
Mobil Alphard berwarna putih berhenti di depan gedung hotel yang terkenal di Jakarta.
Renggra, Nova, dan Angga, turun dari dalam mobil, sedangkan Amel dan Bu Ani sedikit telat datangnya di karenakan ada kerjaan mendadak.
Banyak pihak media masa mengambil foto mereka.
Jalan masuk ke dalam ballroom hotel, Laura melihat banyak orang-orang terkenal yang sempat hadir, mata Laura tibanya fokus pada pelaminan yang megah melihat Merisa dan Nova tersenyum-senyum menyapa para tamu.
Renggra saat datang sudah sibuk berbicara pada klien yang di undang.
Laura merasa bingung harus kemana, selain makan dan minum.
"Kakak Laura..." panggil salah satu anak panti.
"Hmmm, kalian juga datang?" tanya Laura.
"Iya dong, Kak. Eh Kakak tau nggak, Ibu sama Bapak kandung Kak Merisa datang?" bisik Tia mendekati Laura.
"Ah serius?" Laura terkejut, takut Merisa merasa sedih.
"Iya Kak, sambil nangis-nangis minta maaf." jelasnya.
"Hah serius?"
"Iya Kak serius."
"Mana orang tuanya?" kepo Laura, yang hanya pernah lihat di foto saat Merisa memberi taukan bahwa itu orang tuanya.
"Itu Kak, duduk di atas pelaminan." tunjuk Tia
"Loh mana Bu Aminah dan Pak Amin?"
"Itu duduk di dekat meja makan." tunjuk lagi Tia ke arah Bu Aminah.
"Iya udah kita kesana yuk."
"Yuk Kak."
"Sebentar!" Laura mendekati Renggra. "Mas," menyentuh sekilas tangan Renggra.
Renggra melihat Laura. "Apa, Yang?" kepalanya mendekat ke Laura. Soalnya suara musik terdengar jelas.
"Aku temuin Bu Aminah dulu, Ya Mas?" tunjuk Laura ke arah Bu Aminah.
"Hmmm, iya Yang. Entar Mamas ke sana."
"Iya Mas." Laura tersenyum pada klien di hadapan Renggra, kemudian pergi.
"Itu istri anda ya Pak Renggra?" tanya Pak Budiono.
__ADS_1
"Oh iya itu istri saya." bahagianya Renggra mengenali istrinya pada semua orang.
"Semoga anda dan istri cepat di berikan keturunan yang shaleh dan shalihah." doa Pak Lukman, ikut nyambung.
"Aamiin." Renggra mengaminkan.
Sedangkan Laura duduk di samping Bu Aminah. "Ibu makan terus?" canda Laura memecahkan fokus Bu Aminah makan daging rendang.
"Hmmm, kapan datangnya, Nak?" ucap Bu Aminah saat melihat Laura tau-tau sudah berada di dekatnya.
"Sekitar 15 menit yang lalu Bu, hanya saja lama berdiri di belakang, temani Mas Renggra ngerumpi." canda Laura.
"Mereka ngerumpi menghasilkan uang, lah kamu kalau ngerumpi nyusahin Ibu." canda Bu Aminah.
"Hmmm, Ibu kok gitu?" pura Laura merajuk.
"Bercanda, Nak. Oh iya, gimana kamu sama Renggra, sudah ada kemajuan belum? Ibu nggak sempat tanya sama kamu kemarin, gara-gara sibuk ngurusin lomba anak-anak panti untuk di kirim ke lomba tahfiz Al-Qur'an ke Ciganjur." ingin taunya Bu Aminah dengan kondisi Laura.
Laura tersenyum. "Belum ada kemajuan Bu, mundur terus." canda Laura.
"Ah, serius Nak?"
"Hmmm, serius Bu?"
"Jadi, kamu mau ingin apa selanjutnya?" takut Bu Aminah Laura salah ambil tindakan dalam rumah tangganya.
"Menurut Ibu?" Laura ingin mendengar pendapat Bu Aminah.
Laura tersenyum. "Belum, Bu. Gimana?" puranya sedih.
"Coba kamu buka hati mu untuknya, Renggra tuh apa yang kurang darinya, sampai-sampai kamu belum juga membuka hati mu untuknya?" Bu Aminah merasa cemas.
"Menurut Ibu Mas Renggra itu, juga mencintai aku?"
"Kata siapa Yang, Mamas nggak cinta sama kamu?" ucap Renggra di telinga Luara.
"Ah Mamas," terkejutnya Laura saat melihat Renggra mendengar ucapannya yang bercandai Bu Aminah.
"Tuhkan dengar Ra, Renggra aja mencintaimu." sambung Bu Aminah.
"Kamu masih meragukan Mamas, Yang?" tanya Renggra serius.
"Aku hanya bercanda Mas," Laura tersenyum-senyum, rasanya Renggra akan marah dalam penglihatan Laura.
"Candamu membuat ku ragu." Renggra menjahili Laura.
"Ragu apa, Mas?"
"Ragu bahwa kamu belum mencintai Mamas." jelas Renggra sambil mendekati telinga Laura. "Awas aja Mamas hukum kamu, Yang. Sampai nggak bisa keluar kamar lagi." serunya Renggra bercandai Laura.
__ADS_1
Laura terkejut dengan ancaman Renggra. "Mamas mesum." bisik Laura di telinga Renggra.
Bu Aminah yang melihat, merasakan bahwa Laura telah menerima Renggra seutuhnya. "Semoga Laura bahagia." doa Bu Aminah yang tau selama ini Laura bersedih, atas identitas yang tidak di ketahui. Orang tua yang tega membuangnya begitu saja, tanpa berpikir panjang. Seharusnya mereka bangga punya seorang anak seperti Laura, dimana terbilang sempurna bagi Bu Aminah yang menilainya.
"Yuk Yang kita ke atas, Angga sudah menunggu di sana." tunjuk Renggra pada posisi Angga yang tak jauh dari pelaminan.
"Hmmm iya Mas." Laura melihat Bu Aminah. "Aku saliman dulu ya Bu, sama Merisa."
"Iya, Nak."
Laura dan Renggra berdiri, berjalan ke arah Angga. "Yuk Ga, kita salaman." ajak Renggra.
"Hmmm,"
Mereka bertiga naik ke atas. "Selamat ya Mer, atas pernikahan mu." ucap Laura sambil memeluk Merisa.
"Hmmm iya Ra." melepaskan pelukan. "Terimakasih berkat elu, gue berkesempatan menemui Mas Nova."
"Jodoh elu aja yang udah datang." jelas Laura. "Doa gue, semoga keluarga mu selalu di beri keberkahan, ke bahagia dunia maupun akhirat." ucap Laura tersenyum, semoga Nova benar-benar mencintai Merisa, pikir Laura yang masih mengkhawatirkan sahabat baiknya itu.
"Aamiin ya robbal alamin. Semoga elu dan Oppa ku juga sama seperti doa yang elu ucapkan."
"Iya Mer, aamiin."
Renggra tersenyum-senyum. "Diam-diam nganter undangan," sindirnya ke Nova yang tidak cerita. "Selamat atas pernikahan elu." peluk dan tepuk pelan pundak Nova.
Senyum Nova merasa malu tidak terbuka pada Angga dan Renggra, memang itulah yang dirinya inginkan. "Gue nggak mau, nanti nggak jadi. Sudah heboh-heboh cerita ujung-ujungnya bukan jodoh. Seperti yang sudah-sudah. Diam-diam ngantar undangan enakkan. Kalian datang tinggal makan." canda Nova melepaskan pelukan dan salaman, setelahnya melihat ke Angga. "Cepat nyusul, Ga. Ingat umur elu lebih tua dari gue dan Renggra." peringatan Nova yang jelas adanya.
Angga hanya diam tersenyum-senyum, tidak dapat berkata apa-apa. Saat dirinya di sindir kapan menikah? "Selamat ya, Nov. Semoga langgeng terus sampai maut memisahkan." hanya itu ucapan Angga ke Nova, tanpa membahas dirinya kapan menikah. Urusan dengan Amel saja belum ada titik terang pikir Angga, dirinya juga merasa sedih di tinggal nikah, oleh ke-dua sahabatnya itu.
"Di kasih jodoh, nggak mau." sindir Renggra pada Angga.
"Siapa?" tanya Nova penasaran, kenapa dirinya tidak tau.
Renggra tersenyum. "Nanti kita bahas di lain waktu, aja. Soalnya masih ada yang bimbang." jelas Renggra yang didengar Laura.
"Jangan bilang, Amel sudah mengungkapkan perasaannya pada Mas Angga. Wajar juga sih beberapa hari ini gue nggak lihat Mas Angga dan Amel berbicara seperti biasanya. Ini terlihat seperti sedang bermusuhan." ucap batin Laura yang penasaran gimana cerita selanjutnya.
"Kami semua pulang dulu ya, Nov." ucap Renggra. "Harap maklum gue banyak kerjaan." sambungnya lagi.
"Oke Reng! Terimakasih sudah datang. Maaf gue langsung cuti."
"Hmmm, nggak apa-apa."
"Aku pulang dulu ya Mer, ikut Mas Renggra pulang." ucap Laura pada Merisa.
"Iya Ra, hati-hati di jalan."
"Iya Mer."
__ADS_1
Bersambung...