
"Macan kumbang tadi tunggangan Nyi Ageng," jelas Agustin setelah mobil mereka dapat berjalan, sementara hujan kembali membadai.
"Siapa Nyi Ageng?" Magisna bertanya sembari menggigil dalam balutan jaket tentara Hendra yang tak lagi kering. Hendra menyelimuti dirinya dengan jaket Agustin, sementara Agustin sendiri hanya mengenakan kain yang dililitkan di seputar bahunya.
Gaya berpakaiannya memang sedikit kampungan, pikir Magisna. Gaya bicaranya juga baku. Tapi dia lumayan.
Cara Agustin mengemudi membuatnya nyaman. Pembawaannya yang tenang memberikan sedikit kekuatan dan keberanian.
"Nyi Ageng itu semacam penjaga tanah perkebunan," jelas Agustin.
"Maksudnya Centeng?" tanya Magisna lagi.
"Bukan," sahut Agustin seraya tersenyum tipis. "Mungkin lebih tepat dikatakan juru kunci, tapi lebih dari itu, Nyi Ageng juga makhluk spiritual."
"Maksud lu hantu?" Hendra menyela mereka.
Agustin menoleh sekilas ke belakang dan mendesah. "Nyi Ageng belum meninggal dunia," jelasnya. "Begitu pun suaminya."
Magisna memicingkan matanya.
"Maksudku tunggangannya!" Agustin meralat perkataannya.
"Kerud itu suaminya?" Magisna menimpali.
"Ya," jawab Agustin. "Mereka berdua manusia istimewa."
Hendra tergelak di belakang mereka. "Dengan kata lain, Nyi Ageng menunggangi suaminya? Apa istimewanya? Semua istri juga menunggangi suaminya!"
"Hendra!" Magisna memarahinya.
Agustin tersenyum simpul. "Mereka bukan manusia biasa," katanya. "Lebih tepatnya manusia setengah dewa. Pengendali waktu dan cuaca."
Magisna terhenyak. Jadi waktu yang terhenti dan cuaca yang tiba-tiba berubah tadi memang dikendalikan oleh makhluk itu?
Hendra mencebik seraya memalingkan wajahnya ke samping, menyandarkan punggungnya ke jok dan memeluk dirinya sendiri.
Magisna meliriknya sekilas.
Keheningan menyergap mereka selama beberapa saat. Mobil itu melaju mulus dan sampai di jalan yang lurus.
__ADS_1
Minimal aku sudah tahu siapa yang payah dalam mengemudi, pikir Magisna. Ais sampai tertidur di jok belakang meski hujan masih sangat deras.
Hujan badai itu tampaknya terus menerjang ke kaca depan, seolah sedang mencoba menghantam mereka.
Rasa dingin semakin menyiksa Magisna. Perjalanan itu seperti takkan berakhir. Di mana ujung jalan ini? pikirnya.
"Kita hampir sampai di kaki bukit," kata Agustin akhirnya.
"Gak jadi puter balik nih?" Hendra bertanya setengah menyindir.
Agustin diam saja. Tetap fokus pada jalan di depan mereka.
Jalanan kembali lurus ketika mereka sampai di lembah, tapi hujan turun makin lebat. Dan mereka masih belum melihat kendaraan lain, baik di depan atau di belakang.
"Rasanya aku ingat jalan ini," kata Ais tiba-tiba. Ia menarik punggungnya dari sandaran jok kemudian menurunkan tudung jaketnya. "Tak jauh dari sini, ada jalan pedesaan. Beloklah ke kiri dari jalan ini dan ikuti saja. Jalan ini pada akhirnya akan sampai pada tujuan yang sama."
"Hah? Jalan pedesaan? Apa maksudnya jalan pedesaan?" Hendra melotot pada Ais. "Masih ada jalan pedesaan di jalan pedesaan?"
"Ini jalan raya," tukas Ais.
"Ini jalan raya?" Hendra mengembangkan telapak tangan di sisi bahunya, menunjuk ke arah jalan.
Hendra membeliak seraya mendengus.
Hendra dan Magisna memang belum lama tinggal di desa perkebunan. Keduanya baru pindah dari kota.
Hendra pindah ke daerah perkebunan itu karena alasan khusus terkait tingkah lakunya yang sulit diatur. Jadi orang tuanya mengirim Hendra ke kampung halaman ayahnya dan menitipkan Hendra di rumah kakek dan neneknya untuk sekolah di sana.
Berbeda dengan Magisna, kedua orang tuanya pindah ke desa perkebunan itu karena urusan pekerjaan dan menetap di perumahan yang sedikit agak jauh dari sekolah.
Ini adalah perjalanan terjauh untuk kedua pendatang itu.
Dan Magisna lebih memilih percaya pada Ais dan Agustin.
Tapi Hendra sepertinya bukan tipe orang yang mudah diajak bekerja sama kecuali sebagai "Bos". Dia bisa dekat dengan Dika dan Alexza karena mereka berdua memperlakukan Hendra seperti pemimpinnya. Tapi di sini, sekarang, tidak ada perlakuan khusus. Ais dan Agustin kelihatannya saling menghormati satu sama lain. Dan Hendra merasa kehilangan taringnya. Yang ia lakukan sepanjang perjalanan hanya cari gara-gara. Berusaha memperlihatkan bahwa ia lebih hebat. Betul-betul kekanak-kanakan, pikir Magisna.
Hendra diam dan cemberut dengan raut wajah frustrasi.
Magisna menatapnya dengan prihatin. Jadi, katanya dalam hati. Apa sekarang kau mulai merindukan teman-temanmu?
__ADS_1
Magisna mendesah berat untuk mengenyahkan rasa perih di dalam dadanya. Meski tak terlalu dekat dengan Novi, Dika maupun Alexza, mengingat mereka direnggut di depan matanya, tak elak menyakitkan hatinya juga. Bahkan Pak Isa yang dibencinya. Akankah aku melihat mereka lagi? pikirnya sedih.
Apakah mereka masih hidup?
Ketika mereka sampai di persimpangan seperti yang dikatakan Ais, Agustin berbelok ke kiri. Ban-ban mobilnya berdecit. Mobil itu hampir saja berputar selip. Tapi dengan gesit Agustin berhasil meluruskannya lagi. Dan mereka akhirnya menuju ke jalan pedesaan yang sempit.
Magisna menoleh ke samping, menatap melengak keluar mobil. Merasa aneh bagaimana semua warna bisa menghilang dari dunia ini.
Menghilang seperti Novi dan yang lainnya, kenangnya getir.
Ketika ia menoleh kembali ke depan, ia melihat sebuah Triton Athlete melesat ke arah mereka. Meski dalam hujan yang membuih, ia bisa melihatnya dari kaca depan. Tiba-tiba ia merasa segalanya seperti berlangsung dalam gerak lambat.
Triton Athlete itu membunyikan klaksonnya dengan keras, tapi suaranya teredam gemuruh hujan.
Triton Athlete itu meluncur tepat ke arah mereka. Jalanan menyempit, terlalu sempit untuk dilewati mereka berdua secara bersamaan.
Agustin menginjak rem, tapi mungkin tidak dengan cara yang baik. Mobil itu mulai tergelincir—tepat di jalan Triton Athlete itu.
Magisna membekap wajahnya. Ia mendengar klakson Triton Athlete itu lagi, kali ini lebih nyaring, lebih dekat. Suaranya memekakkan telinganya. Membuat tulang-tulangnya bergetar.
Magisna menahan napas, bersiap untuk menghadapi kecelakaan.
Lalu ia merasakan deru mobil di depan mereka seolah-olah melindas jip yang ditumpanginya. Ia merasa seolah-olah jip itu terdorong oleh angin dari mobil yang menabraknya.
"Cari mati, ya!" Teriakan menggelegar seorang pria menyentakkan Magisna. Ia menurunkan tangan dari wajahnya dan tergagap.
Seorang pria berambut panjang ikal gelombang melongok keluar dari Triton Athlete di depan mereka. Tak lama pria itu menyelinap keluar mobil dan menerjang ke arah jip mereka. "Sini kalo mau cari mati, ribut aja sama gua!" tantangnya arogan.
Magisna terkesiap, sementara Agustin diam saja. Ais dan Hendra tidak terdengar suaranya. Barangkali mereka juga terkejut dengan serangan dadakan itu.
Tapi bukan itu yang membuat Magisna membeku. Wajah pria gondrong itu mempesona dirinya.
Aku pasti sudah gila, katanya dalam hati. Bagaimana bisa dalam keadaan seperti ini dia malah terpesona oleh pria gila yang berteriak-teriak menantang mereka?
Mula-mula aku jatuh ke dalam terowongan, lalu mengalami mimpi buruk, terjebak di dalam labirin, diserang makhluk aneh yang tak jelas, kemudian terjebak jembatan roboh sampai harus memutar dan tersesat di tengah perkebunan, berputar-putar di tempat yang sama, lalu bertabrakan dengan Triton Athlete. Aku pasti mengalami gegar otak parah!
Novel ini membuatku gila!
Novel gila yang ditulis oleh orang gila!
__ADS_1