
Ting!
Handphone Angga berbunyi dentingan, menandakan pesan masuk.
Angga mengambil handphone yang terletak di saku celananya.
Melihat pesan masuk.
Seseorang memberikan lokasi keberadaan Laura.
Dengan cepat Angga menghampiri Renggra yang masih mencari-cari Laura di dekat balkon.
"Reng, coba elu lihat." ucap Angga menyerahkan handphonenya ke Renggra.
Mata Renggra membulat, melihat pesan yang membuatnya marah.
"Jika kalian ingin berpamitan dengan kekasihku, datanglah segera. By : Aditya Mahesa." dirinya juga memberikan lokasi agar Renggra dan Angga bisa menemukan tempat keberadaannya.
"Sudah gue duga ini pasti perbuatan lelaki itu." ucap Renggra menyerahkan handphone Angga. "Kita berangkat sekarang."
Angga mengambil. "Iya, Reng."
Ting ting ting.
Handphone Nova berdering. "Halo, Assalamualaikum?" Nova menjawab telepon dari Renggra.
Suara Renggra yang syahdu, di seberang telepon. "Waalaikumussalam, gimana keadaan Merisa, Nov?"
Nova menghembus nafas legah. "Merisa alhamdulillah baik-baik aja, Reng. Kata dokter, hanya di beri obat tidur. Sekarang ia lagi istirahat dulu di sini. Gimana dengan Laura, sudah ketemu belum?"
Helayan nafas Renggra terdengar. "Kami di beri alamat pada Aditya, untuk menemuinya di sana."
Nova merasa khawatir. "Baiklah gue ke sana kirim alamatnya, nanti Merisa gue titipkan dengan tim medis di sini. Gue nggak mau kalian kenapa-napa, kita hadapi bersama." erat hubungan persahabatan mereka membuat ikatan itu tidak mau jika orang yang di sayang terluka.
"Iya, Nov." jawab Renggra segera mematikan telefon, mengirim alamat pada Nova.
Nova berdiri menghampiri ruang keperawatan. "Saya titip istri saya sebentar. Ada keperluan mendadak." ucap Nova pada salah satu perawat yang menjaga.
"Baik, Pak."
__ADS_1
Nova langsung pergi ke tempat alamat yang di berikan oleh Angga, sesampai di sana polisi sudah berkeliling di tempat itu.
Suasana sepi dengan jalanan di penuhi lumut. Tempat itu dulunya di jadikan produksi minyak mentah, sekarang hanya bekas gedung tua yang tidak terawat.
Renggra, Angga, dan Nova masuk ke dalam dengan hati-hati, tibanya di kepung oleh orang yang memegang senjata api.
Berada di situasi yang sulit, mereka bertiga setengah duduk di lantai yang kotor, menyerahkan diri sebelum memulai pertandingan gulat.
Berhadapan dengan seorang laki-laki yang sedang duduk di kursi dan satu orang lagi berdiri di sampingnya tak jauh dari mereka.
Lampu dihidupkan.
Renggra, Nova, dan Angga melihat wajah Pak Septo dan Aditya.
Senyum sinis terpancar dari raut wajah Pak Septo. "Wah-wah selamat datang keponakanku, sudah lama kita tidak bertemu." kerutan kening tampak jelas di wajahnya. "Dulu kau bisa menatapku dengan sinis, sekarang hanya manusia yang tak berdaya di hadapanku hahahaha..." tawa puas di terlontar dari mulut Pak Septo.
Rasa emosi yang meluap di ubun-ubun kepala, membuat Renggra harus mengatur nafas. Beristighfar dalam hati, agar tidak terpancing amarah yang membuatnya terpengaruh buruk syaitan. "Apa mau kalian? Setelah itu kembalikan Laura padaku?" gemuru di dada rasa ingin menghajar Pak Septo dan Aditya.
Aditya membawa Laura yang masih belum sadarkan diri, sedang tertidur di atas ranjang. "Kau mau dia, sudah ku bilang ini milikku bukan milikmu." sombongnya.
Mata Renggra membulat, melihat Laura tidur terlelap di kelilingi laki-laki. "Beraninya kau." ingin berdiri, namun senjata mengarah ke mereka bertiga.
"Sabar Reng, kita ikuti dulu apa maunya." ucap Angga pelan, tapi terdengar jelas. Maksud Angga, agar Renggra tidak mengambil keputusan yang berakibat fatal dalam kondisi yang mencengkram.
Beberapa menit Renggra hanya diam, mengikuti arahan Angga.
"Reng." sambung Pak Septo. "Apa kamu tidak senang saat melihat istrimu disini?" melihat sebentar ke arah Laura. "Dia tidak begitu cantik, tapi menjadi rebutan antara kamu dan anakku Aditya."
Renggra tak tau, jika Aditya adalah anak kandung Pak Septo. Renyitnya kening, merasa terkejut terjebak dalam permainan ikatan sedarah.
"Haha... Haha..." tawa Pak Septo melihat reaksi wajah Renggra. "Dulu ayahmu juga mengambil semua hartaku dan juga wanitaku. Sekarang, aku ingin kau melihat bagaimana keluargamu jatuh miskin dan istrimu akan hilang." jelasnya membuat Renggra terkejut.
Mata Renggra membulat, dirinya belum mengerti maksud dari ucapan Pak Septo. "Apa maksud paman?"
Pak Septo menaikan kedua alis. "Kau sampai sekarang belum tau ya, kejadian masa lalu saat aku, ibu, dan ayahmu bersama?"
Renggra hanya diam.
Pak Septo menghembusnya nafas.
__ADS_1
"Huuuf!" dengan wajah tersenyum. "Apa bibikmu Ani juga diam saja?" memainkan pelipisnya yang terasa bingung.
Renggra hanya diam, mendengar ucapan Pak Septo selalu memberikan tanda tanya.
"Hah, Renggra-Renggra. Hidupmu itu sangat malang sekali ya, di kelilingi oleh orang yang peduli padamu dan tidak mau kau terluka. Sayang sekali, hal yang mereka simpan itu ternyata petaka bagi dirimu."
"Cepat katakan saja, apa maksud paman?" ucap Renggra ingin mendengar penjelasan Pak Septo secepat mungkin, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kedua orang tuanya juga di sangkut pautkan?
Pak Septo berdiri. "Baiklah jika kau ingin tau sekali, masa lalu kami." berjalan perlahan mendekati Renggra.
"Saat itu aku dan ayahmu adalah saudara tiri, kami berdua beda ibu tapi satu ayah. Ayahmu itu orang yang selalu berada dalam keberuntungan di kehidupanya, sehingga kakekmu selalu memperhatikan ayahmu dari pada aku. Ibu kami berdua sama-sama meninggal saat usia kami masih kecil, kematian mereka berdua akibat kecelakaan lalu lintas.
Setelah besar aku dan ayahmu menemukan wanita yang cantik, tapi sayang ia di jodohkan kakekmu dengan ayahmu. Di sanalah aku benar-benar sangat marah, betapa menyedihkan diri ini, saat orang-orang yang ku sayangi selalu memihak pada ayahmu saja.
Kakekmu sakit keras ia memberikan kami berdua saham, pertama itu ayahmu dan kedua itu aku dengan alasan ayahmu mendapatkan banyak saham di karenakan sudah menikah dengan ibumu dan sudah memiliki seorang anak yaitu kau dan Amel.
Aku merasa benar-benar menjadi orang yang menderita saat itu, makanya aku berambisi untuk merebut ibumu dari tangan ayahmu.
Aku membuat perusahaan dalam masa kritis dan menguasai perusahaan orang lain agar Ibumu beralih kepadaku, tapi sayang ternyata ia bertahan dengan ayahmu yang hampir bangkrut dan sakit-sakitan karena penyakit itu aku yang membuatnya.
Saat itu kondisi ayahmu dalam keadaan sakit parah ia membutuhkan uang untuk operasi dan menyelamatkan perusahaan, akhirnya ibumu menemuiku dan meminta bantuan.
Ibumu menyetujui syarat yang ku berikan yaitu ibumu harus menikah denganku, tapi saat semua bantuan yang ku berikan padanya dan sudah ku bawa dia pergi. Ibumu memainkan setir mobil yang ku bawa yang mengakibatkan kami berdua kecelakaan.
Ibumu meninggal di tempat, sedangkan aku di larikan kerumah sakit menjalani berbagai pemeriksaan.
Di sanalah aku tau bahwa aku bukan orang beruntung dalam kehidupanku, merasakan kehilangan orang yang kucintai dan semua harta bendaku yang ku berikan pada ayahmu.
Saat itulah aku berjanji akan mengambil semua yang kau miliki Renggra harta, kekuasaan dan semuanya. Sekarang semua itu akan terwujudkan." jelas Pak Septo yang ambisinya sebentar lagi akan tercapai.
Renyit kening Aditya. "Pa, jadi aku ini anak siapa?" tanyanya penasaran siapa dirinya bagi Pak Septo.
Pak Septo melihat Aditya. "Kau itu anak haramku dari wanita yang aku paksa menikah, untuk melampiaskan amarahku. Kau ku jadikan alat untuk memulai permainan ini." tunjuknya dengan sinis.
Aditya menghembusnya nafas panjang, menjilati kedua bibirnya. "Pa, kamu sangat kejam. Sudah lama ku ingin tau cerita ini darimu?" perasaan yang tertimbun itu akhirnya meluap. "Aku menemukan sebuah dokumen rahasia di ruang kerjamu, Pa?"
Aditya dari kecil sudah di didik oleh Pak Septo untuk melakukan hal yang tidak sesuai dengan usianya saat itu.
Menjadikan seseorang yang selalu berambisi dengan segala sesuatu. Tapi di dalam lubuk hatinya, Aditya tidak suka dengan hal yang di ajarkan oleh Pak Septo.
__ADS_1
Aditya ingin hidup layaknya seperti orang biasa, menjalani apa yang sudah di takdirkan.
Bersambung...