
Selesai shalat magrib, Laura hanya bisa duduk sana sini. Dirinya benar-benar bosan hanya melihat isi kamar. Akhirnya Laura membuka kain tipis yang menutupi jendela melihat keluar kamar.
Bola matanya terbuka lebar. "Wah... Indah banget pemandangan di luar sana. Gue bisa lihat semuanya dari sini." terkejut Laura ternyata dari kamar ini saja, dirinya biasa melihat seluruh kota pada malam hari. Lampu-lampu yang menerangi, menambah indahnya dunia malam.
Ceklek!
Dup!
Renggra masuk ke dalam kamar, melihat Laura yang fokus berdiri di dekat jendela. Tanpa sadar Renggra masuk, berjalan mendekati saat berdiri di belakang Laura, Renggra melihat ke luar kamar, keponya dengan penglihatan Laura.
Laura ingin duduk, berbalik kebelakang, tepat sekali tangannya memegang dada Renggra yang masih menggunakan pakaian kerja.
Tingginya tubuh Renggra membuat Laura sedikit melihat ke atas, wajah Renggra yang berparas sempurna, rasanya mata Laura terus menerus terberkati oleh ukiran sang maha karya. Mereka berdua sangat dekat, melihat satu sama lain. Hanya terdengar detak jantung yang berdegup dengan kencang.
Laura tersadar bahwa mereka bersentuhan, dirinya langsung mendorong Renggra untuk menjauhinya.
Renggra yang ingin jatuh, langsung menarik tangan Laura, akhirnya mereka terjatuh bersama ke lantai untuk yang kedua kalinya.
Laura menutup mata, takut dengan rasa sakit pagi tadi. Saat dirinya tidak merasakan sakit pada bagian tubuh, membuka secara perlahan, melihat dirinya sudah di atas tubuh Renggra, mereka kembali saling melihat satu sama lain dengan suara jantung yang berdetak semakin cepat.
Renggra tanpa sadar, nalurinya mendekati wajah Laura, ingin sekali menyentuh bibir yang tipis, berwarna merah jambu, terlihat manis dan kenyal.
Tok tok tok.
Ketukan pintu, membuat mereka berdua tersadar, langsungnya berdiri.
Renggra merapikan pakaiannya berjalan ke arah pintu, sedangkan Laura hanya berdiri diam di dekat jendela melihat ke arah Renggra dengan jantung yang masih bergoyang hebo di dalam sana.
"Apa yang gue lakukan tadi?" ucap batin Laura.
Ceklek!
__ADS_1
"Ada apa, Bi?" Renggra melihat Bi Siska yang mengetuk pintu.
"Maaf, Tuan. Ibu Ani meminta berkumpul untuk makan malam bersama." jelas Bi Siska.
"Hmmm, sebentar lagi kami akan turun, setelah selesai mandi. Minta Bu Ani dan Angga makan duluan kami akan menyusul." perintahnya.
"Baik, Tuan."
Bi Siska langsung pergi meninggalkan Renggra, sedangkan Renggra menutup pintu kamar, kembali melihat Laura yang masih berdiri di dekat jendela.
"Kenapa kamu masih di sana? Apalagi kamu belum mengganti pakaian. Bukannya semua keperluanmu sudah ada di ruang pakaian, atau jangan-jangan kamu menungguku untuk mandi bersama." sempatnya Renggra bercanda.
Laura mendengar, langsung berlari ke kamar mandi. "Dasar pikiran mesum," sempatnya berucap sebelum menutup pintu.
Renggra tersenyum-senyum, melihat tingkah laku Laura yang ketakutan dan menghina dirinya.
"Kapan gue terakhir sebahagia ini, dasar wanita yang menggemaskan, gue nggak akan melepaskanmu." ucap batin Renggra sambil duduk di kursi sofa memainkan handphone, menunggu antrian mandi.
Ceklek!
Perlahan keluar dari kamar mandi cepatnya berjalan ke dalam ruangan pakaian.
Renggra yang melihat Laura lewat, dirinya hanya bisa melihat cantiknya Laura saat memakai handuk.
Tanpa sadar Renggra merasakan panas yang meluap di sekujur tubuhnya, dengan menelan saliva. Penglihatannya terus terpaku ke arah Laura, sampai masuk ke dalam ruang pakaian.
Dup!
Renggra sadar saat pintu di tutup, mengedipkan mata.
"Astaghfirullah, sadar Renggra." ucap batin, dirinya berdiri langsung jalan ke kamar mandi, membersihkan pikiran mesumnya.
__ADS_1
Laura masuk, melihat ruangan seperti toko pakaian, model pakaian yang serba ada. Mulai pakaian yang terbuka sampai tertutup, melihat pakaian tidur yang panjang, dirinya mengambil dan memakainya.
Setelah selesai Laura keluar ruangan menuju kursi sofa, duduknya di sana, menunggu Renggra yang sedang mandi.
Ceklek!
Renggra keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk putih batas pinggang ke lutut.
Laura yang melihat tubuh Renggra untuk kedua kalinya merasa dirinya di beri keberkahan terus menerus.
Renggra sempat melirik Laura yang sedang memperhatikannya, ia pun langsung berhenti berjalan.
"Kenapa memperhatikan saya?" puranya tidak tau, padahal dirinya tadi sama melihat Laura seperti itu.
Laura tersadar langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "A-aku hanya tidak sengaja melihat." malunya yang di rasakan, Laura ketahuan memperhatikan Renggra.
Renggra melihat reaksi Laura yang lucu dan tersenyum. Dirinya kembali berjalan masuk ke dalam ruang pakaian.
5 menit keluar dari ruangan. "Ayo kita turun untuk makan malam bersama dengan keluarga kita. Sekalian memperkenalkanmu pada mereka." ajak Renggra.
"Enggak perlu, Pak! Saya masih kenyang, Bapak sendirian saja." tolak Laura.
"Oke! Jika kamu tidak mau, lebih baik saya memakan dirimu saja. Kebetulan sangat lapar." mendekati Laura secara perlahan.
"Berhenti!" cegah Laura. "Ba-baiklah saya turuti apa mau Bapak." takutnya pada ancaman Renggra.
Senyum Renggra mengubah jalannya ke arah pintu. "Mari kita turun." ajaknya kembali.
Laura hanya diam mengikuti. Dirinya yang tidak bisa berontak, takut dengan ancaman maut Renggra.
Bersambung...
__ADS_1