
Pulang larut malam mengerjakan banyak pekerjaan yang harus di selesaikan, membuat Renggra tak bisa pulang lebih awal.
Rindunya ingin bertemu istri serta anaknya yang tak terbendung.
Ceklek!
Masuk ke dalam kamar melihat Laura sedang meniduri Yusuf sambil menyusui. Dirinya menyender di dinding ranjang dengan mata terpejam sepertinya tertidur.
Renggra tersenyum, suasana seperti ini hampir setiap hari Laura lakukan jika Renggra pulang malam.
Renggra berjalan langsung ke kamar mandi membersihkan diri sebelum menyentuh istri dan anaknya. Ia tidak mau kotoran di pakaiannya membawa penyakit.
15 menit selesai.
Ceklek!
Renggra berjalan ke ruang pakaian, dirinya menggunakan pakaian santai. 3 menit selesai berpakaian, berjalan keluar untuk mendekati Laura dan duduk di sampingnya.
Tangan Renggra memijit bahu Laura, yang mungkin letih, mengurus Yusuf semakin hari semakin aktif.
"Yang, bangun." Renggra berbisik di telinga Laura.
"Hmmm! iya, Mas." sekali saja Laura di panggil sudah terbangun, dirinya langsung mengusap wajah. "Aku ketiduran." melihat Renggra. "Mamas, kapan pulang?" Laura menikmati pijitan Renggra.
"Sekitar 20 menit yang lalu Mamas pulang. Letakkan Yusuf ke ranjangnya. Lihat tuh, sudah tidur pulas." perintah Renggra.
"Hmmm! Iya, Mas."
Renggra melepaskan bahu Laura dan mencium pipi Yusuf dengan sangat pelan, agar tak terbangun. "Semoga mimpi indah, sayang." bisiknya.
Laura bergerak pelan meletakkan Yusuf dengan hati-hati, di ranjang kecil sampingnya. Setelahnya Laura duduk kembali. "Mamas, belum tidur?" kembali Renggra memijit bahu Laura.
"Belum, Yang." Renggra mencium leher jenjang Laura.
Laura merasa geli, dengan perlakuan Renggra yang semakin hari makin nakal. "Mamas, kamu kenapa sih? Geli tau, pijitin tapi yang lain ikut pijit." canda Laura.
"Sekalian, Yang." masihnya mencium secara perlahan.
"Sekalian, apa?" Laura melihat Renggra.
__ADS_1
Renggra melepaskan pijitannya. "Yang, Yusuf udah besar. Kapan Ayahnya juga di perhatikan?" kode Renggra.
Laura menyipitkan mata. "Perasaan setiap hari kamu aku perhatikan, Mas. Kurang perhatian gimana lagi?" canda Laura.
"Semenjak habis lahiran, jatah Mamas di tunda, Yang." tangan Renggra ke sana kemari memegang tubuh Laura.
"Langsung aja, Mas bilang. Jangan berkata yang membuatku nggak paham." Laura menikmati permainan Renggra.
Renggra memeluk Laura. "Yang, aku tau kamu capek. Tiap hari mengurus Yusuf. Tapi, Yang. Malam ini kamu capek nggak?" membujuk secara halus.
Laura melepaskan pelukan Renggra. "Nggak! Shalat dulu yuk, Mas." mengajak langsung.
"Yang, Kamu berani ya sekarang?" Renggra sempat bercanda, menjahili Laura.
"Mau apa nggak?"
Renggra menarik langsung tangan Laura. "Ayo, Yang." mengajak mengambil wudhu.
Laura tersenyum melihat tingkah Renggra yang berbeda dari biasanya.
Jalan ke kamar mandi bersama, secara bergiliran mengambil wudhu dan melaksanakan shalat sunnah. Membuat Laura dan Renggra merasa seperti pengantin baru lagi, suasana yang nyaman dan damai saat Yusuf tertidur dengan pulas tanpa menggangu mereka shalat.
"Yang, I love you." Renggra berbisik ke telinga Laura saat setelah melaksanakan shalat 2 raka'at.
Senyum Laura yang menggigiti bibirnya. "I love you to, Mas." bisik Laura yang takut Yusuf bangun.
Renggra mencium bibir Laura dengan lembut, memeluk dengan erat.
Laura melepas ciuman Renggra.
"Kenapa, Yang?" Renggra bingung melihat reaksi Laura.
"Mas lepas dulu pakaian shalatnya?" bisik Laura kembali.
Renggra memejamkan mata, lupa melepas dan merapikan alat sholat. "Maaf, Yang. Habis nggak sabar." jujurnya dengan tersenyum.
"Mas, Mas. Semakin hari tambah buas lupa sama yang lain." canda Laura.
Renggra berdiri melepaskan kain sarung. "Harap maklum, Yang. Puasanya lama." balik candai Laura.
__ADS_1
Laura hanya tersenyum, tak bisa membantah memang itulah yang di rasa.
"Aku letakin ini dulu, Mas." Laura mengambil kain di tangan Renggra dan menuju ke ruang pakaian.
Renggra mematikan lampu. Dirinya tidur di atas ranjang, mempersiapkan diri masuk ke dalam selimut.
Laura keluar dari dalam ruangan pakaian, berjalan mendekat dan melihat Renggra yang duluan masuk ke dalam selimut. "Mamas, ngapain disitu?" sempatnya bercanda.
Renggra langsung menarik tangan Laura. "Berantem dengan kamu dalam selimut, Yang."
Laura mengikuti arahan Renggra. "Serem tau nggak, Mas. lihat kamu berubah jadi singa." memposisikan diri.
Renggra mendekati Laura. "Lebih serem, kalau menahan hajat, Yang." belanya.
"Nggak serem, Mas." bantah Laura.
"Kamu yang enggak! Menurut Mamas itu paling menyeramkan." masihnya ingin menang.
Renggra menutupi dirinya menggunakan selimut. "Suuut! Nanti aja kita lanjuti, nikmati dulu." bisik Renggra yang merasa kepanasan.
Laura tersenyum.
Renggra mencium bibir Laura yang lembut, menambah pacuan adrenalin semakin tinggi. Turun ke leher Laura yang jenjang, membuat suasana semakin memanas.
Hoek, hoek, hoek. Yusuf menangis dengan kencang.
Renggra menghembuskan nafas panjang melepaskan Laura.
Laura yang mendengar langsung keluar dari dalam selimut, mengambil Yusuf, menggendongnya dan meniduri kembali.
"Cobaan yang begitu berat, Yang." ucap Renggra pelan menyingkirkan selimut tebal berwarna putih.
"Suuuut! Diam, Mas. Yusuf lagi tidur." ucap Laura berbisik, melihat Yusuf tertidur kembali.
Renggra hanya bisa pasrah menunggu Yusuf tertidur kembali.
Dalam semalam empat kali berturut-turut, Renggra dan Laura membatalkan hubungan intim mereka. Akibat tangisan Yusuf yang tau Ibunya tidak di perbolehkan di sentuh Ayahnya.
Akhirnya Yusuf tertidur pulas di tengah-tengah Laura dan Renggra, secara Ikhlas Renggra menahan hajat demi sang buah hati. Mengalah dengan jagoan yang di buatnya dahulu.
__ADS_1
Bersambung...