
Pergelangan kaki Magisna bertambah sakit setiap kali ia melangkah. Berapa lama lagi kita berada di bawah sini? tanyanya dalam hati. Rasa dingin menjalari seluruh tubuhnya.
Terowongan itu mulai melereng ke bawah.
Magisna mendengar bunyi air mengalir.
"Kita balik lagi ke tempat kita mulai," teriak Dika.
"Hebat, Hendra! Hebat bener," gumam Novi menggerutu.
Hendra berbalik dengan cepat. "Lu pikir lu bisa melakukan yang lebih baik?"
Novi memandang sekilas ke arah terowongan melalui bahunya. "Enggak," sahutnya.
"Yang lain?" Hendra bertanya lagi.
Magisna menggelengkan kepalanya. Begitu pula Dika dan Alexza.
Apa yang sebaiknya kami lakukan sekarang? Magisna bertanya-tanya dalam hati. Ia memeluk tubuhnya sendiri, mencoba menenangkan diri.
"Gua kata juga mending nyeberang," Hendra memberitahu. "Kalo kita balik, kita cuma bakal muter-muter ke sini lagi."
Magisna memandangi kolam air yang kotor di depan mereka. Ia melihat tikus-tikus. Makhluk mengilap berwarna cokelat dengan ekor merah muda yang gemuk. Mereka berenang bolak-balik, memakan gumpalan kertas yang membusuk.
"Hendra bener," kata Dika. "Terowongan ini terkait mencakup seluruh area perkebunan. Pasti ada banyak jalan keluar. Kalau kita nyeberang, kita mungkin bakal nemu salah satunya."
"Kita masih gak tau seberapa dalemnya tu kolem," protes Alexza.
Magisna memperhatikan obor Hendra menerangi sesuatu di tanah di belakangnya.
"Liat deh. Ada botol di atas aer," teriak Magisna.
"Terus?" tanya Alexza sinis.
"Botol itu ada di tanah. Gak ngambang di aer."
"Sapa yang peduli soal botol yang konyol?" tanya Alexza.
Hendra menyorongkan obornya ke atas kolam sambil memandang ke dalam kegelapan. "Gisna bener," katanya. "Di situ tanah kering---itu langkan kecil. Aernya gak sepenuhnya ngelewatin terowongan."
"Hebat," gumam Alexza setengah menggerutu.
"Apa dia cukup lebar buat kita jalan di atasnya?" tanya Novi.
"Cuma ada satu cara buat mengujinya," kata Hendra. Ia melangkah ke atas langkan itu. Magisna melihatnya sedikit limbung. Ia melangkah lagi. "Gak terlalu parah kok," komentarnya. "Agak sempit sih, tapi keliatannya langkan ini sampai ke seberang kolam. Ikutin gua!"
"Jangan becanda," erang Alexza.
Hendra melangkah lagi. Lalu ia berhenti, seraya memperhatikan langit-langit.
"Hujan deres," katanya.
"Peratiin obornya," saran Dika.
"Gak masalah," jawab Hendra. Ia menunduk melalui curahan air dan melompat ke ujung seberang langkan. "Selesai," katanya. "Lebarnya satu meter lebih. Langkan ini sepenuhnya menyeberangi kolam."
__ADS_1
"Gua gak ikut," debat Alexza. "Gak usah ya."
"Lu mau keluar dari sini, kan?" tanya Hendra.
"Menjijikkan!"
"Berdiri aja di atas langkan. Lu gak bakal basah."
"Gak mau."
"Gisna pasti mau," kata Hendra pada Alexza. "Iya kan, Gis?"
Akankah dia melakukannya?
Magisna mengambil napas dalam-dalam. Ia harus melakukan ini. Inilah kesempatan untuk keluar dari tempat ini.
"Bagus," kata Alexza sinis. "Lu bisa jatoh, tau."
Magisna memandang pada Hendra melalui kolam. Mungkin satu meter lebih lebarnya, kata Hendra. Langkan kering melintasi seluruh genangan air.
"Gimana, Gis?" desak Alexza.
"Oke, gua jalan," Magisna mengumumkan.
Dari mulut Alexza keluar bunyi menjijikkan. Magisna berjalan pincang ke depan, mencoba melangkah dengan percaya diri meskipun pergelangan kakinya sakit.
Ia melangkah ke atas langkan. Cadasnya kelihatan kuat. Ia mengayunkan langkah di atas kolam. Air membasahi kakinya. Ia melangkah lagi. Langkan itu menyempit.
"Cepet!" teriak Dika.
"Cepetan!" Dika bersikeras.
Magisna mencoba bergerak lebih cepat. Ia hampir di tengah kolam sekarang. Air membasahi langkan, membuat sepatu karetnya basah kuyup. Sekali dua kali ia hampir kehilangan keseimbangan. Tak ada satu pun yang dapat dijadikan pegangan kecuali dinding---licin oleh air.
"Lu gimana, Nov?" panggil Hendra. "Lu berikutnya?"
"Gua jalan," sahut Novi tanpa ragu.
Magisna terpaku. Kolam itu adalah air hujan asli bersuhu lumpur salju di musim dingin.
"Cepetan, Konah!" Dika berteriak tak sabar.
"Lagi gua usahain, Setan!" Magisna mendongak dan mendapati Hendra tengah menatap ke dalam matanya. Hanya jarak pendek yang memisahkan mereka.
"Jangan dengerin si Dika," kata Hendra dengan tenang. "Konsentrasi aja, jaga keseimbangan. Tinggal dikit lagi kok."
Magisna mengangguk. Ia melangkah ke depan. Ia terus memandangi Hendra. Ia melangkah lagi.
Sesuatu---sebuah tangan kecil abu-abu pucat berkuku runcing berwarna hitam, menyentuh pergelangan kakinya.
Magisna melompat seraya menjerit.
Ia berusaha menjaga keseimbangannya. Dengan cepat, ia mengayunkan kakinya ke depan. Kakinya mendarat pada sesuatu yang bundar dan menggeliat. Makhluk itu berlari di bawah kakinya, membuatnya terjengkang ke belakang.
Sepatu karetnya menginjak tepi langkan---dan tergelincir.
__ADS_1
Magisna terjatuh ke dalam air. Ia mencoba berteriak, tapi mulutnya tersedak cairan busuk.
Sesuatu yang kenyal dan berminyak menyentuh pipinya.
Tikus!
Magisna merasakan cakar-cakar kecil merayap naik ke lengannya. Ke punggungnya.
Mereka semua mengerubungiku!
Ia berbalik dan menyentakkan tangannya, mencoba mengibaskan tikus-tikus itu dari tubuhnya. Air kotor memenuhi hidung dan mulutnya.
Ia memaksa dirinya untuk berkonsentrasi.
Tapi sekonyong-konyong sepasang tangan kurus melingkar di pinggangnya.
Magisna menjerit sekuat tenaga, tapi lagi-lagi air kotor memenuhi mulutnya.
Jangan panik, perintahnya pada diri sendiri. Kolam ini tidak terlalu dalam! Aku takkan tenggelam! Pertama-tama keluar dari air. Lalu menangani tikus-tikus itu, dan sepasang tangan ini... Yang mana dulu?
Sebuah tangan lain menggapai lengannya. Lalu satu lagi.
Kepalanya muncul ke permukaan kolam. Ia menengadah dan mendapati Hendra tengah merunduk di atas kepalanya. Hendra menarik tubuhnya keluar dari air.
Dan seketika itu juga sepasang tangan kecil yang melingkar di pinggangnya terlepas---menghilang tanpa bekas.
Magisna merenggut seekor tikus dari bahunya dan melemparkannya ke dalam air. "Ada lagi, gak?" teriaknya panik. "Singkirin mereka dari gua!"
"Udah. Udah pergi," kata Hendra padanya. "Udah gak ada. Oke? Kalem!"
Magisna terbatuk dan meludah. Air kotor rasanya sungguh tak enak!
"Peruntungan lu lagi jelek, Gisna," kata Hendra sambil cengengesan.
"Oh, ya?" dengusnya. Ia memeras bagian bawah sweater-nya, tapi tak begitu membantu. Pakaiannya basah kuyup. Pergelangan kakinya berdenyut-denyut dan siku tangannya terasa semakin perih.
"Mungkin kalo kita tinggal di sini rada lamaan, lu bakal kering," Hendra menawarkan.
Magisna mengerutkan dahinya seraya cemberut. "Nggak lucu," rutuknya.
"Ini," ujar Hendra seraya melepaskan jaket tentaranya. "Pake, nih. Minimal lu gak bakal kedinginan."
Magisna mengenakan jaket itu dan membungkuskannya ke tubuhnya. Besar sekali, tapi terasa hangat karena habis dipakai Hendra.
"Thanks," katanya pada Hendra, berusaha tersenyum. "Ini membantu sedikit."
"Hei!" teriak Alexza---terdengar sangat kesal. "Gua udah boleh tepuk tangan belom?"
"Lu mau nyeberang gak?" Hendra balas bertanya. "Tapi jangan nginjek tikus. Dan jangan coba-coba jatoh."
Magisna mengamati ketika yang lain berbaris menyeberangi langkan. Dika menyeberang dalam tiga puluh detik. Novi bergerak perlahan, tapi tanpa ragu-ragu. Alexza melangkah setapak demi setapak, sembari merapatkan tubuhnya pada dinding.
Gak adil, pikir Magisna. Kenapa cuma aku yang harus berenang?
"Jadi," kata Hendra. "Gimana kalo kita pergi. Kita harus cari jalan keluar, terus keluar dari sini. Lu siap kan, Gis?"
__ADS_1
Magisna mendesah pendek dan mengangkat bahu. "Kenapa enggak? Mungkin keadaannya gak bakal lebih buruk lagi."