Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 43 Manusia Licik


__ADS_3

Mobil sedan berwarna hitam pekat berhenti di depan klub malam, dengan nuansa gedung yang mewah.


Angga dan Nova ikut mengantar Renggra, tidak bisa di pungkiri dengan kejadian kemarin membuat Nova dan Angga merasa khawatir.


Angga melihat Renggra yang duduk di samping Nova. "Reng, kami akan menunggu elu di parkiran. Elu hati-hati jika terjadi sesuatu beri kami sinyal." merasa cemas.


Nova memegang pundak Renggra. "Kami akan mengawasi lu dari jarak jauh." sambung Nova.


Angguk Renggra. "Hmmm."


Renggra turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam klub. "Semoga elu baik-baik saja Reng." ucap batin Angga.


Ceklek!


"Silahkan masuk, Pak Renggra." ucap pelayan yang membuka pintu.


"Hmmm," jawab Renggra.


Di sana terdapat laki-laki muda duduk sendirian dengan melihat ke arah Renggra.


Berdirinya menyambut kedatangan Renggra. "Mari duduklah Pak Renggra, tenang tidak akan terjadi apa-apa." ucap lelaki itu santai saat Renggra mendekati meja bundar di lapisi kain putih.


Renggra duduk di kursi yang telah di siapkan, lelaki itu menjentikkan jari memberi kode pada pelayan untuk menghidangkan minuman kepada mereka.


Renggra tersenyum. "Terimakasih, anda telah mengundang saya. Sekarang apa maumu?" merasa luapan emosi memuncak.


Lelaki itu melihat reaksi wajah Renggra yang tidak begitu menyenangkan, merasa terlalu cepat untuk bernegosiasi. "Ayolah Pak Renggra, jangan terlalu tegang dalam suasana kita. Mari saya perkenalkan dulu identitas ku agar kita bisa saling kenal. Namaku Aditya Mahesa, usiaku 25 tahun jauh di bawahmu." duduknya kembali.

__ADS_1


Renggra melipat tangan ke dada. "Baiklah sekarang saya sudah tau identitas anda, sekarang apa tujuan anda dengan semua ini?" inginnya segera selesai, mengetahui apa mau dari laki-laki mudah yang ganteng melakukan tindakan seperti anak kecil. Walaupun usianya memang masih ingin bermain-main.


Aditya tersenyum-senyum. "Ayolah, kita minum dulu tenggorokanku kering setelah berkenalan, anggap saja malam ini pertemuan yang menyenangkan antara anda dan saya." bujuknya agar tidak tegang dalam perbicaraan, menuangkan botol minum ke arah gelas Renggra dan gelasnya. "Mari kita bersulang?" Aditya mengangkat tangannya memegang gelas berisi minuman ke arah Renggra.


Renggra mengambil gelas berisi jus jeruk. "Maaf, saya tidak suka minum dengan tradisi begitu." minumnya seteguk.


Aditya menarik kembali tangannya. "Oh, oke! Santai saja dan nikmati." minumnya seteguk meletakkan kembali gelas di atas meja. "Kenapa auranya dingin sekali ya di sini?" menyindir aura dari Renggra.


Renggra mengambil tisu dan mengelap sisa jus di bibirnya. "Saya datang bukan ingin bersenang-senang dengan mu, kita berbicara pada intinya saja, apa mau mu?" Renggra merasa Aditya mengulur-ngulur waktu.


Aditya menyender di kursi. "Wow tidak sabaran sekali, baiklah Pak Renggra." Aditya mengambil sebuah kertas di dalam sakunya, meletakkan di dekat Renggra. "Lihatlah." menyipitkan mata dengan tersenyum tipis.


Renggra mengambil secarik kertas yang berisi foto Laura memakai seragam kerja, kerutan kening apa hubungan dengan istrinya itu. Lirik kembali ke Aditya dengan wajah yang datar.


Aditya menaikkan alis tebalnya. "Kenapa anda tidak suka melihat saya?" tantangnya.


Aditya tersenyum tipis. "Mauku, anda pisah dengan wanita itu. Dia milik ku," ucapnya pelan ingin Laura dan Renggra berpisah.


Renggra menghembuskan nafas. "Milikmu, tapi dia istriku. Berarti milikku." santai Renggra menyikapi kebucinan Aditya pada Laura.


Aditya menunjuk Renggra. "Anda yang berani mengambil milik ku dengan paksa Bapak Renggra." Aditya merasa kesal.


Renggra menyingkirkan tangan Aditya. "Kalau saya tidak mau bagaimana?" tantang Renggra kembali.


Aditya duduk santai kembali, memainkan jari-jari tangan. "Masih banyak seribu cara untuk mendapatkannya, kita lihat saja besok." berdirinya meninggalkan Renggra, dengan tatapan sinis, tibanya berhenti dengan jarak yang tak begitu jauh. "Lihat di jarimu, ada serbuk pelupa ingatan. Anda akan lupa pada istri mu sendiri. Hahaha..." tawa Aditya meninggalkan Renggra.


Renggra mengangkat tangannya, benar serbuk itu menempel di kulitnya. "Benar-benar manusia licik." ucap batin Renggra, tiba penglihatannya berbayang.

__ADS_1


Rasa sakit yang menggigit di kepala, membuat Renggra merasa pusing. memberikan sinyal lewat jam tangan menghubungi Angga. Usahanya berdiri, menarik nafas. Sakit itu sekejap hilang, jalannya cepat keluar ruangan menuju pintu luar club.


Ceklek!


Dup!


Duduk di dekat Nova.


Sebotol cairan obat, di berikan Nova ke Renggra. "Minumlah obat pencahar ini sebelum elu bicara." melihat reaksi tubuh Renggra tidak baik-baik saja.


Obat yang di berikan Nova dapat menjinakkan efek samping dari obat lain.


Renggra meminumnya, tariknya nafas. Sesaat tubuhnya melemas, menahan sakit yang menjalar di kepalanya. Tariknya nafas legah, obat itu meminimalisir rasa sakit tersebut.


"Bagaimana, apa yang terjadi di dalam?" tanya Nova ingin taunya, apa yang membuat Renggra mengalami pucat di wajahnya.


Renggra meletakkan botol di pinggir pintu. "Dia ingin gue berpisah dengan Laura." Renggra meneguk saliva, merasa pahit di lidah.


"Apa! Dia benar-benar sudah gila. Meminta elu bercerai dengan Laura." Nova terkejut merasa aneh dengan laki-laki yang ingin mengambil istri orang.


"Entahlah gue nggak paham, dirinya menaburkan obat di meja dan mengenai jari ku agar gue melupakan Laura. Tadi sempat kepala gue pusing sekarang sudah hilang." jawab Renggra dengan menghembuskan nafas panjang.


"Gue khawatir dengan lu, Reng. Sekarang kita kerumah sakit, periksa kembali kondisi lu. Nanti kita bahas jika keadaan elu baik-baik saja." solusi Angga yang memikirkan kesehatan Renggra.


"Hmmm!" jawab Renggra.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2