
"Lexza? Hendra?" panggil Magisna dalam kegelapan.
Tak ada jawaban. Ia merangkak naik ke atas gundukan dan memandang tajam ke dalam lubang.
Gelap total.
Pada mulanya.
Magisna mengerjap. Apakah ia tertipu oleh penglihatannya?
Garis bentuk tangannya sendiri yang putih tampak mencuat pada latar belakang tanah hitam di depannya.
Ia mengangkatnya dan menekuk jari-jarinya. Kotoran dan kerangka tadi memenuhi buku jarinya.
Dari mana datangnya cahaya itu?
Sebuah tangan mendarat di pundaknya.
Magisna memekik dan berputar, menendang dengan liar. Sosok itu berdiri di depannya memegang lampu putih menyilaukan.
Magisna menjerit dan mengatupkan kedua matanya lekat-lekat.
"Pergi! Pergi!"
Ia mengayunkan tinjunya, tapi ia tidak memukul apa pun. Cahaya itu terlalu terang.
"Eka!" hardik suara itu, terdengar berat dan datar.
Magisna berhenti menjerit dan membuka matanya. Melalui debu dan air matanya, ia mulai melihat sosok yang kabur. Ia mengerjap ketika matanya mulai membiasakan diri dengan cahaya silau itu.
Pelan-pelan, sosok itu mulai masuk ke dalam fokus penglihatannya.
Pak Isa!
Pada satu tangannya ia memegang lentera yang biasa digunakan untuk berkemah. Setelan jas hitamnya yang sempurna terlihat kusut dan kotor. Bibir bawahnya bergetar ketakutan.
"Kamu harus keluar dari sini," katanya tergagap. "Mana yang lain?"
"Saya gak tau," sahut Magisna sekenanya. "Mati... saya gak tau."
"Apa?" erang Pak Isa. Bahunya merosot. "Tidak!"
"Ada sesuatu di bawah sini---" Magisna mulai berbicara.
"Cepat," sela Pak Isa. "Kita harus pergi."
"Tapi---"
Separuh bagian atas tubuh Hendra menyeruak keluar dari mulut lubang. Ia mencakar tanah itu dan memukulnya dengan kepalan tengannya, sambil berusaha mati-matian melepaskan dirinya.
"Dia... nangkep gua!" jeritnya.
"Tolong dia!" teriak Magisna pada Pak Isa. Ia melemparkan dirinya ke arah lubang. Menyambar tangan Hendra yang terulur.
Pak Isa meletakkan lentera dan menangkap tangan Hendra yang satunya lagi. Makin banyak tanah yang membanjiri mereka, runtuh dari langit-langit. Kepala Hendra menghilang di bawah gundukan. Yang dapat dilihat oleh Magisna hanya lengannya.
"Dia bisa mati lemas!" teriak Isa.
"Lebih buruk dari itu," gerutu Magisna.
Kepala Hendra akhirnya terbebas dari longsoran tanah. Ia muntah dan menghirup napas.
"Dapet!" kata Magisna, hampir-hampir menangis lega.
__ADS_1
Tubuh Hendra keluar bebas dari terowongan.
Ketiganya berguling dari gundukan itu dan jatuh ke lantai semen.
"Di mana dia?" Magisna melengking, sambil berputar ke arah terowongan.
Raungan memekakkan menenggelamkan suaranya.
Di belakang mereka, satu ton tanah basah runtuh dari langit-langit. Mulut terowongan ambruk.
"Langit-langit longsor!" teriak Magisna.
Ia belum pernah melihat longsoran tanah sebanyak ini. Terus berjatuhan. Ia menabrak Pak Isa ketika berlari menyingkir.
Longsoran itu akhirnya berhenti.
"Udah berakhir," teriaknya. "Kabut itu terperangkap!"
Magisna memelototi tanah raksasa di depannya. Kurang dari semenit yang lalu, ia berada di sisi lain dinding ini, berjuang melawan maut.
Beginilah, pikirnya. Sudah selesai. Kabut itu terperangkap. Sekarang kami bisa keluar dari sini!
Hendra mengerang di dekat kaki Magisna. Magisna dan Pak Isa membantunya berdiri.
"Apa yang terjadi sama Lexza?" tanya Magisna.
Hendra menelan ludah dengan susah payah. "Dia ilang!"
"Apa maksudnya hilang?" tanya Pak Isa. "Di mana yang dia? Di mana yang lainnya?"
Hendra dan Magisna bertukar pandang.
Mata kepala sekolah itu menyipit. "Apa yang terjadi di bawah sini?"
Wajah Pak Isa memucat. Kepala sekolah itu terbelalak ke arah mereka. "Tiga belas orang... apa yang kamu bicarakan?"
Magisna melangkah ke depan Hendra sebelum ia meledak. "Dika, Novi, dan Alexza iilang, Pak," katanya. "Ada sesuatu—semacam kabut merah atau awan, keluar dari ruangan ini. Dia nyerang mereka semua dan membawanya entah ke mana."
"Belum lagi tiga belas kerangka di belakang longsoran ini," tambah Hendra.
Pak Isa mengangkat tangannya. "Tunggu sebentar," selanya. "Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi."
Magisna menceritakan semuanya kepada kepala sekolah itu. Bagaimana ia jatuh kejeblos pintu perangkap yang tersembunyi. Bagaimana Hendra mendengar legenda orang-orang yang mati. Bagaimana mereka menyentuh dinding bata---sampai dinding itu meledak di depan mereka. Bagaimana kabut merah itu keluar dan menyeret Dika pergi.
Ia menceritakan semuanya—kecuali pesan di dinding.
Pak Isa menatapnya. Mulutnya menganga. Matanya kosong, seolah-olah ia tak di sana lagi.
"Pak Is?" tegur Magisna.
Pak Isa memusatkan pandangannya pada Magisna. "Apa ini semacam lelucon?" desisnya dengan rahang mengetat.
"Apa maksud Anda?" hardik Hendra tak sabar.
Magisna menaruh tangannya di bahu Hendra. "Tenang," ia memperingatkan.
Pak Isa mengeluarkan ******* keras.
"Saya tidak tahu apa yang terjadi pada kalian hari ini. Tapi saya tahu kalian tidak seharusnya berada di sini."
Magisna tertunduk.
"Anda menyalahkan kami?" Hendra menggerutu.
__ADS_1
"Saya sudah muak dengan tingkahmu, Hendra!" hardik Pak Isa.
"Saya juga udah muak," balas Hendra. "Saya cuma mau keluar dari sini. Seluruh tempat ini sinting!"
"Saya satu-satunya yang bisa membawa kalian keluar," sanggah kepala sekolah itu. "Dan saya akan melakukannya… setelah teman-teman kalian bergabung!"
"Tapi, Pak—" Magisna berusaha menjelaskan.
Tapi bunyi bergemuruh menyela mereka. Kedengarannya seperti datang lurus melalui dinding beton di sekeliling mereka. Dinding itu mulai bergetar.
"Apa lagi sekarang?" Hendra mengerang frustrasi.
"Lelucon lain kalian lagi?" Pak Isa menggeram pada Hendra.
Perkataan kepala sekolah itu terpotong oleh ledakan tanah. Gundukan itu meledak dengan kekuatan mengerikan.
Magisna merasakan dirinya melayang. Lalu membentur dinding.
TEEEEEEEEEEEEEENG...!
Bersamaan dengan itu suara lonceng berdentang berkali-kali.
Magisna tak yakin berapa kali. Dia bahkan tak yakin lonceng itu untuk tanda apa?
Cahaya putih menari-nari di depan matanya.
Mulutnya penuh tanah. Ia muntah, sambil berguling dengan perutnya. Jari tangannya mencakar tanah berbatu di bawah tubuhnya.
Ia membuka mata.
Hendra tergeletak di sebelah kirinya dan Pak Isa di sebelah kanannya, keduanya berlumuran lumpur.
Lenteranya setengah terkubur, cahayanya suram, tapi tidak padam.
Berton-ton tanah berhamburan. Magisna bisa melihat dengan jelas ke balik ruangan yang lain. Tulang-tulang tergeletak di mana-mana. Ia mengenyahkan pasir dengan mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba memfokuskan pandangan. Ia menggosok matanya, berusaha mencari sosok Alexza di antara timbunan tulang-belulang.
Tapi yang dilihatnya membuat ia memekik dengan jantung nyaris meledak.
Kabut merah itu bebas!
Lonceng di pekarangan berdentang semakin cepat. Siapa yang membunyikannya? Bukankah hari ini tidak ada Centeng?
Gelombang merah menakutkan tumpah ke atas tanah. Udara berbau busuk menyergap Magisna hingga ia ingin muntah.
"Bangun!" teriak Magisna. Ia merangkak melewati tanah ke arah Hendra.
Hendra terbatuk-batuk dan mencoba duduk tegak. Matanya terbelalak lebar ketika melihat kabut itu. Ia melompat berdiri.
"Cabut!" perintahnya. Ia menyambar lengan Magisna dan menariknya menuju terowongan utama.
"Pak Is gimana?" teriak Magisna.
Pak Isa bergerak mendengar namanya disebut. Ia meraba-raba mencari lentera. Ia mengangkatnya dan memandang kabut merah itu.
"Mustahil," teriaknya parau.
"Lari!" Hendra berteriak.
"Ia bisa menyerang kita, Pak!" Magisna menjelaskan, sambil merenggut lengan jas Pak Isa. "Kita harus pergi sekarang!"
"Saya tidak percaya," bisik Pak Isa. "Ini tidak mungkin."
Magisna mencoba menariknya, tapi ia tak mau bergerak sedikit pun. Ia menatap lekat-lekat kabut merah tersebut.
__ADS_1