
Sekarang bagaimana?
Kami benar-benar terjebak, pikir Magisna. Tak ada mobil. Tak ada telepon. Tak ada cara untuk pulang ke rumah.
Hendra duduk di sebelah Magisna di sofa, memberikan senyuman dan tepukan yang menenangkan.
Tapi hal itu tidak membuat Magisna merasa lebih baik. Dia masih terlihat muram. "Apa lagi yang akan terjadi?" desisnya parau.
"Pasti ada cara untuk sampe di pemukiman terdekat," kata Hendra pelan.
"Ada apa ini?" Suara di koridor menyentakkan mereka.
Magisna memekik tertahan dan menahan napas.
Gabe berdiri menatap mereka dengan rahang mengetat dan mata terpicing.
"Teleponnya rusak," jawab Hendra. "Dan… mobilnya—"
Gabe bergegas ke meja telepon, mengangkat gagang telepon dan mendengarkan. "Teleponnya baik-baik saja sewaktu badai," erangnya sembari membanting gagang telepon.
Magisna menelan ludah dengan susah payah ketika Gabe berbalik ke arah mereka.
Hendra meliriknya penuh tanda tanya. Dia belum tahu cerita tentang Gabe. Magisna belum memberitahunya.
"Di mana teman-teman kalian?" Gabe bertanya seraya mengedar pandang.
Hendra dan Magisna terdiam. Mereka juga tak yakin ke mana perginya Ais dan Agustin.
"Kalian tidak mau mengatakan yang sebenarnya?" desak Gabe.
"Kita juga gak tau di mana Ais sama Agustin," sergah Hendra seraya berdiri. "Tapi mobil kita ada di jurang!"
"Apa?" Gabe terbelalak. "Apa ini semacam lelucon?"
Hendra menggeram tak senang. "Apa kita keliatan lagi cengengesan?"
Gabe mendesah pendek dan berpikir keras. "Baiklah," katanya. "Aku tak ingin orang tua kalian bingung. Kurasa sebaiknya aku mengantar kalian."
"Anda punya kendaraan?" Hendra bertanya setengah bersorak.
"Yeah. Ada di gudang," kata Gabe.
Tiba-tiba Magisna menyadari kecurigaannya mungkin keliru. Gabe mungkin berbahaya, tapi tidak mungkin dia membunuh lima orang sekaligus dan mendorong dua mobil sendirian. Bagaimanapun dia hanya seorang perempuan.
Gabe bergegas ke kamarnya dan kembali tak lama kemudian, dengan mengenakan jaket tentara.
Dia memang tampak berbahaya, pikir Magisna. Tapi benarkah dia seorang pembunuh?
"Temen-temen gua mungkin dalam bahaya. Kayaknya kita udah ketauan," kata Jati tadi malam. Dan sekarang Jati juga menghilang. Mobilnya terperosok ke dalam jurang bersama mobil Agustin.
Apa sebenarnya yang terjadi?
Gabe membimbing mereka ke halaman belakang. Hendra dan Magisna mengikutinya tanpa bicara.
Di belakang pondok itu ada gudang yang terbuat dari kayu lapuk yang tampaknya tidak dicat selama bertahun-tahun.
Segumpal awan kelabu perlahan melayang turun ke arah mereka dari utara, tapi sebagian besar langit masih berwarna biru cerah.
__ADS_1
Gabe membuka pintu gudang dan menyalakan lampu neon panjang yang menempel pada kasau.
Ketika cahaya biru-kelabu menyala, tampaklah sebuah Jeep. Magisna tak pernah merasa sebahagia itu melihat kendaraan.
Bagaimana dengan Ais dan Agustin? katanya dalam hati. Apakah kami akan meninggalkan mereka begitu saja?
Di dalam gudang, udaranya sedikit lebih hangat, tetapi sedikit pengap dan berbau manis. Lantainya keras dan ditutupi jerami.
Gabe menyelinap di belakang kemudi. Memasukkan kunci ke lubang kontak, menempatkan kakinya pada kopling dan memasukkan perseneling netral, lalu memutar kunci.
Sunyi.
Tidak terdengar apa-apa.
"Aneh," gumam Gabe seraya menautkan alisnya.
"Apa posisinya udah netral?" tanya Hendra dari jok belakang.
Gabe menoleh pada Hendra dengan raut wajah kesal. "Tentu saja netral," dengusnya sedikit ketus.
"Coba lagi," kata Hendra, mengabaikan kemarahan Gabe.
Magisna menyelinap dari pintu lain, dan mendarat di sampingnya.
Gabe memutar kunci lagi seraya menekan pedal gas kuat-kuat.
Tetap tidak ada reaksi. Tidak ada deru mesin, bahkan bunyi mesin yang terbatuk-batuk.
Benar-benar sunyi.
Gabe menggeram tak sabar dan melotot pada Hendra. "Dengar, anak muda. Kau tak perlu mengguruiku cara mengemudi mobilku sendiri!"
"Persenelingnya pasti beku," sergah Hendra. "Itu sering terjadi. Mobil ini mungkin gak pernah dipanasin selama cuaca dingin. Coba gerak-gerakin."
Gabe cemberut dan memukul kemudi dengan marah. Tapi dia mengikuti saran Hendra.
Mesinnya berdesis, kemudian mati.
"Kau percaya?" Gabe melotot pada Hendra melalui kaca spion depan.
Hendra mengangkat kedua bahunya sekilas dan tak mengatakan apa-apa lagi.
Dengan marah, Gabe membuka pintu, melangkah turun dari mobil, membanting pintu di belakangnya, dan bergegas pergi ke arah pondok, meninggalkan kami yang hanya melengak di dalam Jeep yang mogok.
Di luar, angin bertiup bertambah kencang dan langit sekarang bertambah gelap.
Bahkan jika seandainya kami berhasil keluar dari sini, bisakah kami segera pulang sebelum terjebak hujan? pikir Magisna.
Hendra melompat dari Jeep dan melihat keluar.
Hujan benar-benar turun.
Kami benar-benar terjebak, kata Magisna dalam hati. Kali ini ia tak dapat menenangkan diri.
.
.
__ADS_1
.
Hendra mencongkel-congkel api, membolak-balik kayu. Nyala api menyambar dan mendesis, cahayanya berkelap-kelip pada matanya yang cokelat gelap.
Setelah gagal menghidupkan mesin mobil tadi, Gabe akhirnya menyerah begitu hujan mulai turun dan menyiapkan sarapan untuk mereka.
Magisna membantunya mencuci piring setelah sarapan. Begitu ia kembali ke ruang duduk, Gabe sudah tidak ada.
Magisna bergabung di samping Hendra di depan perapian, untuk menghangatkan badan. "Gabe ke mana?" tanyanya seraya menggosok hidungnya. Rasanya sudah tidak terlalu beku, pikirnya.
"Ke gudang," kata Hendra seraya menempatkan balok kayu lainnya ke dalam api dengan hati-hati.
"Ngapain?" tanya Magisna lagi.
"Ngotak-ngatik Jeep bututnya kali!" sahut Hendra sembari mengambil tongkat besi dan mendorong balok kayu ke dalam nyala api yang terbesar. Tak lama dia meletakkan kembali tongkat besi itu dan berjalan ke arah jendela yang menghadap ke halaman depan. "Menurut lu, Ais sama Agustin sebenernya ke mana?"
Magisna hanya tergagap menanggapi pertanyaan Hendra. Tak yakin bagaimana menjawabnya.
"Cowok semalem…" Hendra menoleh menatap Magisna. "Ngapain dia di kamar lu?"
Magisna mengerjap dan menelan ludah. "Dia ngasih tau gua supaya kita cabut dari semalem," jelasnya terbata-bata. "Gua gak ngerti maksudnya, tapi dia bilang…" Magisna memelankan suaranya. "Gabe berbahaya?"
Hendra mendengus seraya memutar-mutar bola matanya. "Dan lu percaya?"
Magisna tertunduk. Entahlah, katanya dalam hati. Tak yakin harus percaya pada siapa sekarang.
Beberapa saat lalu, Gabe sudah menunjukkan itikad baiknya. Dan sekarang dia berusaha mati-matian untuk memperbaiki kendaraannya.
Gabe sepertinya tidak terlalu jahat, katanya dalam hati.
Tapi apakah Gabe benar-benar bisa dipercaya?
Ais dan Agustin masih belum ditemukan sementara Jati dan teman-teman juga tak jelas keberadaannya.
Dan kedua mobil itu…
Siapa yang mendorongnya ke jurang?
Tidak, kata Magisna dalam hati. Gabe bahkan baru menyadari Ais dan Agustin menghilang setelah bergabung dengan Hendra dan Magisna. Dia juga tidak tahu apa-apa soal mobil itu.
"Ini aneh," kata Hendra sembari berjalan ke arah Magisna.
Ya, Magisna setuju. Ini memang aneh.
Tapi apa yang bisa mereka lakukan?
"Mereka bertengkar hebat semalem," bisik Hendra. "Senja gak pernah keluar lagi."
Magisna terhenyak mendengar penuturan Hendra. Dia belum tahu kebenaran tentang Senja, ia baru ingat. Magisna belum memberitahu Hendra.
Magisna membuka mulutnya, bersiap untuk mengatakan yang sebenarnya. Tapi suara langkah di koridor membuatnya tercekat.
Senja muncul sembari menguap, berdiri limbung dan menopangkan sebelah tangannya pada bingkai pintu.
Hendra mendesah lega, sementara Magisna menahan napas.
Waktu makan siang bahkan belum tiba, pikir Magisna. Dan hantu itu sudah muncul?
__ADS_1