargamu, Reng."
"Biarlah,"
"Kak Renggra kamu ngapain di sana, ayo pulang? Kenapa kakak juga tidak mandi, nanti bau dan gatal?" pekik Laura berjalan mendekat.
Renggra dan Angga yang mendengar suara teriakan seseorang, langsung melihat ke arahnya sambil berdiri.
"Kak Renggra kenal dengan kakak ini?" menunjuk Angga.
"Aku akan mandi setelah di jemput oleh keluargaku. Aku tidak biasa mandi di sini. Oh ya, barusan kami berdua kenalan dan sekarang pun, kami akan menjadi teman. Laura kenalkan ini Angga," melihat Angga. "Angga ini Laura yang menemukanku di hutan tadi."
Angga langsung mengangkat tangannya ke arah Laura untuk mengajak salaman.
Renggra yang melihat tangan Angga yang ingin memegang Laura, merasa terganggu.
"Jangan sentuh Laura dengan tangan kotormu itu. Tanganmu habis memegang ikan, kasihan Laura dia habis mandi, nanti bau amis." cegah Renggra.
Angga baru sadar belum mencuci tangan, ia pun langsung menurunkan tangannya.
"Oh ya maaf aku lupa, kenalkan namaku Angga Gunawan. Panggil saja dengan sebutan Angga. Aku tinggal di pondok itu bersama para warga." menunjuk kembali tempat tinggalnya.
"Oh, ternyata nama kakak Angga. Aku sering melihat kakak memancing ikan disini. Kalau begitu, ikut kami main ke panti asuhan yuk, Kak?" ajak Laura.
"Hmmm, aku cuci tangan dulu, sekalian meletakkan wadah berisi ikan ini di rumah. Tunggu sebentar di sini."
"Iya." jawab Renggra dan Laura serentak.
Renggra selama ini menjadi orang yang pemurung, sekarang merasa sangat terhibur adanya Laura, Angga, ibu Aminah dan anak panti asuhan lainnya. Renggra tidak pernah berbicara sebebas ini kepada orang lain, di sekolahnya pun, hanya bersama Nova yang termasuk suka bercandain Renggra. Sisanya hanya belajar dan di rumah.
"Kak Renggra, apa sekarang tidak marah denganku dan mau menjadi temanku?" tanya Laura, memastikan sikap Renggra padanya.
"Iya! Aku tidak marah lagi padamu dan menjadikanmu temanku." jawab Renggra.
"Kak, jika nanti pulang, jangan lupakan aku ya? Mainlah ke panti sesering mungkin, biar kita bisa main bersama."
"Hmmm, insyaallah."
__ADS_1
Bersambung...