Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 63 Gejolak di rasa


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, mata Renggra perlahan terbuka, merasakan tubuhnya begitu lemas. Manik mata melihat lingkungan sekitar. Ingat ruangan itu, tempat dirinya pernah di rawat kurang lebih dua minggu.


Memaksakan untuk bangun dan duduk di ranjang yang terlihat kain tebal berwarna biru muda menutupi kedua kakinya.


Terlintas bayangan kejadian yang terlihat jelas dalam ingatan Renggra. Air mata mulai mengalir tanpa izin di wajah mulus miliknya. Sesekali mengedipkan mata yang masih lesu, bibir bergetar, tak kuasa menahan gejolak di rasa. Mengeratkan pegangan pada selimut, nafas kian memburu. Jiwa Renggra kembali tersakiti, harus kehilangan orang yang di sayangnya lagi.


Ceklek!


Pintu terbuka.


Amel, Angga, Bu Ani yang membawa baby Yusuf, dan Nova. Secara bersama masuk ke dalam ruangan.


Mereka semua melihat Renggra ternyata sudah sadarkan diri.


Amel berjalan mendekat, merasa senang Kakaknya telah sadar. "Mas, gimana keadaanmu?" duduk di kursi kecil dekat Renggra, melihat air mata Renggra telah mengalir semakin deras.


Amel langsung memeluk Renggra, tak di pungkiri Amel juga ikut merasakan apa yang di rasakan Renggra, dirinya juga ikut menangis. "Sabar ya, Mas." mengelus punggung Renggra.


"Mel, semuanya sudah selesai." ucap Renggra pelan penuh dengan sesak di dada.


Ibu Ani mendekati Renggra dan Amel. Dirinya memegang bahu Renggra, sedangkan Amel melepaskan pelukannya. "Reng kamu harus sabar ya, Nak." menepuk pelan bahu Renggra, tibanya menyerahkan Yusuf yang tertidur pulas. "Kamu masih mempunyai anakmu dan kami semua." berusaha tersenyum walau di hati merasa perih.

__ADS_1


Renggra mengendong Yusuf hiks hiks hiks. Tangisnya kian pecah, melihat wajah Yusuf hampir menyerupai wajah Laura.


"Sabar, Reng." ucap Bu Ani ikut menangis.


"Bagaimana aku bisa menjalankan hidup ini, Bu?" ucap Renggra memeluk Yusuf.


"Semuanya telah terjadi, Reng. Kamu harus sabar." ucap Bu Ani berusaha menenangkan Renggra.


Suasana di ruangan itu penuh dengan duka, satu persatu ikut menangis.


"Kami menemukan mayat perempuan, Reng. Mungkin itu Laura." ucap Nova.


"Jika elu, nggak sanggup melihatnya. Kami akan segera menguburnya sekarang juga." ucap Angga perlahan meminta izin Renggra.


"Sabar, Reng." ucap Bu Ani yang terus menyadarkan Renggra.


"Bagaimana keputusanmu, Reng?" tanya Angga kembali.


"Sore kita makamkan Laura." ucap Renggra merasa itu harus di lakukan.


"Elu kuat?" Nova memastikan, takut Renggra tidak sadar kembali.

__ADS_1


Air mata Renggra terus mengalir. "Kuat nggak kuat, harus gue jalani, Nov." berat hatinya untuk berucap demikian. Namun, harus dirinya lakukan. "Bagaimana dengan laki-laki bernama Aditya dan paman?" Renggra masihnya ingin tau.


"Mereka semua telah di kebumikan kemarin." jelas Angga.


"Mereka juga mati?" tanya Renggra yang memastikan lagi.


"Hmmm!" Nova menganggukan kepala. "Di tempat itu, tidak ada yang tersisa. Hanya kita bertiga dan pihak polisi yang selamat."


"Hiks hiks hiks." Renggra kembali menangis mendengar penjelasan Nova.


"Sekarang semuanya sudah terjadi, Reng. Kamu harus sabar dan kuat, demi Yusuf." ucap Bu Ani.


"Kita jalani sama-sama, Mas." ucap Amel mengelus bahu Renggra.


Renggra melihat Yusuf. "Maafkan Ayah, Nak!" tariknya nafas. "Tidak bisa melindungi bundamu."


"Ini juga salah Ibu, tidak menjelaskan dari awal." Bu Ani merasa bersalah, menyimpan masa lalu mereka. Padahal semua itu Renggra harus tau. Tapi di sisi lain Bu Ani tidak mau Renggra mengingat traumanya lagi.


"Ibu nggak salah. Salah paman yang selalu tidak mensyukuri apa yang di beri. Dirinya juga iri pada setiap kesuksesan orang lain." jelas Renggra memahami perilaku Bu Ani.


"Hmmm!" Bu Ani tidak bisa berkata apa-apa lagi, saat Renggra memahaminya. Rasa bersalah itu tidaklah mudah untuk di hilangkan bagi Bu Ani. Apalagi perbuatannya membuat Laura meregang nyawa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2