
"Bu, aku izin keluar mau bertemu dengan sahabatku. Tadi sudah izin sama Mas Renggra katanya boleh." Laura meminta izin pada Bu Ani sebelum dirinya keluar rumah.
"Oh iya udah silahkan." izin Bu Ani.
"Iya Bu." Laura melihat Amel. "Aku pergi dulu ya, entar kapan-kapan kita bicara lagi."
"Ok!" jawab Amel dengan mengangkat tangan kanannya berbentuk emoji ok.
Laura berdiri, jalannya cepat ke arah kamar.
Ceklek!
Dup!
Laura mengambil handphone di dalam tas, menekan layar mencari nomor Merisa, meletakkan handphone di telinganya, menunggu jawaban.
"Assalamu'alaikum, Ra." terdengar suara Merisa, sehabis bangun tidur.
"Waalaikumussalam, Mer?" Laura duduknya di pinggir ranjang.
"Hmmm, masih ingat lu Ra, sama gue?"
"Iya Mer masih. Kalau udah lupa, gue nggak akan nelepon elu."
"Tega banget lu, Ra."
"Elu sekarang lagi kerja nggak?"
"Lagi libur, napa?"
"Ketemuan yuk, sekarang di kafe tempat biasa?"
"Sekarang?" tanya Merisa memastikan.
"Tahun depan." balas Laura kesal.
"Kalau tahun depan, gue tidur lagi aja." canda Merisa.
"Lo tidur, gue bakar apartemen elu." ancam Laura.
"Bakarlah paling elu di penjara." santai Merisa menjawab.
"Serius, Mer." mulai Laura merayu.
"Iya-iya gue siap-siap dulu."
"Oke! Assalamu'alaikum."
"Waalaikumussalam." jawab Merisa, langsungnya mematikan handphone.
Laura meletakkan handphone di dalam tas, mengganti pakaian, polesnya sedikit lip tint di bibir, agar terlihat tidak pucat.
Ceklek!
Dup!
Berjalan ke lantai bawah.
"Bu, Mel. Aku pergi dulu. Assalamu'alaikum."
"Hati, Mbak. Waalaikumussalam." ucap Amel.
"Iya, Ra. Hati-hati. Waalaikumussalam." ucap Bu Ani.
Laura berjalan masuk ke dalam mobil yang ternyata sudah di siapkan di depan teras rumah. Di belakang 1 motor berisi 2 scurity yang siap mengikuti jalan Laura.
"Posesif banget, Mas Renggra." ucap Laura merasa kesal.
__ADS_1
15 menit mobil sampai di kafe.
Laura langsung masuk.
"Nyonya, duduk di sana saja." tunjuk salah satu scurity ke tempat yang di bilang khusus orang kaya.
Laura tanpa bertanya langsung aja mengikuti arahan, berdebat nggak akan menang.
Tring!
Marisa masuk ke dalam kafe, mencari keberadaan Laura. "Itu bukan sih, Laura yang duduk di ruang VVIP?" Merisa melihat Laura duduk santai di ruangan, khusus untuk orang elit. "Kenapa Laura di jaga begitu?" melihat dua orang laki-laki berjas hitam, berpakaian rapi berdiri di belakang Laura. "Jangan-jangan." Merisa berpikir Laura terkena masalah, jadinya di kawal begitu.
Merisa dengan cepat mendekati Laura. "Mer, sini duduk." ucap Laura melihat Merisa yang bingung, sambil menunjuk kursi di hadapannya.
Merisa langsung duduk, melihat Laura di jaga scurity yang berdiri di belakangnya.
Laura melihat scurity. "Pak, kalian duduk di tempat lain aja. Aku ada hal penting yang ingin di bicarakan pada sahabatku."
"Iya Nyonya." jawab scurity langsung pergi duduk tak jauh dari Laura dan Merisa.
"Ra, ini benar elukan? Gu-gue nggak salah orangkan?" Merisa merasa penasaran dan gugup melihat Laura berubah menjadi seperti orang elit.
"Pantas saja, gue beberapa hari ini sulit menghubungi Laura, ke panti asuhan jawaban Bu Aminah, sedang pergi berlibur. Pasti ada yang terjadi, nggak beres ini." ucap batin Merisa.
Laura tersenyum. "Elu terkejut ya lihat gue begini, sama gue juga." jelas Laura.
"Serius, Ra. Apa yang sudah terjadi sama elu? Bertemu gue aja, pakai acara bawa bodyguard segala." takut Merisa pada sahabatnya ini.
Laura tersenyum menceritakan kejadian yang menimpahnya ke pada Merisa, entah itu kabar baik atau buruk.
"Kenapa Bu Aminah nggak ngasih tau gue? Apalagi menikah dengan Oppaku." bisik Merisa takut di dengar scurity yang berjaga.
Merisa masih belum percaya pada Laura sepenuhnya, karena Merisa sangat ngefans dengan sosok Renggra Wijaya sejak dulu. Hanya Laura saja yang kurang kepo pada Merisa, karena Laura juga tidak suka berbau hal-hal yang di sebut mengidolakan artis, pejabat, konglomerat, dan lainnya.
Merisa tau Renggra Wijaya baru saja menggelar pesta pernikahan tertutup sampai istrinya di blur wajahnya, hal itu juga membuat hati Merisa merasa sedih dan galau akhir-akhir ini. Namun, dirinya tidak percaya kalau Renggra menikahi Laura.
Laura langsung mengambil handphone di dalam tas, memegang handphone.
"Gila handphone lu, ikut berubah." ucap Merisa yang syok melihat handphone Laura yang mahal keluaran terbaru.
"Nanti gue jawab. Gue angkat telepon dulu."
"Hmmm,"
"Hallo, assalamualaikum Mas." Laura melihat Merisa dengan penuh tanda tanya.
"Siapa?" tanya Merisa penasaran dengan berbisik.
Laura menjauhi telepon. "Suami gue, Mas Renggra nelepon." bisik Laura.
Mungkin Renggra lain, pikir Merisa.
"Hallo assalamualaikum Mas, ada apa?" penasaran Laura kenapa Renggra menelepon.
"Waalaikumussalam, kamu masih di luar ya, Yang?"
"Hmmm, Iya Mas."
"Nanti sudah selesai dengan temanmu langsung ke perusahaan ya. Sopir sudah Mamas beri tau. Soalnya ada Nova yang ingin berkenalan denganmu." perintah Renggra.
Memainkan pucuk gelas berisi teh hangat manis. "Iya Mas. Kalau boleh aku bawa temanku ke sana, kamu setuju nggak? Hanya satu orang wanita." bujuknya.
"Iya sayang boleh, hati-hati di jalan. Mamas tutup dulu teleponnya sampai jumpa di kantor. Assalamualaikum."
Senyum Laura, akhirnya bisa memberikan bukti pada Merisa. "Iya Mas, waalaikumussalam." tutupnya telepon.
"Elu pasti bercandakan, Ra. Menikah dengan Oppaku?" Merisa masih menyelidiki.
__ADS_1
"Elu masih belum percaya, ayo ikut gue melihatnya."
"Kemana?" antara percaya dan tidak.
"Ikut gue ke perusahaan suamiku, yang elu sebut Oppa itu." jawab Laura lantang.
"Oke, siapa takut! Gue juga nggak akan percaya sama elu, sebelum memberi bukti." ucap Merisa menantang Laura. "Tau nggak yang lebih tepat gue pikirkan apa tentang elu sekarang?"
"Apa?"
"Elu lebih tepatnya seperti simpanan para lelaki hidung belang?"
"Lu kalau berpikir enak banget, udah pergi kita sebelum elu fitnah gue lebih jauh lagi, nambah dosa aja." kesal Laura dengan berdiri.
"Oke, kita buktikan." Merisa masih tidak percaya.
"Bentar gue bayar dulu." ucap Laura.
"Hmmm."
Laura berjalan ke kasir. "Berapa minuman tadi, Mbak?"
"Udah di bayar, sama Bapak itu Mbak." tunjuk pegawai kafe ke arah 2 scurity.
"Pak, sudah di bayar ya?" Laura memastikannya lagi.
"Iya Nyonya. Itu atas pinta Tuan Renggra." jawab salah satu scurity.
"Hmmm, iya sudah kalau gitu." Laura kembali melihat pegawai. "Terimakasih, Mbak."
"Iya Mbak sama-sama."
Laura melihat Merisa. "Yuk, pergi."
Merisa menganggukkan kepala, tandanya iya.
Ceklek!
"Masuklah Nyonya." ucap scurity.
"Iya Pak terimakasih." ucap Laura dan Merisa serentak.
Merisa terpukau masuk ke dalam mobil Alphard yang terbilang mahal itu. "Ra, gue kenapa seperti ikut jadi orang kaya gini. Apa gue masih mimpi ya?" ucap Merisa merasa kagum.
"Sini gue cubit elu." tawar Laura.
Awalnya Laura juga gitu, ketika tau Renggra membelikannya mobil mahal itu sebagai mahar, di bilang mimpi enggak, di bilang enggak tapi mimpi pikir Laura.
"Nah Ra." Merisa mengulurkan tangannya.
Nyit!
"Aw, sakit Ra." Merisa mengelus tangannya.
"Elu, pakai acara minta di cubit. Tau nggak mimpi." Laura merasa kesal.
"Elu jadi ginggolo di bayar berapa?" canda Merisa.
"Lu ngajak berantem ya, jelas gue di nikah sama Mas Renggra, kalau nggak percaya tanya aja sama Pak sopir." kesal Laura.
Merisa melihat Pak sopir. "Pak, emang benar ya, Laura istri Renggra Wijaya yang terkenal itu?" tanya Merisa pada Pak sopir.
"Iya Non, benar." jawab Pak supir ramah.
"Tuhkan Pak sopir aja bilang gitu." ucap Laura.
"Ah gue, masih nggak percaya sebelum melihatnya langsung." Merisa masih tidak percaya, siapa juga yang akan percaya dengan Laura yang terbilang anak panti asuhan bertemu dengan anak orang kaya, terus di nikah paksa gara-gara anak orang kaya itu mencintai Laura. Ada iya kalau di novel dan film, di dunia nyata dari seribu banding satu, jika iya Laura termasuk manusia yang beruntung pikir Merisa.
__ADS_1
Bersambung...