Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 39 Undangan


__ADS_3

Tok tok tok.


Tok tok tok.


Ceklek!


Renggra yang membuka pintu mendengar suara ketukan, selepas habis mandi, menggunakan handuk kimono, sedangkan Laura, masih di ruang pakaian.


"Ada apa, Ga?" Renggra melihat Angga.


Angga melihat Renggra menggunakan handuk kimono, ia berpikir bahwa telah mengganggu Renggra pagi-pagi. Angga mengulum senyum.


Renggra merasa Angga memikirkan sesuatu. "Apa yang elu lihat, bukanlah suatu yang aneh, gue baru mandi, jadi masih menggunakan ini. Lagian udah tadi di kamar mandi." bahagianya Renggra menjahili Angga.


"Maaf Reng, gue kira sedang menganggu elu. Oh ya, ada berkas yang harus elu tanda tangani dan juga ada undangan dari Nova." Angga menyerahkan undangan.


Renggra mengambil undangan ditangan Angga.


Dup!


Renggra menutup pintu, jalannya ke arah ruang kerja. "Undangan dari Nova, kemarin bertemu dengan kita di kantor dia nggak cerita apa-apa?"


Ceklek!


Angga membuka pintu, mereka berdua masuk ke dalam ruangan.


"Nova akan segera menikah Reng?" meletakkan berkas di atas meja.

__ADS_1


Renggra dan Angga duduk di kursi sofa.


Renggra membuka undangan. "Hmmm, cepat juga." senyum Renggra. "Tinggal elu yang belum." sindiran halus.


Angga melihat undangan yang di tangan Renggra. "Alhamdulillah, jodohnya Reng." meletakkan pena. "Gue belum kelihatan hilalnya." bela Angga.


Renggra menaikkan kedua alis. "Amel, gimana?" ingat dua hari yang lalu, Amel mengirim pesan bahwa dirinya benar-benar menyukai Angga.


Renggra awalnya merasa terkejut dengan sikap adiknya. Mereka kira Amel hanya main-main selama ini, taunya itu serius.


Angga tersenyum tipis. "Gue nggak cocok dengannya Reng, elukan tau sendiri, Amel itu adikmu. Gue hanyalah orang pendatang yang miskin. Amel nggak pantas dengan gue." ungkapnya merasa statusnya tidak pas untuk Amel.


Renggra tersenyum-senyum, "Elu miskin dari mananya? Gaji yang di berikan cukup banyak untuk menghidupi 7 keturunan. Apalagi elu rajin nabung untuk masa depan jika telah menikah. Itukan dulu, Ga. Sekarang berbeda, gue harap elu cepat memberi ke putusan." lihatnya dokumen. "Sebenarnya ada nggak, rasa sukamu ke Amel?" melihat lagi ke Angga.


Angga menggelengkan kepala "Nggak Reng! Amel sudah gue anggap seperti adik kandungku." yakinnya yang masih ragu-ragu.


Angga memegang kepalanya, rasa pertama kali membahas percintaan sesulit itu. Apalagi yang mencintainya adik angkat serumah dengannya.


2 hari setelah via pesan itu masuk, Angga dan Amel tidak pernah berjumpa sama sekali. Biasa duduk di tengah bersama, bertemu satu sama lain saja rasanya canggung, dan menghindar.


"Nantilah gue pikir-pikir dulu Reng, ini berkasnya elu tanda tangan dulu." fokusnya ke pekerjaan, walau hari minggu Angga tidak mau menambah banyak kerjaan di hari selanjutnya.


Renggra membaca raut wajah Angga, terlihat bimbang. "Hmmm baiklah, tapi pikirnya jangan lama-lama." mendatangani berkas, setelahnya diberikan lagi ke pada Angga.


"Hmmm, Iya Reng." mengambil berkas. "Gue ke kamar dulu."


"Hmmm,"

__ADS_1


Angga dan Renggra keluar ruangan


Ceklek!


Dup!


Renggra masuk ke dalam kamar


"Mamas, kenapa keluar masih menggunakan handuk?" herannya Laura pertama kali melihat suaminya keluar belum menggunakan pakaian.


Renggra mendekati Laura yang duduk santai di ujung ranjang. "Angga, meminta tanda tangan dan sekalian memberikan undangan dari Nova dan Merisa." Renggra juga duduk di samping Laura memberikan selembar undangan.


Laura mengambil. "Alhamdulillah ya Mas, jodohnya."


Renggra tersenyum. "Iya, Yang. Akhirnya sahabat Mamas ada yang nyusul. Oh ya Yang, yuk jalan-jalan." ajak Renggra.


"Kemana Mas?"


"Kamu maunya kemana?"


"Hmmm, belanja cemilan, udahnya duduk di Ancol."


"Hmmm, kamu mau mandi, Ay?"


"Nggak Mas, mau duduk aja. Lihat pemandangan."


"Hmmm."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2