
9 bulan terlewati
Menjaga dengan ketat, Renggra dan Laura tinggal menunggu hari persalinan.
Rasa bersalahnya waktu itu, membuat Renggra hampir 24 jam bekerja dari rumah.
Di kantor Angga yang menghandle.
Tidak terasa hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan. Perut yang semakin membesar membuat Laura sulit untuk berjalan.
Menunggu datangnya gelombang cinta, Laura setiap hari jalan pagi dengan Renggra.
Bu Ani dan Amel yang duduk di taman, melihat Laura susanya berjalan merasa kasihan. Tiba Angga datang duduk dengan Amel dan Bu Ani. Senyumnya melihat ke-dua pasutri itu bergandengan tangan, berjalan di terik mentari pagi. "Bu, kalau aku juga seperti mereka lucu kali ya?" pancing Angga yang telah menetapkan hati untuk serius dengan Amel.
Setelah menjalani seperti biasa, Angga bukannya menganggap Amel sebagai adiknya. Malahan semakin cinta itu tumbuh. Sedangkan Amel mulai menghilangkan perasaan pada Angga.
Curiga Bu Ani melihat Amel. "Ekhem! Emang, kamu udah punya calon, Ga?" mata Bu Ani melihat Angga.
Angga tersenyum masih melihat Renggra dan Laura. "Hmmm, sudah, Bu." jawabnya lantang.
Amel hanya diam, entah kenapa hatinya merasa sakit mendengar Angga sudah mempunyai calon istri. Apa benar rasa itu masih tersimpan rapi? Pikir Amel.
Bu Ani terkejut sambil memegang lengan Angga. "Siapa, Ga?" sekilas dirinya melihat Amel yang berwajah datar. Bu Ani merasa kurang nyaman berbicara di depan Amel.
Amel tidak menghiraukan pembicaraan Bu Ani dan Angga. Alihnya fokus melihat Renggra yang menggandeng tangan Laura. "Semoga saja, aku seperti mereka nantinya." ucap batin Amel dengan tersenyum.
Angga mulai ragu dan malu ingin menjawab pertanyaan Bu Ani. Jantungnya memompa begitu cepat.
"Huuuf!" Angga mencoba merilekskan pikirannya. "Tuh, di samping, Ibu." melihat ke arah lain, dirinya tidak sanggup melihat reaksi Amel.
Mata Bu Ani membulat, melihat Amel yang biasa-biasa saja fokus ke arah lain. "Mel..." panggilnya pelan.
Amel masih diam melihat Renggra dan Laura.
Bu Ani memegang bahu Amel. "Mel..." memanggil kembali.
Amel terkejut. "Hmmm! Apa, Bu?" dirinya baru sadar.
Angga langsung melihat Amel dengan reaksi yang biasa-biasa saja.
"Kamu nggak dengar, Angga bilang apa tadi?" ucap Bu Ani merasa bingung.
Amel menggelengkan kepala. "Enggak! Emang Mas Angga bilang apa?" dengan santai Amel melihat Angga. Dirinya masih bingung dengan raut wajah Angga dan Bu Ani yang terlihat aneh bagi Amel.
__ADS_1
Angga memegang kening, memijitnya perlahan. Rasa jantung ingin lepas. Tapi Amel tidak mendengar.
"Huuuuf!" Angga membuang nafas panjang.
Amel melihat Angga dan Bu Ani hanya diam saja. "Iya, maaf. Aku nggak dengar tadi. Habisnya fokus sama Mas Renggra dan Mbak Laura." jawab Amel apa adanya.
Bu Ani menyipitkan mata melirik kedua sejoli itu merasa geram. "Angga mau ngelamar kamu, Mel." ucap Bu Ani langsung tanpa basa-basi lagi.
Amel mengedipkan mata, mendengar perkataan Bu Ani. "Angga yang mana, Bu?" pikirnya Angga lain. Nggak mungkin Angga yang berada di dekatnya itu. Sudah jelaskan dirinya di tolak. Lagian rasa itu sedikit menghilang.
"Angga di rumah kita ada berapa?" tanya Bu Ani.
Amel terdiam sebentar. "Teman Amel ada kok, Bu. Bernama Angga. Tuh, tukang kebun kita juga ada namanya Angga hanya saja di panggil, Egga." jelas Amel apa adanya.
Angga semakin pusing di buat Amel, yang pikirnya Amel hanya bermain-main saja selama ini. Atau dirinya pura-pura tidak tau.
"Angga yang di samping, kamu." jawab Bu Ani lantang.
Amel berpikir, mungkin Angga dan Bu Ani sedang bercanda.
"Mas Angga mau melamar aku?" tanyanya santai.
Angga terdiam di tanyain, Amel. Jantungnya kembali menggila di dalam sana.
Jelas Angga merasa Amel membuat jantungnya semakin menggila.
"Ga, kamu serius atau main-main?" Bu Ani merasa bingung melihat Angga yang tiba-tiba diam.
"Dah, Bu. Mas Angga di percaya." ucap Amel terus terang. "Lagian ya, Bu. Mas Angga tuh impoten. Bakal jadi sigle selamanya." Amel merasa kesal.
Angga yang mendengar Amel berucap selalu mengatainya impoten, merasa panas. "Sekali lagi kamu bilang aku impoten. Aku nikahi sekarang juga kamu." ucap Angga lantang.
Amel terkejut dengan ucapan Angga. "I.M.P.O.T.E.N." Amel malah menantang Angga dengan mengeja huruf.
Angga semakin panas terpancing ucapan Amel.
"Bu, ke KUA sekarang." ucap Angga lantang.
"Ayo..." tantang Amel merasa Angga mempermainkan dirinya.
"Duh kalian berdua jangan buat Ibu pusing. Mau nikah itu baik-baik, bukan begini." jelas Bu Ani melihat Amel dan Angga bertingkah layaknya anak yang baru pubertas.
"Aku serius, Bu. Biar dia tau Angga itu nggak impoten." jelas Angga menunjuk Amel.
__ADS_1
"Jadi Mas Angga, mau buktiin ke Amel setelah menikah. Kenapa nggak sekarang aja?" Amel malah menjahili Angga.
"Gila kamu ya, Mel? Mau kamu berhubungan zina." Angga semakin panas.
"Duh, kenapa kalian berantem sih?" Ibu Ani merasa pusing.
"Ada apa, Bu?" Renggra dan Laura ternyata sudah di dekat Bu Ani, Angga dan Amel.
"Mas Angga ngajak aku berzina, Mas." Amel memutar ucapan Angga.
"Fitnah kamu." teriak Angga terlihat semakin kesal.
"Astaghfirullah. Pusing Ibu." ucap Bu Ani memegangi kepalanya.
"Tenang-tenang!" Renggra berusaha menengahi Amel dan Angga. "Ceritakan dengan kepala dingin."
"Reng, gue kesel sama Amel. Serius? Dia bilang gue impoten. Gue ngajak dia nikah biar tau gue nggak impoten. Malah dia ngajak sekarang sebelum nikah. Dan bilang sama elu, gue yang ngajak zina. Amel memfitnah gue, Reng." bela Angga.
"Emang iyakan? Mamas tuh nggak cinta sama aku, jadinya nyindir Amel." ucap Amel merasa kesal. "Makanya Amel bilang, Mas Angga itu impoten. Lagian ya, kalau Mas Angga itu cinta, dari awal Mas Angga nikahi aku." keluar semua yang di pikirkan Amel pada Angga.
"Tapi itu dulu, Mel." jawab Angga terus terang.
"Oh, jadi sekarang Mamas mau bilang, Mamas itu terpaksa." tuduh Amel.
"Enggak, Mel." bantah Angga.
"Terserah Mamas aja aku nggak mau dengar lagi. Hati aku udah tertutup. Percuma mengharapkan Mamas yang impoten." jelas Amel.
"Reng, gue kesal. Boleh izin." ucap Angga.
"Nggak!" teriak Renggra dan Bu Ani yang membaca pikiran mesum Angga.
"Aku balik ke kamar. Hati aku panas di sini." Amel langsung meninggalkan Angga, Laura, Bu Ani, dan Renggra masuk ke dalam rumah.
"Awas Lu macam-macam, Ga!" Renggra mengingati.
"Ah sudahlah, pusing gue." Angga ikut masuk ke dalam rumah.
"Ampun gusti." ucap Bu Ani memegang kepalanya merasa pusing melihat pertengkaran Amel dan Angga.
Laura hanya diam, sambil memegang perutnya. Bingungnya mau ikut campur, takut salah.
Bersambung...
__ADS_1