Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 19 Tenggelam Bersama Mimpi


__ADS_3

Ceklek!


Laura keluar dari dalam kamar mandi.


Renggra mendengar suara pintu langsung melihat Laura dengan rambut yang di gulung, membuat Laura terlihat lebih santai.


Renggra berdiri, tanpa menghiraukan Laura dirinya masuk ke dalam kamar mandi.


Laura duduk di kursi sofa, bingungnya harus apa?


10 menit berlalu,


Ceklek!


Renggra keluar menggunakan handuk di pinggang batas lutut, langsung duduk di ujung ranjang mengambil handphone lalu menaruhnya kembali. Renggra melihat Laura yang masih berwajah bingung melihat semua ruangan, tanpa menghiraukannya.


"Ra sini, keringkan rambut Mamas?" pinta Renggra yang memecahkan kebingungan Laura.


Deg!


Laura perlahan melihat Renggra yang masih menggunakan handuk duduk santai di atas ranjang, membuat Laura merasa berkali kali melihat indahnya ciptaan sang maha kuasa, bayangan Renggra memeluk wanita lain membuat Laura merasa kesal kembali.


"Kenapa menyuruh aku, Mas? Perasaan di kamar mandi ada hair dryer." Laura mulai was-was.


"Kamu mau menuruti Mamas atau Mamas yang ke arahmu? Beda cerita Ra, kalau Mamas sudah mendekat." canda Renggra dengan mengancam.


Laura mendengar merasa takut. "Iya-iya aku mau."


"Cepatan Ra,"


"Sabar!" jawab Laura yang berdiri dan berjalan naik ke atas ranjang, "Handuknya mana? Masa aku pakai tangan ngipasin rambut Mamas sampai kering."


"Oh, kalau gitu ambil hair dryer aja di kamar mandi." pinta Renggra.


"Ih, bilang dari tadi. Udah duduk di suruh berdiri lagi." ngomel Laura.


Renggra yang mendengar hanya mengulum senyum.


Laura turun dari ranjang jalannya ke dalam kamar mandi mengambil hair dryer.


"Manja banget sih." Laura merasa kesal. "Nggak di turuti ngancam." sambungnya mengomel.


"Ra, lama banget ambil hair dryernya?" Renggra mendengar Laura mengomel sendiri di kamar mandi.


"Iya sabar." Laura berjalan kembali mendekati Renggra, dirinya mulai mengeringkan rambut Renggra dengan jantung yang bergoyang riang di dalam sana.

__ADS_1


Tiba-tiba Renggra menjahili Laura dengan langsung membalik tubuhnya dan memeluk Laura.


Sebenarnya Renggra ingin sekali memeluk Laura dari dulu dan berkata pada Laura bahwa dirinya telah kembali menjumpainya.


Laura merasa kaget. "Mas..." pekik Laura. "Lepas nggak?" perintahnya.


Renggra merasa senang menjahili Laura, ia pun menambah erat pelukannya.


"Halal Ra." jawab Renggra.


Plak!


Hair dryer tibanya melayang di kepala Renggra.


"Aw..." pekik Renggra melepaskan pelukan, langsung memegangin kepalanya.


"Ra, durhaka kamu sama Mamas." Renggra terlihat dingin.


"Mamas sendiri yang melanggar janji." Laura tak kalah berwajah dingin, dirinya mengakui tadi refleks memukul Renggra.


Renggra semakin panas. "Butuh pelajaran sepertinya." ucap batin.


Brak!


"Mas..." pekik Laura memberontak.


"Apa?" Renggra di atas Laura.


"Mamas udah janji sama aku."


"Tapi kamu nggak nurut Ra, malah bermain kasar, sekarang tanggung sendiri resikonya."


Cup!


Mencium paksa Laura,


"Hmmmm, mmmm."


Krek!


Bibir Renggra di gigit Laura.


Renggra langsung melepaskan ciuman, darah segar mengalir deras di sudut bibirnya.


Laura yang melihat merasa terkejut. "Mas, maaf."

__ADS_1


Renggra semakin panas. "Ra, kamu benar-benar tega." Renggra berdiri langsungnya turun dari ranjang, berjalan ke dalam kamar mandi.


"Mas..." pekik Laura merasa bersalah, menyusul Renggra ke dalam kamar mandi.


Melihat Renggra mencuci bibirnya.


"Mas, maaf." Laura terlihat khawatir.


Renggra hanya diam, bibirnya terasa perih.


"Keluar Ra!" bentak Renggra.


"Tapi Mas, bibir kam-"


"Kamu memang bahagia melihat Mamas menderitakan." Renggra memutus ucapan Laura.


"A-aku nggak sengaja, Mas. Kamu duluan yang memaksa." Laura membela diri.


"Kenapa, Ra? Mamaskan suamimu wajar saja Mamas memeluk istri sendiri."


"Tapi Mamas duluan yang bilang nggak akan menyentuh aku sebelum aku memberikannya." Laura mengingatkan ucapan Renggra.


"Benar adanya sih, gue tadikan hanya bercanda. Kenapa gue merasa kesal? Wajar Laura memukul dan menggigit gue. Tapi bibirnya terasa manis." ucap batin Renggra.


"Iya sudah tidurlah." perintah Renggra dengan suara pelan.


"Aku belum siap Mas! ini terlalu cepat bagiku tolong beri aku waktu." sadar Laura atas kewajibannya sebagai istri.


"Mamas beri waktu, tapi tidak bisa menjamin jika kamu tidak menurut." jelas Renggra. "Sekarang tidurlah, jangan tidur di sofa maupun di lantai. Jika Mamas selesai berpakaian kamu masih nggak nurut, ingat!"


"Iya Mas." jawab Laura langsung, dirinya langsung berjalan ke luar kamar mandi.


"Apa aku berlebihan ya?" ucap batin Laura yang berjalan menuju ranjang, langsung tidur menutupi dirinya dengan selimut.


"Maaf, Mas. Aku butuh waktu." kembali batin Laura berucap sambil memejamkan mata mengikuti arahan dari Renggra, tak butuh waktu dirinya terlelap bersama mimpi akibat tubuh yang capek seharian tanpa istirahat.


Renggra selesai berpakaian melihat Laura sudah tertidur pulas, dirinya mematikan lampu lalu menaikin ranjang, masuk ke dalam selimut, guling menghadap Laura yang tidur dengan begitu pulas tanpa beban di wajahnya.


Cup!


Renggra mencium kening Laura. "Selamat tidur, Sayang. Maaf, Mamas keterlaluan bercandanya." ucap pelan.


Renggra melingkari tangannya memeluk Laura, dirinya tak butuh waktu lama tenggelam bersama mimpi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2