Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 24 Pacaran


__ADS_3

"Yang nih," sesampai di rumah langsung menghampiri Laura, memberikan plastik hitam besar.


Laura mengambil. "Mas, banyak banget. Ini mah buat jualan."


"Nggak apa-apa, Yang. Dari pada nggak tau merek apa yang kamu pakai." bela Renggra.


Laura membuang nafas kasar. "Mas, merek apa aja aku pakai." ambilnya satu bungkus sisanya di letakkan di lemari. "Lain kali, tanya dulu." perginya ke kamar mandi.


Renggra hanya diam saja, mungkin benar terlalu banyak pikirnya.


Tak lama Laura keluar. "Yuk, Mas. Kita jalan."


"Perutmu, nggak apa-apa, Yang?" tanya Renggra yang duduk di pinggir ranjang menunggu Laura.


"Hanya mules-mules aja, biasanya nggak pernah ngerasain apa-apa." sadarnya Laura yang benar-benar sudah terbuka dan tidak malu lagi dengan Renggra.


Renggra hanya tersenyum-senyum, Laura mulai menerimanya. "Mungkin kamu stres, Yang. Apa kamu masih ke pikiran tentang pernikahan kita?" tanya Renggra yang ingin tau, apa pernikahan ini termasuk membuatnya ke pikiran.


Angguk Laura, yang berdiri tak jauh dari Renggra. "Hmmm!" jawabnya jujur sambil berjalan ke arah pintu.


Deg!


Renggra merasa mengganjal di hatinya, berarti selama beberapa hari kebelakang, membuat Laura mengalami stres.


Tangan Laura langsung di pegang Renggra. "Yang," panggil Renggra dengan nada lembut.


Laura berhenti melihat Renggra, dirinya merasa bersalah telah berkata jujur.


"Yang, apa ini semua salah Mamas?" Renggra merasa bersalah, dirinya juga ingin tau.


Laura hanya diam, bingung ingin berkata apa.


Renggra merasa Laura benar-benar tak menerimanya, inilah sebab Laura banyak pikiran dan menggangu kesehatannya. "Hmmm, baiklah Yang. Mamas antar kamu pulang ke panti asuhan." melepaskan tangan Laura, mungkin ini sudah jalannya,


Laura merasa benar-benar terkejut, mendengar keputusan Renggra. "Ma-maksudnya, apa Mas? A-apa kamu juga, merasa terpaksa dengan pernikahan ini?" rasa ingin tau.


Renggra memejamkan bola matanya, mungkin dengan mengikhlaskan Laura pergi meninggalkannya, membuat laura bahagia. "Iya, anggap saja begitu. Bersiap-siaplah." Renggra pergi meninggalkan ruangan.


Hati Renggra terasa hancur, telah memaksa Laura untuk menikah dengannya, mungkin benar, Laura bukanlah jodohnya.


Sedangkan Laura hanya diam berdiri, saat Renggra meninggalkannya di dalam kamar. "Apa benar pernikahan kami akan segera berakhir? Kenapa hati gue terasa sakit ya?"


Laura merasa dadanya sesak, membuat dirinya kembali menyadarkan diri. "Dari awal apa benar, Mas Renggra bukan jodoh gue." air mata yang seketika mengalir secara tiba-tiba membasahi wajahnya.


"Kenapa gue begini? Apa gue mencintai Mas Renggra?" Laura terus mencari jawabannya.


Duduknya di lantai, memeluk kedua kaki. "Baru satu hari gue menikah, udah pisah aja. Seharusnya gue bahagia, tapi kenapa hati gue sakit. Apa gue punya rasa sama Mas Renggra?" Laura merasa bingung, setelah di pikirkannya. "Benar gue mulai menyukai Mas Renggra, tapi sebagai apa?" terus berpikir sebelum menemui Renggra, dirinya masih ragu mencari jawaban.


Sedangkan Renggra duduk di dalam mobil menunggu Laura keluar. Dirinya juga merasa sakit begitu teramat di hatinya. Renggra kira, Laura sudah menerimanya ternyata hanya paksaan yang di lakukan.


Cobaan bahtera rumah tangga membuat Renggra kembali berpikir, berpisah dengan jalan yang buruk membuat Tuhan tak menyukainya.


10 menit Renggra menunggu di dalam mobil, Laura tak kunjung keluar, ia pun keluar dari dalam mobil mencoba mendekati Laura. Ingin bertanya sekali lagi untuk menetapkan hatinya.


Renggra masuk ke dalam kamar, dirinya melihat Laura duduk di ujung ranjang dekat kamar mandi, dengan menangis tersedu-sedu.


Hatinya bertambah sakit, apa yang telah ia lakukan?

__ADS_1


"Yang," mendekati Laura dan langsung memeluknya.


Tangis Laura semakin pecah, Renggra hanya menahan rasa sakit melihat Laura menangis karena perbuatannya.


"Yang menangislah, Mamas ada di sini." Renggra memeluk Laura, mencoba menenangkannya, mengusap pelan kepala Laura, menunggunya selesai menangis.


Setelah 30 menit Laura menangis, dirinya melepaskan pelukan Renggra dan melihat pakaian Renggra basah akibat air mata yang mengalir terlalu deras. "Mas, pakaian kamu?" ucapnya masih senggugukkan masih sempat memikirkan hal lain.


Renggra tersenyum. "Udah nggak apa-apa, Yang. Gimana udah legah?" usapnya wajah Laura yang basah akibat air mata.


Laura mengangguk. "Iya, Mas."


"Yang, maafkan Mamas." Renggra memegang tangan Laura, duduk di lantai berhadapan. "Yang, maaf telah membuat kamu begini. Sekarang Mamas mau tanya. Apa kamu masih belum menerima pernikahan ini atau kamu mau pisah dari Mamas?" tanya Renggra yang ingin memperjelas hubungan mereka.


Laura merasa bingung, harus berbuat apa? Dirinya juga sudah terlanjur menyukai Renggra secepat ini. "Mas, kamu juga terpaksakan? " Laura ingin tau apa jawaban Renggra sebelum memutuskan sesuatu.


Renggra kembali tersenyum. "Yang, kalau Mamas benar-benar terpaksa, tidak mungkin sedekat ini denganmu." tariknya nafas. "Mamas benar-benar mencintai kamu." yakinnya mencoba meluapkan isi hati.


"Sejak kapan Mamas menyukai aku?" Laura semakin penasaran.


"Semenjak, 15 tahun yang lalu." jelas Renggra ingin jujur terhadap Laura.


Laura terkejut. "Apa Mas? Kamu kalau bercanda jangan sekarang?" merasa kesal, dirinya lagi serius di ajak bercanda.


"Serius, Yang! Kamu ingat nggak, waktu masih tinggal di panti asuhan di daerah ini pernah menemukan anak laki-laki di tengah hutan." Renggra ingin Laura mengingat dirinya.


Laura berpikir sejenak. "Memang benar aku dulu menemukan anak laki-laki di tengah hutan." ingatnya pada kejadian hari itu. "Tapi apa hubungannya dengan Mas Renggra, atau jangan-jangan." ucap batin.


"Mamas anak laki-laki itu?" Laura langsung saja menanyakannya.


"Kenapa malah memaksaku menikah, Mas?" Laura ingin tau.


"Mamaskan sudah bilang bah-."


"Mamas menyukaiku." putus Laura.


"Hmmm, iya Yang." Renggra mencoba kembali memastikan. "Yang, coba jawab pertanyaan Mamas. Sekali lagi." tariknya nafas. "Kamu cinta nggak sama Mamas? Kamu mau nggak ngejalani bahtera rumah tangga sama Mamas?" menunggu jawaban Laura, pasrah dengan jalan yang sudah di tentukan, ikhlas menerima sebuah kenyataan.


Laura mengangguk menyatakan iya, dirinya merasa Renggra telah merebut hatinya begitu cepat.


Renggra terkejut. "Yang, coba jawab jangan mengangguk aja." pastikannya kembali.


"Iya, Mas." menahan malu.


"Iya, apa?" sempatnya bercanda.


Laura mengusap air mata di wajahnya. "Aku malu Mas?" menjawab dengan jujur.


Renggra tersenyum. "Yang, kenapa malu?" merasa gemas melihat Laura. "Coba tarik nafas, jawab yang ingin di ungkapkan, Mamas ingin kamu berkata jujur jangan ada lagi paksaan, beban, semuanya." Renggra ingin sekali mendengar jawaban yang lebih pasti.


Laura mengikuti arahan Renggra, menarik nafas, kemudian di hembuskan.


Huuuf!


Dirinya merasa sedikit tenang. "Mas, awal memang ini terasa berat, siapa coba yang nggak ngerasa gitu. Tiba-tiba hidup yang di jalani berubah drastis." tahannya yang ingin menangis lagi. "Mas, bikin hati Laura meleleh setiap saat, cukup satu minggu Mamas udah bisa merebut hatiku." mengusap air mata yang ingin menetes. "Mamas juga bikin Laura dekat dengan Tuhan, semuanya bikin Laura merasa tertampar, kurang apalagi coba. Saat Mamas bilang ingin mengantar Laura pulang, sakit banget Mas." pejamnya mata dan air mata kembali menetes. "Apalagi Mamas bilang, mencintai aku 15 tahun lamanya. Eh tunggu! Jangan-jangan waktu aku bilang jangan membenci takut Mamas mencintai aku ternyata itu benaran." ingat Laura dengan ucapannya yang terbilang hanya candaan saja.


"Hmmm, mungkin begitu. Jadi gimana, mau nggak kita sekarang pacaran?" ajak Renggra ingin memulainya dari awal.

__ADS_1


"Kenapa kita pacaran Mas, bukannya kita kemarin udah ijab kabul, atau Mamas mempunyai riwayat amnesia?" Laura merasa bingung.


Renggra memegang tangan Laura. "Pacaran setelah menikah, Yang." senyumnya.


Renggra merasa bahagia, ternyata Tuhan menguji pernikahan di awal untuk memastikan ikatan cinta dalam bahtera rumah tangga.


"Benar Laura jodohku." ucap batin Renggra merasa tenang dan legah semuanya telah terjawab.


"Yang, kamu cinta nggak sama Mamas? Kamu belum jawab." Renggra ingat mendengar keputusan Laura.


"Hmmm Iya Mas, aku mau." Laura tersenyum malu.


Renggra memegang dada, kemudian terguling di lantai.


Laura langsung panik, melihat Renggra tiba-tiba jatuh ke lantai. "Mamas kenapa? Dadanya sakit? Kita ke dokter ya, Mas." pegangannya bahu Renggra merasa khawatir, Laura takut Renggra terkena serangan jantung.


Renggra menarik nafas. "Ay, panahmu tepat sekali menusuk jantungku." candanya.


Laura bernafas legah yang di rasakan, ternyata Renggra hanya bergurau.


Plak!


Laura memukul bahu Renggra.


"Aw sakit, Yang." pura Renggra merasa sakit.


"Mamas, bercandanya nggak bermanfaat banget." Laura merasa kesal, dengan jantungnya hampir lepas, melihat Renggra berakting seperti orang terkena serangan jantung.


Renggra duduk kembali di hadapan Laura. "Kalau nggak seperti ini, kamu nangis lagi Yang." memegang pipi Laura.


"Iya itukan gara-gara kamu, Mas. Bikin hatiku lumer." benar adanya yang di rasakan Laura.


Renggra merasa gemas melihat Laura yang bisa juga gombal. "Yang, kalau nggak datang bulan, udahku terkam kamu." candanya lagi, agar Laura semakin tenang.


Laura menyipitkan mata. "Janganlah Mas, mau pacaran dulu." memberi kode.


"Hmmm," mengikuti maunya Laura, yang penting Renggra telah mendapatkan hati Laura.


"Mamas marah ya?"


"Nggak Yang, santai aja."


"Serius."


"Serius, mau maksa juga lagi datang bulan. Di tambah belum pukulan yang sering kamu lakukan." canda Renggra.


Laura menyipitkan mata. "Kodemu keras juga, Mas."


"Hahaha enggak Yang, Mamas hanya bercanda. Udah yuk kita masak, sarapan dulu. Biar Mamas aja yang masak selama di sini, kamu nyuci piringnya."


"Iya Mas. Oh iya Mas, emang ini rumah siapa yang nunggu selama nggak ada orang di rumah ini?" kepo Laura yang rumah itu terlihat bersih dan rapi.


"Di belakang ada rumah, mereka yang mengurus villa ini." jelas Renggra sambil berdiri. "Yuk kita sarapan dulu, sudahnya kita jalan-jalan berkenalan dengan penjaga di sini."


"Hmmmm, iya Mas."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2