
Huuuf!
"Apa gue salah ya terlalu memaksa Laura? Seharusnya gue paham dengan kondisinya yang terbilang belum pernah pacaran apalagi di sentuh laki-laki." ucap batin Renggra sambil mengemudi mobil kesayangannya. "Baiklah gue coba perlahan." sambungnya lagi berucap dalam batin.
10 menit sampai, mobil berhenti di depan teras rumah.
Ceklek!
Renggra turun dari dalam mobil, masihnya diam, tanpa mengajak Laura turun.
"Gue baru tau, Mas Renggra kalau marah gitu, lucunya." ucap batin Laura.
Ceklek!
Renggra membuka pintu mobil. "Selamat datang, Tuan putri." ucap Renggra tersenyum. Laura di buat terkejut. "Loh bukannya Mamas tadi marah ya?" ucap batin Laura.
"Ayo, kenapa melamun, Yang?" ucap Renggra.
"Ah, iya Mas." Laura turun.
Dup!
Renggra menutup pintu.
"Assalamu'alaikum..." ucap serentak Renggra dan Laura masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumussalam..." jawab Amel dan Ibu Ani yang duduk santai di depan televisi.
Laura melihat Amel merasa malu, mengingat dirinya yang telah menuduh Renggra dan Amel.
__ADS_1
"Kakak ipar ternyata udah pulang." senyum Amel. "Sini Mbak, duduk." ajaknya menepuk kursi sofa.
Laura dan Renggra duduk mengikuti arahan.
"Kenapa pulang, Reng?" tanya Bu Ani, meletakkan majalah popular yang sedang naik daun.
"Aku mau nyelesain pekerjaan yang kemarin Bu, kasihan Angga nggak bisa handle. Mungkin, setelah selesai, baru bulan madu." jelas Renggra.
"Oh gitu."
Amel tersenyum-senyum, melihat Renggra yang terlihat sedikit berubah. "Gimana malam tadi seru nggak?" jahilnya.
Laura, Bu Ani, dan Renggra, terkejut dengan ucapan Amel.
"Yang, kenalkan ini Amel adikku." Renggra langsung membahas ke topik lain, dengan menunjuk Amel.
Amel berdiri membalas salaman Laura. "Saya Amel, adiknya Mamas ganteng." canda Amel agar Kakaknya itu terlihat malu.
"Emang Mamas ganteng ya?" tanya Laura ikut bercanda, dirinya yang mudah berteman itu, tau kalau Amel sama seperti dirinya yang suka jahil.
Laura dan Amel melepaskan salaman. "Kurang deh." jawab Amel, semakin menjahili Renggra.
"Apanya yang kurang?" ucap Renggra terlihat kesal.
Laura dan Amel, duduk kembali. "Kurang apa ya, Kakak ipar?" tanya Amel pada Laura.
"Kurang gula." ucap Laura berbisik, menutupi setengah wajahnya agar tidak di lihat Renggra, tapi terdengar jelas.
Ibu Ani tersenyum-senyum melihat Laura dan Amel yang sepertinya masuk kalau jadi artis.
__ADS_1
"Yang, emang Mamas kopi kurang gula?" Renggra terlihat kesal.
"Pahit berarti." sambung Amel.
Laura tersenyum-senyum. "Bercanda Mas."
Renggra berdiri "Canda kamu nggak lucu, Yang." berjalannya naik ke lantai atas, dirinya seperti sedang marah.
Laura mengulum senyum, melihat Renggra yang terlihat sedang datang bulan sensitif terus bawaannya, padahal yang datang bulankan dirinya.
"Susul gih, entar merajuk lagi. Susah kalau udah gitu." ucap Bu Ani.
"Udahlah Kakak ipar di sini aja. Biarin Mamas gitu. Lagian dirinya pasti keruang kerja." cegah Amel.
"Iya juga sih." ucap Bu Ani. "Tapi kalau kamu capek, istirahat aja di kamar, Ra." jelas Bu Ani.
"Hmmm, enggak Bu. Tadi di kantor Mas Renggra, aku udah istirahat di sana." jelas Laura.
"Loh tadi kesana dulu?" tanya Bu Ani.
"Iya Bu, ada kerjaan yang nggak bisa Pak Angga handle, kata Mas Renggra."
"Oh gitu." ucap Bu Ani.
"Eh Mbak, jangan panggil Pak. Mas Angga aja, agar lebih akrab kita." pinta Amel.
"Ah, iya Mel." jawab Laura.
Bersambung...
__ADS_1