
Renggra akhirnya pulang dari kota Semarang. Namun, belum pulang ke rumah. Dirinya masih menghadiri acara tahunan para pegawai, yang di adakan satu tahun sekali. Mempererat tali silaturahmi antar pekerja di hotel milik Renggra terbesar di kota Jakarta.
Pelayan membawa minuman jus ke arah Renggra, karena ia tidak minum wine, dan alkohol jenis lainnya.
Seteguk jus tak terasa telah habis, sambil berbincang dengan klien perusahaan lain.
Setelah beberapa menit Renggra merasa panas, tubuhnya meluap seperti ruangan itu tidak memakai pendingin udara, keringat Renggra mulai perlahan mengalir.
"Kenapa udara di sini, panas sekali?" ucap batin Renggra melihat semua ruangan. "Perasaan tadi biasa-biasa aja." Renggra mulai melepas jas hitamnya.
"Bang sini," panggil Renggra pada pegawai yang berada tak jauh darinya.
"Iya Pak," ucap pegawai itu setelah mendekat ke Renggra.
"Ac-nya mati ya?"
"Nggak Pak," jelasnya, udara saja terbilang sudah dingin sekali.
"Tapi kenapa panas ya?" ucap batin Renggra.
"Ah iya sudah, siapkan kamar saya sekarang." perintah Renggra, mungkin dengan berendam di bathtub dan mandi dapat menghilangkan panas di tubuhnya.
"Eh tunggu!" Renggra menghentikan pegawai tadi.
"Iya Pak, ada apa?" kembali mendekati Renggra.
"Coba ambil remote AC di sini, saya mau melihat." jelas Renggra masih belum percaya pada pegawai tadi.
__ADS_1
"Iya Pak tunggu sebentar." pegawai tadi berlarian kecil mendekati telepon menghubungi karyawan lain atas pinta Renggra.
5 menit Renggra masih menahan sambil berbicara pada klien lainnya.
"Ini Pak," ucap pegawai membawa semua remote AC di serahkan pada Renggra.
Renggra yang melihat rata-rata di angka 16 celcius, untuk satu Ac, sedangkan yang di pasang di ballroom itu banyak sekali. Pasti udaranya dingin pikir Renggra. "Ini kembalikan lagi." meletakkan remote pada tempatnya. "Kamar saya sudah di siapkan, belum?"
"Sudah Pak."
"Oh iya terimakasih."
"Iya Pak, kalau begitu saya permisi."
"Hmmm," Renggra kembali melihat kliennya. "Saya ke kamar dulu Pak, ada urusan." ucap Renggra pada beberapa klien di sana.
"Iya Pak Renggra." jawab mereka serentak.
Rasa Renggra pakaiannya sudah basah oleh keringat, napasnya naik turun, entah kenapa jagoannya di bawah sana ikut berpartisipasi.
Rasanya pacuan adrenalin kembali meningkat.
Renggra menggambil handphone di saku celananya, menelepon Angga. Ingin meminta menjumpainya di ujung balkon.
Kepala yang terasa berat, panas yang semakin meluap membuat Renggra tidak bisa menahan lagi, dirinya langsung berjalan cepat menaikin lift.
Ting!
__ADS_1
Lift terbuka, Renggra langsung membuka pintu kamar dengan huruf, kamar yang telah di buat khusus untuk Renggra.
Dreet dreet dreet.
Dreet dreet dreet.
Handphone Renggra bergetar.
Dreet dreet dreet.
Renggra akhirnya mengangkat telepon saat sudah di dalam kamar. "Ga, elu pulang aja duluan, gue nginep di hotel malam ini. Tubuh gue terasa kurang enak, ingin langsung istirahat aja." menahan nafas yang tidak beraturan, ucapnya istighfar, dan bacaan lainnya dalam batin agar lebih tenang.
"Iya Reng."
Renggra mematikan panggilan, meletakkan di atas meja, dirinya berjalan ke dalam kamar mandi. Mengisi bathtub dengan air dingin. Membuka pakaian dan berendam di dalam bathtub. "Ada apa dengan gue? Kenapa gue sangat bergairah?" ingatannya kembali hanya minum jus tidak makan yang lainnya. "Berarti ada yang salah dari jus yang gue minum tadi." Renggra berpikir siapa gerangan ingin sekali mencelakainya, jagoannya semakin mengeras, Renggra juga tidak bisa menahannya lagi. Pikiran Renggra hanya butuh Laura berada di sampingnya, untuk meluapkan semua yang di rasa.
Lama berendam di bathtub, membuatnya tak kunjung menghilangkan panas di tubuhnya. Penglihatannya mulai kabur, Renggra keluar dari bathub, menggunakan handuk di pinggangnya.
Ceklek!
Keluar dari dalam kamar mandi.
Samar-samar melihat wanita cantik berdiri di hadapannya, pikiran Renggra tidak dapat di kontrol lagi, hanya hawa nafsu yang tinggi bergejolak dalam dirinya. Seperti singa yang kelaparan berhari-hari tidak di beri makan apapun.
Tariknya wanita itu langsung ke atas ranjang, mulai Renggra mencium bibir wanita itu, merobek semua pakai yang di gunakan si wanita. Melampiaskan apa yang di rasa. Otaknya tidak bisa berpikir panjang, apa yang telah ia lakukan.
Nafsu itu terus memuncak, penglihatan yang samar-samar, kepala terasa semakin pusing, terus memaksa sang wanita melampiaskan nafsu syahwatnya. Jelas wanita itu menjerit merasa kesakitan, sebab Renggra memaksa memasukkan jagoannya ke dalam ruang yang masih di bilang bersegel.
__ADS_1
Renggra benar-benar seperti di kendalikan seseorang, tidak lama kesadarannya hilang.
Bersambung...