
Ceklek!
Dup!
Renggra duduk di kursi ruang kerja, meletakkan kedua tangan di atas meja. "Kenapa Laura nggak mengenali gue ya? Apa Laura melupakan gue juga?" ucap batin Renggra yang kebingungan kenapa Laura tidak mengenalinya.
Menyender di kursi melihat ke arah langit-langit ruangan.
Huuuf!
"Sudahlah gue lihat saja nanti, apa Laura mengenali dan mengingat kembali?" ucap batinnya kembali.
Tok tok tok.
Renggra tersadar dengan lamunannya, berdiri berjalan ke arah pintu.
Ceklek!
Renggra tersenyum. "Hmmm, ada apa, Bu?" Renggra melihat ibu asuhnya bernama Ani Jahyani.
"Reng, maaf Ibu mengganggu. Tadi Bi Siska bilang, kamu bawa wanita ke kamarmu?" Bu Ani penasaran, adakah yang di bilang asisten rumah tangga tadi.
"Masuk dulu Bu, kita bicara di dalam." ajak Renggra.
"Hmmm." mengikuti Renggra masuk ke dalam ruangan, tidak lupa Bu Ani menutup pintu.
"Reng siapa wanita itu? Kenapa kamu membawanya ke sini? Apa, dia membuat kesalahan?" menyelidiki saat duduk di kursi sofa berhadapan dengan Renggra.
"Dia calon istriku Laura, Bu. Dia juga tidak melakukan kesalahan apa-apa denganku. Tapi aku hanya ingin memilikinya." Renggra tersenyum.
Ibu Ani seolah-olah tidak tau dengan Laura. Saat mendengar Renggra membawa wanita ke dalam kamarnya, dirinya langsung menyuruh orang untuk mencari informasi tentang Laura secepat mungkin, sebelum menemui Renggra.
"Apa dia setuju Reng, dengan keputusanmu? Apa kamu tidak kasihan padanya?" penasarannya jangan sampai Renggra membuat keputusan yang salah.
"Bu, aku sudah lama bertemu dengannya, tapi Laura tidak mengingatku sama sekali. Aku akan mendapatkannya dengan caraku sendiri. Aku akan tetap menikahinya apa pun jalannya." keras kepala Renggra ingin mendapatkan Laura.
"Baiklah jika itu memang yang terbaik untukmu, jangan sampai kamu melukai hati dan tubuhnya." nasehat Bu Ani yang terucap. "Sekarang kamu makan, turunlah duluan ke bawa, Ibu ingin bertemu dengan Laura dan berbicara dengannya. Minta Bi Siska bawakan makanan dan minuman ke kamarmu."
Renggra mengangguk. "Hmmm, iya Bu." berdiri dan berjalan ke arah pintu.
Ceklek!
Meninggalkan ruang kerjanya, sedangkan Ibu Ani ikut berdiri berjalan keluar ruangan dan menutup pintu, berjalan menuju kamar Laura.
__ADS_1
Tok tok tok.
Laura masih dalam lamunan memikirkan jalan keluar dari masalah yang di buatnya, secepat itu dirinya harus menikah dengan usia yang terbilang masih mudah.
Pecahnya lamunan saat pintu berbunyi, perlahan melangkahkan kaki menuju pintu kemudian membukanya.
Ceklek!
Melihat wanita paru baya yang sangat cantik terlihat modis berdiri di hadapannya.
"Boleh Ibu masuk ke dalam kamar untuk berbicara denganmu?" Bu Ani meminta persetujuan.
Laura mengangguk, Ibu Ani masuk ke dalam kamar, ia langsung duduk di kursi sofa, sedangkan Laura menutup pintu dan berdiri melihat ke arah Bu Ani.
"Duduklah di sini bersamaku, Nak." Ibu Ani menepuk kursi sofa dengan pelan, dan tersenyum manis.
Laura kembali mengangguk, mendekati Bu Ani, mengikuti perintahnya.
Bu Ani memegang tangan Laura dengan lembut.
"Kamu wanita yang sangat cantik. Namamu Laura, kan?" tanya Bu Ani ramah.
Laura mengangguk. "Hmmm, Ibu siapa ya?" penasaran.
"Laura mungkin banyak sekali pertanyaan di pikiranmu siapa saya? Siapa Renggra? Kenapa tiba-tiba menyuruhmu menikah dengannya, iyakan?"
"Kenalkan nama saya Ani jahyani, panggil saya Ibu Ani, saya Ibu asuh Renggra dari kecil. Kamu ingat tidak siapa Renggra?"
"Saya tau Bapak Renggra adalah orang yang terkenal, beliau pengusaha sukses di negara ini." hanya itu yang Laura ketahui.
"Kenapa panggil bapak sih? Panggil saja Mas Renggra. Iya sudah jika itu saja yang kamu ingat, Ibu hanya mau kasih tau, Renggra ingin menikah denganmu, karena dia tau semua tentangmu dan jangan sesekali membuat dirinya marah. Hanya kamu satu-satunya wanita yang di bawa oleh Renggra ke rumah dan tinggal di kamar ini. Siapa pun wanita yang di bawa oleh Renggra, dialah yang akan menjadi pasangannya. Jangan menolak, coba terima Renggra pelan-pelan ya Laura?" pinta Bu Ani.
Ibu Ani melepaskan tangan Laura.
Laura merasa bingung. "Aneh, apa yang membuat pak Renggra ingin sekali menikahi gue? Gue jadi penasaran? Ibu ini sepertinya orang yang baik, dia juga ingin sekali gue menikah dengan Pak Renggra." ucap batin.
Tok tok tok.
Laura mendengar ada yang mengetuk pintu lagi. "Sebentar ya Bu, aku buka pintu. Sepertinya ada yang mengetuk." meminta izin pada Bu Ani.
"Hmmm," senyum Bu Ani mengatakan iya.
Laura berdiri berjalan ke arah pintu.
__ADS_1
Ceklek!
Melihat seorang wanita paruh baya membawa banyak makanan ke arahnya.
"Permisi, Non. Saya mengantarkan makanan dan minuman yang di pinta oleh Tuan muda," senyumnya.
"Saya tidak lapar, kembalikan saja pada Pak Renggra." tolak Laura.
Ibu Ani melihat Laura dengan wajah yang tidak senang, ia pun berdiri mendekati dan memegang bahu Laura.
"Saya yang menyuruh Renggra membawakan makanan dan minuman untukmu, Laura. Sekarang sudah waktunya jam makan siang. Makanlah selagi masih hangat. Oh ya, perkenalkan ini Bi Siska asisten di rumah ini. Jika kamu butuh sesuatu panggil dia saja." jelas Bu Ani.
"Hmmm iya, Bu." mengikuti perintah Bu Ani.
Laura ingin mengambil meja yang di dorong Bi Siska.
"Jangan Non, biar Bibi aja yang membawa ini ke dalam dan mempersiapkannya." cegah Bi Siska.
Bu Ani yang melihat tingkah Laura hanya tersenyum dan memegang tangan Laura. "Nak sini! Biarkan Bi Siska aja yang membawakan makanan dan minuman masuk ke dalam kamar, sudah tugasnya mempersiapkan untukmu." menarik Laura untuk kembali duduk.
Laura hanya diam, mengikuti Bu Ani.
Bi Siska masuk mempersiapkan hidangan makanan dan minuman di dekat Laura.
"Laura kamu hanya perlu beristirahat di sini, jangan mengerjakan sesuatu yang bukan pekerjaanmu. Kamu itu akan segera menjadi nyonya besar di rumah ini, dan harus terbiasa dengan ini semua." jelas Bu Ani.
Laura hanya mengangguk, menuruti apa kata Bu Ani, walau merasa tidak nyaman dan canggung. Selama ini Laura yang melakukan tugas melayani orang lain di tempat kerja, sekarang malah dirinya yang di layani.
Laura hanya bisa tersenyum malu ke arah Bu Ani. "Mimpi apa gue tadi malam, sampai terjadi begini?" ucap batin.
Ibu Ani mengambil kue yang di letakkan di meja makan dan memberikan kepada Laura. "Makanlah, Nak. Hari sudah siang." perintah Bu Ani.
Laura mengambil. "Iya Bu, terimakasih."
"Sama-sama," Bu Ani tersenyum.
Laura mulai memasukkan makanan ke dalam mulut, lidahnya merasakan makanan itu sangat lezat.
Ibu Ani yang melihat wajah Laura dengan tersenyum, ia merasa sedikit legah.
"Iya sudah makanlah semuanya, Ibu mau ke luar ada urusan, kalau sudah selesai di meja sudut ruangan ada telepon." menunjuk meja kecil berwarna putih, di ujung ruangan. "Tekan saja nomor 003, nanti Bi Siska akan membereskannya dan kamu segera istirahat." jelas Bu Ani.
"Hmmm iya, Bu."
__ADS_1
Ibu Ani berdiri berjalan keluar bersama Bi Siska, tidak lupanya menutup pintu.
Bersambung...