Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 42 Hacker


__ADS_3

Angga memeriksa beberapa map berisi dokumen penting, sebelum di serahkan ke Renggra.


Ting!


Suara handphone Angga menandakan pesan masuk lewat pesan.


Angga melihat siapa yang mengirim pesan, membacanya sebentar, kemudian berdiri mendekati Renggra. "Reng, ada undangan untuk mu, secara pribadi." berdiri di hadapan Renggra.


Renggra melihat Angga dengan memegang dokumen. "Siapa?"


"Perusahaan ZAINT, klien yang memproduksi tas bermerek."


Renggra menaikkan alisnya. "Hmmm, ada urusan apa?"


Angga menaikkan sedikit bahunya. "Nggak tau Reng, hanya mengundang mu untuk makan malam."


Renggra fokus lagi melihat dokumen. "Tolak, bilang jadwal ku penuh." Renggra tidak mau berurusan dengan suatu hal yang tidak penting bagi Renggra.


Biasanya orang yang meminta bertemu secara pribadi, melakukan banyak penipuan. Setelah itu, mereka biasanya akan mencoba berontak menjatuhkan nama perusahaan. Senyum tipis Renggra, membodohinya dengan cara lama, membuatnya merasa kesal.


Setelah undangan itu di tolak, perusahaan tiba-tiba di serbu hackers. Lonjakan hacker membuat perusahaan kewalahan, banyak data-data perusahan di ambil.


Renggra dan Angga tidak pulang kerumah sibuknya mengunci data. Siang dan malam mereka lembur. Nova yang masih bulan madu pun, ikut membantu dari jarak jauh.

__ADS_1


Beberapa hari tidak berjumpa dengan Laura rasa rindu berat di jalani, entah cobaan apa yang sedang menerpa kali ini. Semoga Laura di rumah memaklumi pekerjaannya.


Sibuk mengatasi kebocoran sana sini, membuat Renggra tetap berada di depan layar komputer.


Fokus pada apa yang di lakukan hacker tersebut.


Beberapa hari setelahnya, Renggra bisa menghembuskan nafas legah, perusahaan kembali seperti biasa. Data-data terkunci dengan baik, semua aktivitas hacker tak dapat masuk lagi ke jaringan perusahaan.


Memainkan leher yang tegang, akibat terlalu banyak melihat layar laptop maupun komputer. "Reng..." pekik Angga mendekati Renggra.


Renggra masih melihat layar komputer. "Hmmm, kenapa Ga?"


Angga berdiri di hadapan Renggra. "Perusahaan itu kembali mengundangmu. Setelah gue pikir-pikir, sepertinya perusahaan itu yang melakukan ini pada kita. Saat elu tolak undangannya." Angga menjelaskan sambil memijit pelan lehernya.


"Buatlah janji besok malam. Malam ini gue mau pulang menemui Laura." Renggra tersenyum melihat Angga, menaiki alis memberi kode bahwa ia rindu pada sang istri.


Angga menghembuskan nafas kembali, merasa jomblo ini harus bersabar. "Hmmm, baiklah." duduknya kembali di kursi di tempatnya semula, tidak jauh dari Renggra.


Renggra merasa hal ini cukup mengganjal, mengapa mereka melakukan penyerangan tiba-tiba dan menghilang pun tiba-tiba.


Pikiran saat ini harus di kesampingkan. Malam ini inginnya menemui Laura, rasa rindu yang menggebu-menggebu ingin memeluknya.


Renggra pulang larut malam, langsung membersihkan tubuh. Melihat Laura tidur terlelap, memakai selimut dengan memeluk bantal guling.

__ADS_1


Renggra masuk ke dalam selimut, memeluk dari belakang, rindu itu sangat menyengat di dalam kalbu. Pekerjaan yang banyak membuat hubungan mereka seperti memberi sekat yang jauh.


Laura terbangun, merasa pelukan hangat dari Renggra, dirinya berbalik melihat Renggra. "Mamas, udah pulang?" Laura memegang wajah Renggra rindunya tak berjumpa suami beberapa hari.


Renggra tersenyum dengan mata tertutup, mengeratkan pelukan. "Hmmm, ya Yang. Maaf ya baru pulang."


Cup!


Mencium kening Laura.


Laura menepuk pelan punggung Renggra, menyender di dadanya, hembusan nafas terdengar jelas di telinga Laura. "Iya Mas, nggak papa. Asal kamu jaga kesehatan." khawatirnya takut Renggra sakit, akibat banyak pekerjaan.


"Iya, sayang." jawab Renggra semakin mengeratkan pelukan. "Hmmm, Yang, sepertinya baterai Mamas habis. Nggak di cas, beberapa hari." Renggra memberi kode.


Laura melepas pelukan, melihat Renggra. "Maksud Mamas?" puranya tak tau.


Renggra tersenyum. "Pulang ngisi baterai dulu sama istri. Capek nggak, Yang?" rayunya.


"Nggak, Mas. Kamu kali yang capek, lembur tiap hari." ucap Laura menyentuh dada Renggra dengan telunjuk.


Renggra membuka mata, tangannya memegang tangan Laura. "Shalat dulu yuk, Yang. Capek itu hilang kalau udang di cas sama istri." bisiknya nakal.


Laura tersenyum. "Iya Mas." hanya bisa mengikuti kehendak suami yang lelah bekerja butuh energi baru.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2