Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch -27 Merajuk


__ADS_3

"Mamas nggak pakai pakaian kantor?" Laura melihat Renggra berpakaian santai, seperti dirinya mau jalan-jalan bukan kerja.


"Hmmm, pakaian Mamas ada di sana, Yang. Nanti di ganti aja."


"Mas nggak apa-apa, aku ikut?" Laura terlihat khawatir.


"Nggak apa-apa, Sayang. Datang hanya meriksa dokumen dan tanda tangan aja."


"Nanti di marah Mas?"


"Hahaha..." tawa Renggra merasa lucu dengan pertanyaan Laura.


"Mamas kenapa ketawa?" Laura merasa bingung lucunya di mana?


"Coba Mamas tanya. Perusahaan itu milik siapa?" Renggra kembali ke mode serius.


"Hmmm, punya Mamas." Laura baru sadar. "Iya-iya kenapa gue jadi bodoh gini setelah menikah dengan Mas Renggra?" ucap batin.


"Nah kalau punya Mamas?"


"Iya siapa tau ajakan dari pihak manajemen yang nggak suka melihat kehadiran aku di kantor Mamas." Laura mencari alasan menutupi kesalahannya.


Renggra duduk di kursi sofa, di ikuti Laura.


"Nggak ada, Yang. Percaya sama Mamas. Jika ada, siap-siap di kubur hidup-hidup." Renggra mulai bercanda.


"Kasihan Mas di kubur hidup-hidup." canda Laura agar Renggra tidak berbuat demikian.


"Mamas bercanda, Yang." senyumnya.


"Syukurlah kirain benaran." Laura tersenyum. "Oh iya Mas, aku mau tanya, handphoneku kemarinkan rusak. Nomor telepon, foto dan berkas lainnya, kemana Mas?" ingat Laura yang ingin menghubungi sahabat dan Bu Aminah.


"Semuanya udah Mamas masukin di handphone baru kamu?" jelasnya.


"Iya apa Mas, soalnya aku belum membuka nih handphone. Bingung, gimana cara mainnya." ucap Laura jujur, mengeluarkan handphonenya di dalam tas.


"Sini Mamas ajarin." Renggra langsung mengambil handphone di tangan Laura, dirinya tidak mau Laura sampai bingung ingin menghubunginya saat memerlukan sesuatu.


Renggra mulai menjelaskan cara menelpon, melihat foto, mulainya chat, dan lain-lainnya.


"Oh, ngerti aku, Mas."


Renggra menyerahkan handphone Laura kembali. "Nih."


Laura mengambil.


"Yuk berangkat, sekalian kita pulang kerumah."


"Hmmm, iya Mas. Eh tunggu pakaian kotor gimana belum di cuci?" ingat Laura belum mencuci pakaian semalam.


"Bawa aja, cuci di rumah." perintah Renggra.


"Ah iya sebentar aku ambil dulu, Mamas tunggu di sini." Laura langsung pergi ke dalam kamar mengambil pakaian dan alat lainnya. "Yuk, Mas."


"Sini, Mamas yang bawa." mengambil bawaan Laura.


Ceklek!


Dup!


Renggra memasukkan bawaan di kursi belakang. Setelahnya memasang sabuk pengaman.


"Udah, Yang."

__ADS_1


"Hmmm, udah Mas." jawab Laura telah memasang sabuk pengaman.


Mobil perlahan berjalan meninggalkan villa.


30 menit sampai di perusahaan.


Laura merasa aneh di sambut orang berpakaian berjas tersusun rapi di depan bangunan besar dan tinggi.


Angga pun terlihat berdiri di sana.


Laura masih terdiam, belum berani keluar.


"Ayo Yang, keluar." ajak Renggra.


"Ah iya Mas."


Laura dan Renggra keluar dari dalam mobil.


"Maaf Reng. Gue ganggu cuti elu." ucap Angga kurang nyaman.


"Nggak apa-apa santai aja, lagian hari ini aku udah pulang."


"Kenapa pulang?"


"Gue mau nyelesain pekerjaan di Amerika kemarin, selesai itu baru sambung cuti." jelas Renggra.


"Hmmm, iya Reng."


Renggra memegang tangan Laura. "Ayuk, Yang."


"Hmmm, iya Mas." Laura terlihat malu pertama kali mengikuti Renggra ke kantornya.


Angga yang melihat kemesraan pengantin baru itu, merasa bersalah gara-gara ulahnya yang tidak bisa menghandle semua pekerjaan Renggra.


Sampainya di depan lift, Angga menekan huruf 105.


Ting!


Mereka bertiga masuk ke dalam lift, pintu tertutup. Angga merasa dirinya bagaikan obat nyamuk berada satu ruangan bersama Renggra dan Laura.


Ting!


Mereka keluar dari dalam lift,


Ceklek!


Angga membuka pintu, mereka masuk ke dalam ruangan.


"Tunggu sebentar, Ga."


"Hmmm, iya Reng."


Renggra melihat Laura. "Ayo, Yang." menarik keruang pribadi.


Ceklek!


Dup!


Laura dan Renggra masuk.


"Kamu istirahat aja di sini Mamas selesai perkerjaan dulu." Renggra menunjuk tempat tidur.


"Iya Mas." hanya itu yang Laura katakan sejak tadi, mengikuti arahan dari Renggra, dirinya juga duduk di atas ranjang.

__ADS_1


Renggra melepaskan pakaian di hadapan Laura.


"Mamas mau apa?" terkejut Laura melihat Renggra dengan santainya membuka semua pakaiannya.


"Ganti pakaian sayang."


Laura melihat ke arah lain. "Mamas nggak malu apa, ada aku di sini." ucap Laura merasa malu.


"Untuk apa malu, Yang. Apa yang Mamas punya milik kamu, dan sebaliknya apa yang kamu punya milik Mamas. Jangan lupa, bahwa kita telah menjadi suami istri secara hukum dan agama." jelas Renggra berucap.


"Iya sih gue tau, tapi belum terbiasa aja." ucap batin Laura.


"Mamas ke sebelah dulu." selesainya berpakaian.


"Iya Mas."


Renggra mendekati Laura dan menunduk, memejamkan mata.


Laura bingung dengan tingkah Renggra, yang berhenti di hadapannya. "Mamas kenapa?"


"Kasih baterai, Yang."


"Maksudnya?"


Renggra menunjuk bibirnya, memberi kode. "Cepetan Mamas banyak kerjaan, butuh baterai full agar semangat kerjanya." pinta Renggra.


"Tapi, Mas." Laura merasa malu.


Renggra Berdiri. "Hmmm, iya udahlah." jalannya langsung ke arah pintu.


Ceklek!


Dup!


Dirinya merajuk, Laura tidak memberikan ciumannya.


Sedangkan Laura hanya diam, bingungnya dengan tingkah Renggra yang mudah sekali marah.


Renggra berjalan ke ruang sebelah dengan wajah datar, berbeda dengan awal dirinya masuk.


"Maaf Reng, gue ganggu." ucap Angga yang masih merasa kurang nyaman, melihat reaksi Renggra yang datar saat melihat dokumen.


"Hmmm, nggak apa-apa santai aja." masihnya dalam kesal, atas Laura yang belum memberi ciuman.


"Iya Reng."


Mereka berdua mulai fokus ke pekerjaan.


25 menit selesai. "Ga, ini semua udah gue revisi dan tanda tangan. Silahkan elu kasih ke bagian humas." perintah Renggra.


"Hmmm, iya Reng."


Angga berdiri mengambil dokumen, perginya ke ruang lain, sedangkan Renggra kembali ke ruangan di mana Laura berada.


Ceklek!


Renggra melihat Laura memainkan handphone.


"Hmmm, Mamas udah selesai?" Laura menyimpan handphonenya kembali ke dalam tas.


"Hmmm, ayo pulang." Renggra terlihat datar, berjalan duluan meninggalkan Laura.


Laura tersenyum-senyum melihat Renggra yang memberi respon kurang baik. Marahnya itu membuat Laura semakin bahagia, dirinya mengikuti jalan Renggra dari belakang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2