Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 3 Ancaman


__ADS_3

Setelah makan seperlunya, Laura berdiri dan berjalan ke arah meja kecil yang berada di sudut ruangan, menekan nomor telepon.


"Sebentar lagi kami akan menjumpai anda terimakasih." ucap seseorang yang memberi tahu bahwa Laura memanggil.


"Belum juga gue berbicara, udah ada aja yang jawab. Canggih banget ini telepon." meletakkan telepon di tempat semula.


Berjalan kembali duduk di kursi sofa, menunggu Bi Siska datang.


Tok tok tok.


"Ah itu dia," Laura langsung berdiri jalannya ke arah pintu.


Ceklek!


"Sudah ya, Non. Makannya?" tanya Bi Siska.


"Iya Bi, sudah."


"Kalau begitu saya permisi masuk ya, Non,"


"Ah iya, Bi." melebarkan pintu.


Bi Siska masuk mengambil meja dorong, menariknya keluar. "Saya permisi ya, Non. Silahkan istirahat."


"Ah iya Bi, terimakasih. Oh ya, Pak Renggra kapan dia mau ke sini?"


"Sama-sama, Non. Tadi Bibi lihat, Tuan muda masih duduk di ruang tengah, nggak tau kapan Tuan muda akan ke sini. Nona mau minta Bibi panggilkan?"


"Ah nggak usah Bi, biar saya tunggu aja di sini, siapa tau Pak Renggra masih ada kerjaan." tolak Laura.


"Oh iya udah kalau begitu, Bibi keluar dulu ya, Non. Jika butuh sesuatu, panggil aja seperti tadi lewat telepon." jelasnya.


"Iya, Bi."


Bi Siska mendorong meja keluar ruangan, sedangkan Laura langsung menutup pintu.


"Gue lihat-lihat kamar ini aja dulu kali ya, sekalian turunin makanan yang masih di proses di dalam sana. Dari pada mikirin masalah yang buat hati gue sedih terus. Nggak apa-apa kali ya, lihat-lihat bentar milik Pak Renggra. Sebenarnya nggak boleh sih inikan privasi beliau, tapi salah dia sendiri minta gue tinggal di sini, lagian gue nggak maling hanya lihat-lihat aja." penasaran Laura terhadap kamar yang di bilang mewah itu. Lihatnya kamar mandi dengan berjalan pelan-pelan.


Ceklek!


Membuka pintu kamar mandi, melihat luasnya tempat itu. Ada juga bathtub untuk berendam, handuk dan berbagai macam alat yang tersusun rapi di dalam sana. "Wah, ini kamar mandi besar banget, rapi, bersih. Besar kamar mandi ini dari pada kamar gue di rumah." berjalan kembali keluar kamar mandi dan menutupnya.


Melihat ruangan yang berhadapan dengan kamar mandi. "Ruangan apa itu?" penasarannya. "Banyak banget sekat di dalam kamar ini." berjalan pelan masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan pakaian, tas bermerek yang tersusun rapi di dalam lemari. Sebuah meja keramik yang berisi berbagai dasi, jam, dan perhiasan lainnya.


"Ini tempat kok, seperti tokoh pakaian dan aksesoris mahal. Ini semua punya Pak Renggra. Masya Allah, luar biasa banget dirinya punya beginian. Eh udah dulu, lihat-lihatnya entar Pak Renggra datang, gue di tuduh mencuri lagi. Masalah satu belum kelar, datang masalah lainnya, tambah pusing kepala gue." berjalan keluar ruangan kembali duduk di kursi sofa melihat isi kamar yang menurutnya sangat indah, bernuansa mewah di campur warna cat cream dan coklat tua, serta penuh dengan perlengkapan teknologi canggih lainnya.


"Benar-benar sangat indah nih kamar, seperti hotel bintang 10 bukan 5 lagi. Pak Renggra begitu hebat bisa memiliki ini semua. Oh ya, bagaimana dengan gue sekarang? Apa yang harus di lakukan? Oh ya, di mana tas dan handphone gue?" Laura baru ingat dengan tas dan isinya.


Berdiri kembali dan melihat sana sini, berharap menemukan barangnya, tapi tidak terlihat di kamar itu. "Sepertinya tas dan handphone gue masih di tempat kerja deh." Laura kembali duduk.


"Iya sudahlah, sekarang gue tunggu Pak Renggra aja, siapa tau dia kesini sebentar lagi."

__ADS_1


Ceklek!


Renggra Masuk ke dalam kamar.


Laura yang melihat ada yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dirinya terkejut langsung berdiri.


"Kenapa Bapak masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu dulu? Bukannya tidak baik, jika ada wanita di sini lalu berduaan dalam satu ruang?" omelnya merasa kurang nyaman berdua di dalam kamar.


Dup!


Renggra menutup pintu, berjalan pelan ke arah kamar mandi. "Ini kamar saya, terserah saya mau berbuat apa?" ucapnya santai.


Laura yang mendengar merasa khawatir. "Iya sudah kalau begitu, saya permisi untuk pulang." jalannya ke arah pintu.


Renggra mendengar Laura ingin kabur, ia langsung berhenti melihat Laura. "Jangan coba-coba untuk melarikan diri dari kamar ini! Kamu itu sudah menjadi calon istri saya. Apa kamu ingin sekali, saya menghabiskan keluargamu sekarang juga?" ancam Renggra kembali, sambil berjalan pelan ke arah Laura.


Laura berhenti melihat Renggra berjalan pelan, dirinya langsung berjalan mundur secara perlahan.


"Kenapa Bapak melakukan semua ini? Apa tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan saya?" Laura merasa kesal.


Laura tidak bisa mundur lagi, dirinya menyentuh dinding, sedangkan Renggra berhenti di hadapan Laura dengan wajah datar berjarak 30 senti meter. Laura merasa cemas dan ketakutan, melihat ke arah kanan mengalihkan penglihatan Renggra.


"Kenapa Pak Renggra sedekat ini?" ucap batin Laura.


"Lihat saya!" perintah Renggra.


Laura masih tidak menghiraukan perkataan Renggra.


Renggra mengangkat tangan kanannya memegang wajah Laura untuk melihat ke arahnya dengan lembut.


Laura yang melihat Renggra dari dekat jantungnya berdegup kencang, dengan langsung menutup mata.


"Kamu sudah menyentuh saya, hukumanmu adalah kamu akan menikah dengan saya. Jangan sekali-kali untuk membantah lagi. Apalagi membuat kesalahan, Ingat! Kamu adalah wanita saya, semua hidupmu hanya milik saya." jelas Renggra dengan mengancam.


Renggra melepaskan wajah Laura kembali pergi ke dalam kamar mandi.


Ceklek!


Dup!


Huuuf!


Laura bernafas lega.


Merasa kaki dan tubuhnya lemas tak berdaya, perlahan duduk di lantai memeluk kedua kaki.


"Gue harus apa sekarang? Pak Renggra benar-benar menakutkan." ucap batin.


Lama menunggu Renggra keluar kamar mandi, Laura merasa matanya mengantuk. "Tidur ajalah sebentar di sini, lama nunggu raja hutan mandi. Lagian kalau dia keluar gue ke bangun juga." guling di lantai, memejamkan mata tidak butuh waktu lama, dirinya tidur terlelap.


Ceklek!

__ADS_1


Renggra keluar dari dalam kamar mandi, masih menggunakan handuk di pinggang, berjalan ke arah ruang pakaian, sempatnya melihat Laura yang tertidur di lantai.


"Laura-Laura, tidur di situ. Seperti anak yang di hukum Ibu tiri aja." jalannya ke arah Laura memindahkan ke atas ranjang, Renggra duduk di samping Laura. Melihat Laura tidur begitu damai. "Cantik." ucap batin Renggra, memuji.


Laura terbangun perlahan duduk berhadapan dengan Renggra yang masih melihat ke arahnya. "Astaghfirullah," langsung menjauhkan tubuhnya ke ujung ranjang, dengan cepat turun dan berdiri.


Renggra yang melihat merasa aneh dengan tingkah Laura, dirinya pun ikut berdiri melihat ke arah Laura.


"Kenapa Bapak ada di samping saya?" merasa cemas, takut Renggra berbuat mesum.


Laura melihat sekilas tubuh Renggra yang berotot 6 petak, berkulit putih susu kemerahan, masih menggunakan handuk putih batas pinggang, tibanya Laura tersadar langsung menutupi wajahnya.


Renggra melihat Laura begitu menggemaskan. "Apa yang dirinya pikirkan?" ucap batin, sambil berjalan ke ruang pakaian tanpa menjawab pertanyaan Laura.


Dup!


Menutup pintu.


Laura mengintip di sela-sela jarinya, saat Renggra masuk ke dalam ruang pakaian, melepaskan tangan yang menutupi wajahnya. "Apa yang terjadi? Apa Pak Renggra meletakkan gue di atas ranjang? Tapi, kenapa Pak Renggra duduk di samping gue? Apa jangan-jangan?" Laura berjalan cepat duduk di kursi sofa. "Tidak! Itu tidak mungkin." terselip bayangan tubuh Renggra yang menggoda. "Kenapa Pak Renggra bisa menjadi sesempurna itu menjadi manusia?" sadarnya. "Astaghfirullah, pikiran mesum apa yang gue pikirkan? Sadarlah Laura, sadar." ucap batin, menutup wajah kembali menggunakan kedua telapak tangan.


Ceklek!


5 menit Renggra baru keluar dengan pakaian santai.


Melihat Laura masih menutupi wajahnya.


Renggra berjalan dan duduk di pinggir ranjang berhadapan dengan Laura. "Bukalah wajahmu, nanti kamu kekurangan oksigen. Tidak sadarkan diri lagi. Buang juga semua pikiran kotormu itu. Saya tidak akan menjadi semesum yang kamu pikirkan. Saya tau mana hak dan mana yang bukan." jelasnya agar Laura lebih santai tanpa berpikiran negatif.


Laura mendengar Renggra berbicara bahwa dirinya tidak akan berbuat mesum, melepaskan tangannya dan melihat Renggra. "Pak, bisakah saya di gantikan dengan perempuan lain?" usaha Laura ingin bernegosiasi dengan Renggra.


Ting ting ting.


Handphone Renggra berdering, tanpa menjawab pertanyaan Laura, dirinya langsung mengambil handphone di atas meja dekat ranjang.


Renggra mengangkat telepon dari Angga. "Ada apa Ga? Oh iya udah gue ke sana sekarang, siapkan semua dokumen." perintahnya.


Setelah berbicara Renggra menutup telefon, kembali melihat Laura. "Pertanyaanmu nanti saja saya jawab. Saya ada urusan mendadak, mungkin akan pulang malam, sekalian mengurus semua pernikahan kita. Jangan pernah berpikir untuk kabur atau keluar dari rumah. Jika saya tidak melihatmu, kamu pasti tau sendiri akibatnya." terus mengancam Laura.


"Tapi, Pak. Saya harus apa sampai Bapak pulang?" Laura merasa bingung.


"Tunggulah di kamar ini, sampai saya pulang, jangan banyak pertanyaan lagi, saya sibuk." putus Renggra sebelum Laura semakin banyak pertanyaan.


Renggra berjalan ke ruang pakaian untuk bersiap-siap, 5 menit selesai kembali berjalan keluar ruangan.


Cklek!


Dup!


Laura hanya diam melihat Renggra pergi. "Laki-laki yang benar-benar kejam."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2